Putin Sebut Ekonomi Rusia Lebih Baik Dibanding Negara G20 Meski Disanksi Barat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Sputnik/Vladimir Smirnov/Kremlin via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Sputnik/Vladimir Smirnov/Kremlin via REUTERS

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, pertumbuhan ekonomi negaranya menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan negara-negara anggota G20 lainnya meski diterpa sanksi besar-besaran oleh Barat.

Hal ini disampaikan langsung oleh Putin dalam sesi konferensi pers, usai menghadiri pertemuan dengan majelis tinggi Dewan Federasi Rusia, pada Kamis (22/12).

Putin mengatakan, perekonomian Rusia sampai sekarang masih bertahan di tengah sanksi dan perang — tidak seperti prediksi analis Barat yang menyebut sebaliknya.

“Mengenai ekonomi, meskipun ada keruntuhan, kekacauan, dan malapetaka yang diprediksi untuk kita di bidang ekonomi, tidak ada hal semacam itu yang terjadi,” ujar Putin, seperti dikutip dari Russia Today.

Pemimpin berusia 70 tahun itu kemudian menambahkan, berbagai sektor perekonomian esensial seperti pasar tenaga kerja dan keuangan negara sampai sekarang masih dalam kondisi stabil.

“Selain itu, Rusia menunjukkan hasil yang jauh lebih baik daripada banyak negara G20, dan menunjukkannya secara konsisten,” imbuhnya, mengacu pada indikator ekonomi makro.

Atas pencapaian ini, Putin berterima kasih kepada seluruh pihak yang berperan dan berada di pemerintahan, bisnis, serta pelaku ekonomi lainnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin memeluk seorang prajurit di pusat pelatihan Distrik Militer Barat untuk pasukan cadangan yang dimobilisasi, di Wilayah Ryazan, Rusia Kamis (20/10/2022). Foto: Russian Defence Ministry/Reuters

“Semua ini bukan hasil dari sesuatu yang jatuh dari langit. Ini adalah hasil kerja pemerintah, tim regional, bisnis, dan semangat keseluruhan dalam masyarakat, yang menunjukkan persatuan dan keinginan untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan,” tutur Putin.

Sejak Putin mengerahkan pasukannya ke Ukraina lebih dari 10 bulan lalu, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa telah menjatuhkan serangkaian sanksi ekonomi yang diharapkan mampu mencekik perekonomian Rusia dan menghentikan pendanaan perang.

Sanksi itu terdiri dari berbagai level — mulai dari sanksi terhadap produk-produk ekspor Rusia, perusahaan perbankan dan bisnis milik Rusia di negara Barat, embargo minyak dan gas ke Eropa, sanksi terhadap oligarki Rusia di luar negeri dan sekutu dekat Putin, hingga pembatasan visa Schengen bagi warga negara Rusia.

Pembatasan harga minyak Rusia pun diterapkan oleh Kementerian Keuangan Amerika Serikat. Namun dampaknya justru menjadi bumerang — menimbulkan krisis energi di Benua Biru dan mengakibatkan keterbatasan akses penghangat bagi sebagian besar warganya selama musim dingin berlangsung.

Sehubungan dengan pernyataan Putin, maka pihaknya pun mengindikasikan bahwa seluruh sanksi-sanksi yang dijatuhkan ternyata tidak berdampak pada Rusia — tetapi justru merugikan negara-negara Eropa itu sendiri.