PVMBG: Suara Dentuman Tak Terdengar dari Pos Gunung Anak Krakatau

Sejumlah warga di Jabodetabek mendengar suara dentuman sejak pukul 02.00 WIB dini hari, Sabtu (11/4). Banyak warga yang kemudian mengaitkan fenomena ini dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (10/4) pukul 22.35 WIB.
Namun, hal tersebut dibantah oleh Kasubid Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Anak Krakatau PVMBG Hendra Gunawan. Menurut Hendra, di pos pemantauan Gunung Anak Krakatau, suara dentuman bahkan tidak terdengar.
"Letusannya itu kecil. Jadi bayangkan, kalau letusan kecil, dari pos enggak kedengaran, bisa kedengaran sampai Depok-Bogor enggak? Ini cuma sekitar 500 meter letusannya," kata Hendra kepada kumparan, Sabtu (11/4).
Menurut Hendra, untuk bisa terdengar di jarak sejauh itu, dibutuhkan letusan yang tinggi dari Gunung Anak Krakatau. Padahal, kata dia, saat ini letusan Gunung Anak Krakatau tidak terlalu besar dan hanya bersifat strombolian.
"Ini miskin akan gas. Pada jarak 2 kilometer, itu suaranya berdesis saja. Memang ada gemuruh kecil, itu pun dari jarak 2 kilometer. Kalau terdengar sampai sana (Jabodetabek), saya agak susah membayangkan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala PVMBG Kementerian ESDM Kasbani mengatakan erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini bersifat strombolian atau ringan. Bahkan, tak ada dentuman yang terdengar dari Pos Pasauran, Banten.
“Sampai pagi ini erupsi strombolian dengan lontaran lava pijar setinggi 500 meter. Namun suara dentuman tidak terdengar di Pos Pasauran, Banten,” ucap Kasbani.
Dia menyatakan saat ini Gunung Anak Krakatau masih tetap di level 2 atau waspada. “Jarak ancaman bahaya 2 km dari kawah,” imbuhnya.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan terkait penyebab fenomena suara dentuman yang terdengar di Jabodetabek.
-----
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
