PWNU DIY: Gus Yahya, Kiai Said, Gus Baha, Top, Kiai Marzuki Dibicarakan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua PBNU Said Aqil di acara diskusi "harapan baru dunia Islam" meneguhkan hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU, Jakarta.  Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua PBNU Said Aqil di acara diskusi "harapan baru dunia Islam" meneguhkan hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Muktamar PBNU ke-34 direncanakan akan digelar 23-25 Desember 2021 di Lampung. Sejumlah nama kandidat yang digadang-gadang sebagai Calon Ketua Umum (Caketum) PBNU mulai bermunculan .

Nama-nama tersebut seperti Ketum PBNU saat ini Said Aqil Siraj yang sudah menjabat 2 periode sejak 2010, KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur), Yahya Cholil Staquf, hingga KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha santer beredar bakal memimpin salah satu organisasi terbesar di Indonesia ini.

Merespons hal tersebut, Wakil Ketua PWNU DIY, KH Fahmy Akbar Idries, mengatakan sampai saat ini PWNU DIY belum rapat dengan PCNU di kabupaten/kota. Sehingga, PWNU DIY belum menentukan nama yang akan diusung.

"Sebetulnya kami sekali lagi kebetulan kita memang belum mendiskusikan itu dengan teman-teman cabang. Jadi apa istilahnya belum berani jawab secara detail," kata Fahmy saat dihubungi, Jumat (8/10).

DIY sendiri total miliki 6 suara yang terdiri dari 1 PWNU yaitu Provinsi DIY dan 5 PCNU di kabupaten/kota. Mengenai nama yang santer beredar, Fahmy mengatakan semua nama memiliki kelas dan layak jadi pemimpin.

"Kalau nama yang beredar wis kelase kabeh. Sudah kelasnya semua. Artinya bagi Yogya itu nama-nama yang beredar nama top yang memang layak. Ada Gus Yahya, Kiai Said, Gus Baha misalnya itu. Nama-nama yang memang layak menduduki jabatan itu. Kiai Marzuki juga dibicarakan," katanya.

Kantor PWNU DIY di Jalan MT Haryono, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Jumat (10/8). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dia mencontohkan, apabila kriterianya untuk menjadi Ketum PBNU ada 5, maka semua nama tadi telah memenuhi syarat. Jadi siapa pun yang memimpin tetap bagus, yang menentukan tinggal selera apakah yang dipilih pemimpin senior atau muda.

"Semua memenuhi syarat. Gitu kira-kira. Jadi ya ming kaya selera wae (seperti selera saja). Tidak ada pertentangan," katanya. Dia tak merinci 5 syarat yang dicontohkan itu.

PWNU DIY rencananya akan rapat dengan PCNU kabupaten/kota pada akhir Oktober ini. Tak hanya mengusung nama, agenda yang juga tak kalah penting adalah menyusun program kerja ke depan seperti apa.

"Program terbesar apa yang menjadi istilahnya yang akan dikerjakan NU ke depan. Kita akan melihat siapa sih sebenarnya kandidat terbaik. Kira-kira begitu istilahnya. Jadi memang ya bisik-bisik (nama kandidat) biasa," bebernya.

Sebelumnya, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic), muncul sejumlah nama yang dipilih oleh responden yang berasal dari segmen masyarakat yang memiliki kedekatan dengan NU, layak memimpin PBNU.

Nama-nama tersebut KH Marzuki Mustamar yang dipilih 24,7% responden; Disusul oleh KH Hasan Mutawakkil Alallah dengan 22,2%, lalu KH Said Aqil Siradj dengan 14,8%.

Selanjutnya, ada nama KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha dengan 12,4%; KH Yahya Cholil Staquf dengan 3,7%; KH Marsyudi Syuhud dengan 1,2%; KH Ahmad Fahrur Rozi Burhan dengan 1,2%; KH Ali Maschan Moesa dengan 1,2%; dan tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 18,5%.

Namun demikian, survei ini memiliki sejumlah catatan. Dari hasil crosed-tabulasi asal responden, Direktur eksekutif Indostrategic Khoirul Umam, menyatakan bahwa angka-angka dukungan warga Nahdliyyin terhadap nama-nama tokoh tersebut banyak disampaikan oleh warga NU berbasis di Jawa Timur.

Sehingga, menempatkan dua nama Kiai Senior asal Jawa Timur di dua posisi awal, yakni KH Marzuki Mustamar dan KH Hasan Mutawakil Alallah.