Raffi Ahmad Puji Sosok Budi Gunawan dan Buku 'Demokrasi di Era Post Truth'
·waktu baca 2 menit

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan meluncurkan buku berjudul “Demokrasi di Era Post Truth”. Influencer sekaligus presenter kondang Raffi Ahmad menilai buku karya Budi Gunawan mampu beradaptasi dengan keadaan saat ini maupun mendatang.
Di mata Raffi, sosok Jenderal Budi Gunawan sangat hebat karena bisa terus bergenerasi dan mengikuti era-era baru. Salah satunya lewat buku “Demokrasi di Era Post Truth”.
“Hebatnya Pak Budi Gunawan ini bisa terus bergenerasi. Buku ini sangat penting banget dibaca untuk anak muda, karena kalau mau sukses harus bisa beradaptasi dengan keadaan, lingkungan, dan perkembangan zaman,” kata Raffi Ahmad usai seminar launching buku “Demokrasi di Era Post Truth”, Jumat (11/12).
Raffi menjelaskan, saat ini berita hoaks sudah sangat sering ditemukan di media sosial. Hal tersebut bukan hanya menjadi musuh personal, namun menjadi musuh negara.
Apalagi, saat ini berita hoaks sangat mudah disebar, sehingga masyarakat diharapkan bisa lebih pintar dalam bermedia sosial.
“Era sekarang itu, dengan menyebarkan hoaks melalui media digital dalam hitungan detik gampang saja. Jadi kita yang harus pintar-pintar di era sekarang ini,” jelasnya.
Raffi tak lupa mengajak semua golongan masyarakat terutama kalangan muda untuk membaca buku “Demokrasi di Era Post Truth”. Karena di dalamnya terdapat banyak ilmu bermedia sosial di era sekarang ini.
“Saya Raffi Ahmad, mengajak kepada semua golongan dan kalangan muda. Sangat penting buku “Demokrasi di Era Post Truth”, untuk membimbing kita di era digital ini,” tutupnya.
Untuk diketahui, Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan menuliskan buku berjudul “Demokrasi di Era Post Truth”. Cetakan pertama diluncurkan pada April 2021 dan cetakan kedua pada Mei 2021.
Adapun buku tersebut membahas tentang disinformasi di era post-truth yang memiliki ancaman serius bagi terbangunnya demokrasi elektoral yang sehat. Bahkan, keyakinan personal lebih penting daripada fakta objektif dalam membangun opini publik, sehingga antara kebohongan dan kebenaran sulit diidentifikasi.
