Ragam Cerita Pemudik Lebaran 2025

30 Maret 2025 8:42 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pemudik kendaraan roda dua melintasi jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025).  Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
zoom-in-whitePerbesar
Pemudik kendaraan roda dua melintasi jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
ADVERTISEMENT
Setelah sebulan penuh berpuasa, tibalah saatnya bersukacita dalam hari raya Lebaran yang akan dirayakan serempak besok Senin (31/3). Beberapa pemudik telah tiba di kampung halamannya.
ADVERTISEMENT
Selain membawa kerinduan, perjalanan para pemudik ini menyajikan cerita yang seru, lucu, haru hingga pilu. Simak beberapa kisah pilihan para pemudik itu.

Ragam Curhatan Para Pemudik Motor, Cerita kena PHK hingga Curhat gara-gara Rungkad

Kisah pertama datang dari jalur mudik pantura. Di jalur yang dipadati para pemudik motor ini, beragam curhatan dan kisah mereka ditulis dalam lembar-lembar kertas yang mereka tempel di belakang motor mereka.
Pemudik menempelkan tulisan unik saat melintasi Jalur Pantura, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Ada yang menempelkan tulisan 'Maaf Pak Bu, Mudik Kali Ini Kena PHK' lalu ada pula yang menempelkan tulisan 'TETAP MUDIK Walaupun Gagal Membawa Duit "SEKOPER" "This Is RUNGKAD" Tigaraksa-Kuningan'.
Pemudik menempelkan tulisan unik saat melintasi Jalur Pantura, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Lalu ada pula yang menempelkan tulisan, 'Maaf Mak mudiknya bawa Mio harian bukan Brio modifan apalagi mantu idaman'. Tulisan ini ditempel oleh Setyawan, yang mau mudik ke Lampung.
ADVERTISEMENT
"Iya sengaja buat di jalan, biar seru saja. Mungkin ada (maknanya), kayak memang dari dulu pecinta (motor) Mio sih. Mungkin banyak orang pakai tapi kan jarang yang mau make, kayak mungkin rewel apa bagaimana, jadi kalau orang yang tidak betah mungkin sudah ganti, kalau kita sih enggak," ungkap Setyawan ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Sabtu (29/3).
Di Ciwandan itu, ditemui pula sepasang kekasih Feby dan Cia. Mereka berdua akan mudik ke Lampung. Cerita cinta mereka dipamerkan lewat tulisan yang ditempel di tas ransel yang mereka bawa.
Tulisan itu berbunyi "Si bungsu pulang kampung untuk lamaran"
Pemudik sepeda motor menuliskan pesan di tasnya yang bertuliskan 'Si Bungsu Pulang untuk Lamaran' saat Mudik via Pelabuhan Ciwandan. Foto: Dok. kumparan
Ternyata, mereka pulang ke kampung halamannya, Lampung, membawa kabar bahagia: Akan lamaran usai lebaran atau di tanggal 3 April 2025.
ADVERTISEMENT
"Kebetulan kami berdua memang anak bungsu di kelurahan," kata Feby.
Setengah tersipu malu, Feby sedikit bercerita bila dirinya mengenal Cia di Jakarta meski keduanya sama-sama berasal dari daerah yang sama, yakni Lampung.

Demi FYP, Pemudik Asal Jakarta Nekat Mudik Naik Motor Pakai Kostum Ultraman

Jika pemudik yang lain memancing perhatian dengan tulisan di belakang motornya, pemudik ini memakai kostum ultraman lengkap dengan helmnya.
Pemudik yang bernama Diki Satria ini mengejar keseruan, agar trending di media sosial. Dia berangkat dari Jakarta menuju Lampung Timur dengan kostum Ultraman.
Pemudik asal Jakarta nekat mudik pakai motor mengenakan kostum Ultraman di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (29/3) subuh. Foto: Dok.kumparan
"Saya dari Jakarta mau ke Lampung Timur. Iya (pakai kostum) sengaja buat seru-seruan aja, biar FYP," kata Diki ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (29/3) subuh.
Tapi Diki tak memakai kostum itu terus menerus. Katanya, bisa mati.
ADVERTISEMENT
""Enggak (dipakai terus), bisa mati saya. Panas soalnya. Paling di kapal ganti. Jangan di sini, malu gantinya," ujarnya.

Kisah Pemudik Purworejo Gelar Tikar di Rest Area Tol Cipali untuk Buka Puasa

Rasyid (29 tahun), seorang pemudik asal Tangerang, memilih berhenti di Rest Area KM 166 Tol Cipali untuk berbuka puasa bersama keluarganya dalam perjalanan mudik menuju Purworejo.
Dengan membawa bekal makanan dari rumah, ia dan keluarga menggelar tikar di samping mobil mereka yang terparkir, menciptakan momen kebersamaan di tengah perjalanan.
Pemudik gelar tikar untuk buka puasa di Rest Area KM 166 Tol Cipali, Sabtu (29/3). Foto: Dok. kumparan
"Kami memang sudah merencanakan buka puasa di rest area karena perjalanan masih panjang. Takut kalau bergantung pada makanan di sini, tempatnya penuh. Lebih tenang bawa bekal sendiri," ujar Rasyid saat kumparan menyapanya, Jumat (28/3/2025).
Meski sempat khawatir akan diusir oleh petugas, ia mengaku siap mencari tempat lain jika memang tidak diperbolehkan.
ADVERTISEMENT
"Tadi sempat berpikir, jangan-jangan nanti dilarang. Tapi kalau tidak boleh, ya kami maklum," tambahnya.

Cerita Pemudik Lewat Exit Tol Tamanmartani Sleman: Indah Pemandangan Merapi

Exit Tol fungsional Tamanmartani di Kabupaten Sleman jadi favorit pemudik dibanding Gerbang Tol Prambanan, Klaten Jawa Tengah. Tak hanya menawarkan kecepatan waktu, tapi juga suguhan pemandangan indah.
Nurwahyudi (25) pemudik dari Bekasi yang melintasi exit tol fungsional Tamanmartani, Kabupaten Sleman, Sabtu (29/3/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
"Pengalamannya lebih bagus ya kaya ada perjalanan mempercepat juga. Jalannya enak. Lebih cepat dari pada jalan bawah," kata Nurwahyudi (25) pemudik dari Bekasi, Sabtu (29/3).
Nurwahyudi mengatakan dirinya mudik dari Bekasi menuju Sragen, Jawa Tengah lalu ke Yogyakarta, DIY. Dia menikmati perjalanan ini apalagi ada pemandangan Merapi di sisi utara.
ADVERTISEMENT
"Indah, bagus. Dari jalan tol menuju ke sini indah. Ditemani keindahan Gunung Merapi. Tadi 30 menit dari Sragen," katanya.
ADVERTISEMENT

Cerita Pemudik 'War' Tiket Kereta untuk Pulang dari Jakarta ke Purwokerto

Sajian dan istrinya, nyaris batal mudik ke Purwokerto. Pria yang bekerja di Jakarta ini berulang kali gagal mendapatkan tiket kereta api, meski sudah berburu tiket sejak Februari.
Pemudik asal Purwokerto, Saijan, saat ditemui di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Sabtu (29/3/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
"Penginnya tanggal 25 cuma dapet tiketnya tanggal 29. Kan berebut tiket di online," ujar dia saat ditemui di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Sabtu (29/3).
Ia lalu terus berupaya cari tiket. Pada pertengahan Maret, ia tekun mencari tiket di berbagai platform. Akhirnya dapat. Ia berhasil dapat tiket kelas ekonomi karena ada penumpang yang batal berangkat.
Saking senangnya, ia tak tidur pada malam sebelum keberangkatan.
"Senang dapet tiket. Itu saya gak tidur demi berangkat," ucap dia.
Saijan pulang dari Jakarta ke Purwokerto bersama istri dan anaknya yang ketiga dengan memakai tiket kereta kelas ekonomi seharga Rp 480 ribu per orang. Tak lupa, dia turut membawa oleh-oleh makanan ringan untuk keluarganya yang berada di kampung halaman.
ADVERTISEMENT