Ragam Hoaks: Gunung Salak Terbelah Tiga hingga Penyamaran Penculik Anak

Berita hoaks masih marak ditemui di kehidupan sehari-hari. Beberapa berita hoaks bahkan heboh, dan nyaris menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Berita tersebut antara lain isu Gunung Salak yang terbelah, penculik anak yang melakukan penyamaran, hingga potensi erupsi Gunung Krakatau. kumparan telah merangkum keterangan yang benar di balik hoaks tersebut. Berikut rangkumannya:
Gunung Salak Terbelah Tiga
Informasi mengenai Gunung Salak yang terbelah tiga muncul di media sosial pertama kali pada tanggal 25 September 2020. Informasi tersebut muncul di media sosial facebook.
Informasi tersebut muncul dengan narasi sebagai berikut:
"Viral gunung Salak Jawa Barat terbelah menjadi tiga akibat longsor
Banten dan Jawa Timur juga siaga akan adanya tsunami dengan ketinggian air 20’Meter."
Kabar tersebut diklarifikasi Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati. Gunung Salak memang tampak terbelah, namun itu merupakan tanah longsor yang dipicu hujan lebat pada Senin (21/9).
Laporan Resort PTNW Gunung Salak 1 pada Kamis (24/9), curah hujan yang lebah menyebabkan debit air Sungai Cikedung meluap. Akhirnya terjadi longsoran di bibir sungai.
Tidak ada penjelasan bahwa Gunung Salak terbelah menjadi tiga setelah terjadinya longsor. Maka, kabar mengenai hal tersebut adalah tidak benar.
Pamflet Waspada Penculik Anak yang Menyamar
Muncul sebuah pamflet di media sosial yang menyertakan logo Polda Jawa Barat. Isinya meminta kewaspadaan bagi warga, tentang kemunculan penculik anak yang menyamar. Pamflet itu diiringi dengan narasi sebagai berikut :
"PERHATIAN !!!
Waspada ada Penculik Anak-anak yang berumur 1-12 tahun
Bapak-bapak Ibu-ibu Harus Menjaga Anak kita dengan hati-hati
Penculik sedang ada dalam kampung-kampung dan dia menyamar sebagai:
– Penjual
– Om Telolet
– Orang Gila
– Ibu Hamil
– Pengemis
– Dll
Tolong disebarkan
Terima Kasih"
Klaim dalam pamflet di foto tersebut sebelumnya pernah viral. NTMC Polri pernah menjelaskan melalui situs resminya pada Maret 2017 lalu.
Dilansir dari situs NTMC Polri, Polda Jawa Barat tidak pernah mengeluarkan selebaran kabar mengenai waspada penculik anak. Sehingga informasi waspada penculikan anak yang menyamar menjadi orang dalam kampung dipastikan hoaks.
Tak Benar Gunung Anak Krakatau Akan Erupsi Akibatkan Gempa 8 M
Selain muncul di media sosial, sebuah info menyesatkan juga muncul di WhatsApp group.
Info berupa voice note tersebut menarasikan tentang kemungkinan Gunung Anak Krakatau yang akan erupsi dan mengakibatkan gempa sebesar 8 magnitudo.
Berikut isi pesan yang berupa rekaman suara tersebut :
Assalamualaikum saudara-saudaraku, ini Andre. Aku baru dapat kabar dari Sekda Provinsi, beliau dapat data resmi dari BMKG yang memperkirakan kalau Gunung Krakatau itu akan ada letusan yang mengakibatkan gempa dalam waktu dekat.
Belum tahu apakah hari ini atau dalam beberapa hari atau beberapa minggu kedepan. Besarnya gempa itu diatas 8 skala richter. Yang perlu diingat, bahwa gempa di Liwa itu 6,5 (skala richter). Nah yang ini di atas 8. Artinya keluarga-keluarga kita yang ada di dekat sekitaran pantai diingatkan. Karena sekarang ini Sekda sudah memperingatkan instansi terkait di Badan Penanggulangan Bencana untuk menentukan titik-titik koordinat, titik-titik penyelamatan.
Jadi tolong untuk disampaikan ke keluarga-keluarga kita yang ada di bawah, kalau di atas 8 (skala richter) itu, kalau dulu 6,5 Liwa hancur, kalau di atas 8 itu mungkin ada yang retak-retak bangunan. Jadi mohon untuk ditindaklanjuti karena ini bukan hoax tapi data resmi. Mudah-mudahan perkiraannya salah, tapi ini perkiraan resmi dari BMKG, informasinya dari Sekda Provinsi hari ini sore ini.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Pemprov Banten, Eneng Nurcahyati, menegaskan pesan suara yang beredar itu hoaks. Eneng menyatakan, pesan suara tersebut pernah beredar usai tsunami Selat Sunda di akhir 2018.
"Rekaman itu pernah beredar usai terjadi tsunami akhir tahun 2018. Tsunami akibat longsoran Gunung Anak Krakatau yang menerjang pesisir pantai barat Banten," ucap Eneng kepada wartawan pada Selasa (29/9) malam.
Eneng pun meminta warga Banten dan sekitarnya tidak perlu panik berlebih, apalagi terprovokasi karena sumber informasi yang tak jelas asalnya.
