kumparan
16 April 2018 14:53

Ragam Model Sunat Unik: Bunga Mawar, Torpedo, hingga Jengger Ayam

Video
Pernah melihat iklan-iklan sunat di spanduk atau internet? Jika pernah, tentunya tidak asing dengan penawaran sunat dengan berbagai macam model yang terdengar unik atau lucu.
ADVERTISEMENT
Sebut saja kembang, jengger ayam, bahkan hingga kuncir kuda! Bingung atau malah tertawa mendengarnya? Pertanyaan pun terlintas, sebenarnya bisakah sunat dibentuk-bentuk seperti yang tertera di iklan-iklan tersebut?
Saat berbincang santai dengan kumparan (kumparan.com), Kamis (12/4), dr. Purnanto, dari Klinik Raja Sunatan, Jakarta Selatan, mengatakan praktik sunat dengan model-model tersebut memang ada.
“Oh itu ya, (seperti) model bunga matahari gitu ya haha. Ada sih, cuma sebenarnya kurang bagus. Tapi orang penginnya begitu. Jadi dilipat-lipat. Cuma efeknya ke jadi penyembuhannya, lebih lama biasanya,” kata dr. Purnanto.
Ilustrasi operasi (Foto: Pixabay)
Menurut Purnanto, yang dimaksud model adalah bentuk jahitan dan lipatan saat penis akan disunat. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kepuasan.
“Jahitan sama lipatannya, bentuknya. Jadi kadang-kadang enggak usah dipotong, cukup dilipat aja. Digunting, dilipat, terus dijahit. Jadi seperti gelombang-gelombang. Ya itu (untuk) kepuasan saja,” tutur Purnanto.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, penggunaan model-model dalam sunat tidak disarankan dari segi medis. Hal itu yang selalu Purnanto terangkan ketika hendak menangani pasien sunat.
“Saya terangkan itu dari segi medis kurang bagus. Untuk penyembuhan jadi lebih lama. Biasanya yang belum tahu mereka tanya aja, setelah dijelaskan (jadi) khawatir juga,” imbuh Purnanto.
Purnanto menambahkan, ia malah menangani pasien yang sudah kadung melakukan sunat dengan model-model tertentu. Tak sedikit menurutnya, pasien yang ingin memperbaiki karena kecewa dengan hasil sunat dengan model tertentu. Mereka kecewa dengan sunat model yang justru tidak memuaskan, melakukan sunat revisi di klinik Purnanto.
“Kebanyakan saya justru menerima pasien yang melakukan itu di tempat lain, malah jadi tidak bagus, akhirnya direvisi. Kebanyakan memang malah direvisi, kok malah ganggu malah jadi enggak enak,” jelas Purnanto.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan