Ragam Pandangan Pandu Riono saat Melakukan Rapat Online dengan Satgas COVID-19

Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Luhut B Pandjaitan menggelar rapat koordinasi bersama para epidemiolog, Kamis (4/2).
Rapat ini menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi agar Luhut mengajak epidemiolog membahas langkah konkret dalam menekan penularan COVID-19. Sebab penerapan PPKM ternyata tidak maksimal.
Ahli wabah UI Pandu Riono, termasuk salah satu pakar yang ikut dalam rapat tersebut. Pandu mengaku senang dan membuka diri. Ia memberikan sejumlah masukan ke Luhut soal testing dan tracing.
"Tadi rapat jam 10.00 WIB, kalau saya sih pertama kali. Ada dari IDI, Kemenkes, Satgas COVID-19, ada epidemiolog dari berbagai kampus, termasuk UI. Masing-masing presentasi 10 menit pandangannya kepada Luhut," kata Pandu.
"Yang paling utama saya sampaikan perlu lebih diperketat Tes-Lacak-Isolasi secara maksimal. Dan peran serta masyarakat harus jadi subjek penanganan pandemi," imbuh doktor lulusan University of California Los Angeles – USA ini.
Pandu mengatakan, kunci penanganan pandemi adalah kolaborasi. Masyarakat akar rumput harus disadarkan bahwa merekalah garda terdepan untuk menghentikan pandemi.
"Saya memberi masukan juga, tapi masukan saya ya bahwa kita harus mengajak seluruh elemen masyarakat. Jadi masyarakat itu garda terdepan penanganan pandemi. Ngajak masyarakat, bukan berarti ngajak kementerian-kementerian, tapi di akar rumput," tutur ahli Statistik Epidemiologi ini.
Masukan ke Luhut soal Indonesia Belum Berhasil Atasi Corona
Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo, perwakilan IDI, peneliti kampus, Kemenkes, juga hadir dalam rapat ini. Sebelum peserta presentasi, Luhut sempat menceritakan kondisi terkini penanganan pandemi.
"Pertama, Pak Luhut menceritakan apa yang dilakukan selama pandemi. Selama 10 bulan ini belum berhasillah, katanya. Saya bilang baru ini saya mendengar mengakui. (Terus dia bilang) enggak ada cara-cara mudah mengatasi pandemi, kita negara besar. Padahal India lebih besar," kata Pandu.
India belakangan bisa menurunkan kurva pandemi. Kuncinya menurut Pandu adalah testing yang benar dan cepat.
Maka dari itu, Pandu memberi masukan ke Luhut dan pemerintah. Yang pertama soal bagaimana melibatkan masyarakat dari berbagai pihak.
"Masukan saya ya bahwa kita harus mengajak seluruh elemen masyarakat. Jadi masyarakat itu garda terdepan penanganan pandemi. Ngajak masyarakat, bukan berarti ngajak kementerian-kementerian, tapi di akar rumput," tuturnya.
Minta PPKM Diperpanjang
Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sebagian Jawa dan Bali akan berakhir 4 hari lagi yakni 8 Februari 2021. Dalam rapat itu, Pandu juga memberikan masukan kepada Luhut.
"PPKM harus diperpanjang karena tidak efektif, karena PPKM kan beda sama PSBB," kata Pandu.
Menurut Pandu, PPKM bukan saja harus diperpanjang tapi diperketat aturan-aturannya. Sebab, mobilitas masyarakat juga merupakan kunci menekan penularan.
"Bukan diperpanjang aja tapi diperketat dan ditingkatkan testing-nya dan isolasinya. Bukan hanya pengetatan, kalau pengetatannya saja enggak ada gunanya," tuturnya.
Pandu menyebut, dampak dari itu semua akan terasa nantinya. Namun, jangan langsung berharap kasus akan turun secara instan.
Lalu ia menyinggung Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta yang lebih efektif tekan penularan. PSBB ketat terakhir diberlakukan September-Oktober lalu.
"(PPKM) kan (kasusnya) turunnya kelihatan sedikit dan enggak kaya dulu di PSBB efeknya kelihatan banget. Karena efeknya tinggi kan rumah sakit yang 70% langsung turun separuhnya. Sudah kelihatan banget gitu lega," tuturnya.
