Raja Angling Dharma Setia ke NKRI dan Pancasila, Pastikan Tak Menyimpang

23 September 2021 15:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Gerbang 'Istana' kerajaan Angling Dharma di Pandeglang. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Gerbang 'Istana' kerajaan Angling Dharma di Pandeglang. Foto: Dok. Istimewa
ADVERTISEMENT
Heboh di media sosial muncul Kerajaan Angling Dharma di Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, Banten. Adalah Iskandar Jamaludin Firdaus (70) yang mengaku sebagai Raja Angling Dharma.
ADVERTISEMENT
Juru bicara Iskandar, ustaz Ali, mengatakan raja itu hanya istilah. Dia meminta publik jangan menganggap serius. Karena, kata dia, Iskandar tidak menciptakan kerajaan dalam tatanan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan ideologi negara Pancasila.
Justru menurut Ali, Iskandar itu adalah orang yang sangat setia dengan NKRI dan Pancasila. Ali mengatakan Iskandar dan padepokannya serta santrinya dan juga murid pencak silatnya tidak pernah melakukan perlawanan terhadap pemerintah.
"Kami NKRI, aliran (keyakinan) kami ahli sunnah wal jama'ah. Masing-masing dari kami memakai pin Garuda Pancasila dan di padepokan juga berkibar bendera merah putih," kata Ali saat berbincang dengan kumparan, Kamis (23/9).
Ali menegaskan, jika ada tuduhan bahwa padepokan yang dipimpin Iskandar seolah menciptakan negara dalam negara, itu salah. Karena, padepokan Angling Dharma hanya melakukan aktivitas keagamaan, kesenian dan bela diri kebudayaan.
ADVERTISEMENT
Bahkan, struktur organisasinya pun juga sama dengan kerangka organisasi padepokan pada umumnya. Dia juga menegaskan tidak ada hal menyimpang, semacam membuat mata uang sendiri di dalam padepokan. Semuanya masih menggunakan rupiah.
"Jika tidak percaya kami NKRi lihat saja ke sini. Kami tidak membuat uang sendiri, itu mah harus punya mesin sendiri. Mungkin jika kamu buat uang sendiri, kegiatan sosial seperti membangun rumah tidak akan sedikit pasti ratusan yang sudah dibangun," ujar Ali.
Muncul banyak pertanyaan, dari mana sumber penghasilan raja Angling Dharma memberikan bantuan sosial dan bedah 25 warga sekitar yang membutuhkan?
Menjawab pertanyaan itu, Ali mengatakan Iskandar ini disebut di daerah sekitar sebagai 'orang pintar'. Penghasilannya didapat dari orang-orang datang yang hendak mendapat wejangan atau isyarah. Sekali datang, para tamu itu memang tidak dipatok biaya tertentu. Hanya seikhlasnya saja. Bahkan pernah ada seorang musafir dari jauh yang datang ke Iskandar dan tak dikenakan biaya.
ADVERTISEMENT
"Beliau mah kalau dapat rizki tidak pernah dimakan sendiri, selalu dibagi-bagi. Punya duit sedikit langsung beli mi instan, dibagikan ke warga, punya lagi beli semen buat bantu pembangunan rumah warga miskin," ujarnya.
Ali juga mengatakan, Iskandar memiliki banyak santri dari berbagai daerah. Seperti Bogor dan Lampung, bahkan di wilayah Kecamatan Labuan, Pandeglang.
Selain menjadi juru isyarah, Iskandar juga bersama warga sekitar bersama-sama mendirikan kesenian pencak silat di padepokannya.
"Beliau itu santrinya banyak, karena dulu beliau tasawuf. Ada warga sini yang ikut melestarikan pencak silat, datang ke sini bawa kendhang (Gendang). Terus kalau pulang dibawa lagi kendangnya, jadi padepokan ini menaungi orang-orang kesenian yang ingin berlatih, karena beliau kan tidak fanatik," ujar dia.
ADVERTISEMENT