Raja Louis IX Temui Ajal Karena Ogah Makanan Afrika

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sup khas Afrika Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Sup khas Afrika Foto: Shutter Stock

Raja Prancis Louis IX tak berumur panjang, hanya sampai 56 tahun, gara-gara tidak suka kuliner Afrika.

Hampir 750 tahun setelah kematiannya, para ahli akhirnya dapat memastikan penyebab raja Prancis yang disucikan Louis IX menemui ajalnya pada 1270.

Menurut tim ahli di bawah pimpinan ahli patologi forensik Philippe Charlier, Raja Louis IX meninggal dunia di Tunis, Afrika Utara (sekarang ibukota Tunisia), karena dia ogah makanan Afrika.

Selain itu dia juga makan hanya sedikit karena prinsip, sehingga mengalami kekurangan vitamin sangat parah dan selanjutnya menderita scheurbuik alias scorbutus yang mematikan.

Para ahli menganalisis tulang rahangnya Raja Louis IX yang tersimpan selama berabad-abad di katedral Notre-Dame, Paris. Setelah raja tutup usia di Tunis, para pengikutnya membawa jasadnya kembali ke Prancis dan dimakamkan di Basilica of St Denis, Paris.

Kemudian pascadinyatakan sebagai Santo pada 1297 beberapa bagian tubuh Raja Louis IX disimpan dengan sangat hati-hati.

Dari penelitian tulang rahang Louis IX itu terungkap jika strukturnya identik dengan tulang para pelaut ekspedisi pelayaran abad pertengahan yang mati karena penyakit scorbutus akibat diet jangka panjang yang monoton kurang vitamin dan kurang gizi, dikombinasi dengan terlalu sedikit minum air putih.

Kepala tim peneliti Philippe Charlier sebagaimana publikasi dalam Journal of Stomatology, Oral and Maxillofacial Surgery, mengatakan bahwa Raja Louis IX dalam perjalanan Perang Salib terakhirnya itu membuat kesalahan krusial.

Tunisia Foto: Shutter Stock

“Sebagaimana kebanyakan penakluk kolonial lainnya pada masa itu, Raja Louis IX tidak mau memakan makanan lokal. Padahal kuliner Tunisia yang sangat lezat diwarnai banyak ragam buah jeruk sitrun dan sayuran yang menyehatkan. Seandainya Louis mau menyantap makanan lokal, dia dapat tetap dalam kondisi prima dan berumur panjang,” ujar Charlier di Algemeen Dagblad dikutip kumparan Den Haag, Selasa (25/6).

Raja Louis IX hidup hanya mencapai usia 56 tahun. Dia menghembuskan nafas terakhirnya saat sedang misi Perang Salib pada 25 April 1270, tepat di hari ulang tahunnya.

Menurut Charlier, kekurangan vitamin terlihat dengan jelas pada tulang rahang berupa bentuk tidak normal gigi, geraham, dan tulang rahangnya itu sendiri.

“Raja Louis IX pasti menderita rasa sakit yang sangat dan meninggal dunia pelan-pelan. Akhir hayatnya sangat tragis, tapi itu salah dia sendiri,” imbuh Charlier.

Raja Louis IX tutup usia lima pekan setelah menjejakkan kakinya di bumi Afrika Utara, kini Tunisia. Keterangan bahwa setibanya di sana dia langsung sakit parah juga tertuang dalam catatan para ahli sejarah yang menuliskan kisah kehidupannya.

“Tertulis misalnya bahwa Raja dalam tahap-tahap akhir hayatnya sering memuntahkan gumpalan gusi atau gigi berdarah, suatu gejala yang merupakan bagian dari stadium akhir scorbutus,” papar Charlier.

Menurut tim ahli, bukan hanya ketidaksukaan Raja Louis IX terhadap kuliner lokal yang berakibat fatal, namun juga karena prinsip

“Pada zaman itu sudah lumrah di kalangan bangsawan yang sangat taat menjalankan ajaran agama untuk melakukan puasa dalam jangka waktu lama. Louis makan sangat sedikit. Dan kalaupun dia makan, maka makannya paling ikan saja, tidak makan buah, apalagi daging,” terang Charlier.

Penyakit scorbutus tidak hanya menimpa Raja Louis IX, namun juga ribuan tentaranya yang ikut mengiringinya dalam perjalanan misi Perang Salib ke-8.

“Gara-gara penyakit scorbutus itu seluruh perjalanan menjadi malapetaka yang komplit. Seorang teman Raja Louis IX, Jean de Joinville, menjelaskan sakitnya yang dirasakan para prajurit dengan deskripsi, ‘mereka menangis mengerang seperti kaum perempuan sedang melahirkan, jika para dokter harus mengiris daging busuk dari mulut mereka,” demikian Charlier.