Raja Malaysia Masih Berkonsultasi soal Status Darurat, Minta Warga Tak Panik

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin. Foto: AFP/Mohd RASFAN
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin. Foto: AFP/Mohd RASFAN

Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yasin, telah bertemu dengan raja Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah untuk meminta penetapan status darurat pada Jumat (23/10) kemarin.

Sejauh ini, Raja akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan semua pemimpin Melayu, sebelum mengambil keputusan atas permintaan Muhyiddin untuk menerapkan keadaan darurat. Status darurat ini tak hanya soal melonjaknya kasus infeksi corona di Negeri Jiran, tetapi juga untuk menghentikan kekacauan politik.

"Dalam pertemuan 1,5 jam itu, Sultan Abdullah dipresentasikan proposal yang diputuskan dalam rapat kabinet khusus untuk pertimbangan dan persetujuan pelaksanaan (keadaan darurat)," kata pengawas Keluarga Kerajaan Istana Negara, Datuk Ahmad Fadil Shamsuddin, dalam keterangannya, dikutip The Star, Sabtu (24/10).

Raja baru Malaysia, Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah saat menghadiri acara pelantikan di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: REUTERS/Lai Seng Sin

Fadil menjelaskan, setelah pertemuan dengan Muhyiddin, Sultan Abdullah memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan para Penguasa Melayu di Istana Negara. Pembahasan meliputi kajian usulan-usulan penetapan status darurat yang disampaikan Muhyiddin dalam presentasinya.

Selama menunggu keputusan, Sultan Abdullah berpesan kepada warganya untuk tetap tenang, tidak panik, dan bersabar.

"Setiap orang juga diimbau untuk tidak membuat spekulasi yang dapat menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran, yang mengancam perdamaian negara kita tercinta," jelas Fadil.

Raja baru Malaysia, Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa, Billah Shah mencium "keris" pada saat penobatannya di Istana Nasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: REUTERS/Departemen Informasi Malaysia

Raja juga berpesan untuk selalu mematuhi prosedur kesehatan yang berlaku, mengingat kasus COVID-19 masih terus meningkat dan menimbulkan sejumlah klaster baru.

Sebelumnya, dalam pertemuan dengan Sultan Abdullah, Muhyiddin turut mengusulkan pembubaran parlemen. Sebab, selama sebulan terakhir, Malaysia diguncang krisis politik imbas perebutan kekuasaan antara PM Muhyiddin dan pemimpin oposisi Anwar Ibrahim.

Namun, Anwar Ibrahim menuding tindakan Muhyiddin sebagai upaya untuk tetap berkuasa.