Raja Salman: Pemindahan Kedubes AS Merupakan Langkah Berbahaya

Kekhawatiran rencana pemindahan Kedutaan Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem juga dirasakan oleh Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud. Raja Salman diketahui telah menerima telepon dari Trump mengenai perkembangan di wilayah dan dunia.
Dikutip dari Reuters, Rabu (6/12), Raja Saudi Salman mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa keputusan untuk memindahkan Kedubes AS di Israel ke Yerusalem akan membuat gagalnya perdamaian yang sudah dirundingkan. Bukan hanya itu, hal tersebut juga akan mengorbankan perasaan umat Muslim di dunia.
"Raja Arab Saudi mengatakan kepada Donald Trump, setiap pengumuman Amerika mengenai situasi Yerusalem membahayakan perundingan damai dan meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut," kata kantor berita negara Arab Saudi (SPA).
Raja Salman juga mendukung rakyat Palestina dan hak-hak historis mereka. Ia juga menegaskan bahwa pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem merupakan langkah yang berbahaya karena terdapatnya Masjidil Aqsa di Yerusalem.
"Langkah berbahaya semacam itu kemungkinan akan mengobarkan hasrat umat Islam di seluruh dunia karena status Yerusalem yang besar dan terdapat Masjidil Aqsa," kata Raja Salman.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia mengatakan apabila pemindahan Kedubes AS benar terjadi, hal itu akan merusak proses perundingan damai dan memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Pasalnya, di Yerusalem terdapat Masjidil Aqsa, masjid paling suci ketiga bagi umat Islam.
Rencana pemindahan kedubes itu memicu kecaman dari negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Sebab, jika AS memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem, berarti negara itu mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Padahal sejak 70 tahun lalu, konsensus internasional menyatakan Yerusalem adalah wilayah internasional tidak bertuan, namun saat ini diduduki secara ilegal oleh Israel.
