Rama yang Tewas Tertembak, Pamit untuk Menolong Massa Aksi

Rizki Ramadhan (17) alias Ram turut menjaadi korban tewas dalam kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada 22 Mei. Warga Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat, itu dikenal sebagai pribadi yang suka menolong orang lain.
Saat hendak berangkat berdemonstrasi, Rama pamit kepada keluarga untuk menolong peserta aksi lain yang terluka atau terjatuh.
"Kata dia mau bantuin korban, angkat-angkatin. Ya udah saya bilang enggak usah ikut-ikutan gitu. Saya enggak tahu tuh sudah balik lagi ke sono," kata Memeh, nenek Rama, di kediamannya, Kamis (23/5).
Benar saja, saat tiba di titik kerusuhan di KS Tubun, Petamburan, Jakarta Barat, Rama membantu orang yang terkena tembakan. Namun nahas, Rama juga ditembak.
"Jadi dia (teman Rama) bilang bantuin orang ketembak kepalanya jadi dia angkat, bantuin. Abis dia ngangkat, dia yang kena. Kena belakangnya, langsung jatuh. Temen yang ngeliat langsung tolongin," sambungnya.
Aksi 22 Mei bukan demonstrasi yang pertama diikuti Rama. Menurut keluarga, Rama sempat juga ikut dalam aksi bela Islam 212 di Monas.
"Dari sini semuanya memang ikut," ungkapnya.
Rama juga dikenal baik di lingkungannya. Ia suka menolong orang. Setidaknya hal itu diungkapkan oleh pihak keluarga dan teman-temannya.
Memeh bercerita, sempat suatu saat Rama hendak menolong orang yang terjatuh dari motor. Meski ia waktu itu hanya lewat saja, tapi tetap berhenti dan menolong. Padahal bukan Rama yang menyebabkan pengendara itu jatuh.
"Jiwa muda, dia tidak bisa ngeliat orang geletakan. Dia nolong. Saya pergi ke wali kota saya naik motor sama dia, terus lihat ada orang yang jatuh. Dia berhenti, bilang 'Nek.. nek turun..' diangkat itu orang, diambil kunci motornya dikasih," kata Memeh sambil menangis.
Hal serupa disampaikan Maya, teman Rama. Maya yang mengenal Rama di tempat praktik kerja lapangan terus menangis saat bercerita. Ia menyebut sosok Rama, yang belum lama ia kenal, merupakan pribadi yang baik.
"Kesehariannya dia baik suka nolong, kalau dia dapat ilmu suka bagi bagi 'ini May' gitu. 'Sini gua ajarin' kata dia gitu. Enggak pernah dia orangnya Kalau di sana tuh berteman saja. Sama siapa juga berteman. Enggak dibeda-bedain kalau ada orang kesusahan dibantuin, padahal kerjaan dia juga masih banyak kan. Kadang dia pulang sampe malam kan cuma buat 'biarin lah saya kerjain'," ujar Maya.
Nenek Memeh pun mengenang cucunya dengan cara yang sama. Memeh menyebut dirinya sangat bangga dengan cucunya, yang dikenal orang baik dan suka menolong.
"Bukan bangga lagi, saya kalau nolong orang, temen-temennya juga bilang. Biar apa pun yang terjadi, dia tetap nolongin. Saya bangga," ucap Memeh, meneteskan air mata.
