Ramai 'Krisis Ojol': Cerita Warga Sulit Dapat Driver di Jam Sibuk

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gismi (30), pengguna layanan ojol di Jakarta. Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gismi (30), pengguna layanan ojol di Jakarta. Foto: Nauval Pratama/kumparan

Fenomena yang disebut warganet sebagai “krisis ojol” belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Banyak pengguna mengeluhkan sulitnya mendapatkan pengemudi, terutama pada jam sibuk.

Di sejumlah titik di Jakarta, waktu tunggu yang biasanya hanya beberapa menit kini bisa molor hingga puluhan menit.

Gismi (30), seorang pekerja di Jakarta, merasakan perubahan itu dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengatakan biasanya tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan pengemudi ojek online (ojol), tetapi belakangan waktu tunggu terasa lebih lama, terutama pada jam pulang kantor.

“Biasanya sih cepat dapat drivernya, tapi baru-baru ini lumayan lama. Apalagi kalau lagi rush hour atau pulang kerja, mungkin juga bentrok sama bukber dan macet juga daerah sini (Rasuna Said),” kata Gismi kepada kumparan, Kamis (12/3).

Meski begitu, ia mengaku masih memaklumi kondisi tersebut selama driver tetap memberikan kabar.

“Kalau saya sih nggak masalah asal drivernya ngabarin kalau mau jemput, pasti saya tunggu. Biasanya pakai fitur prioritas daripada hemat,” ujarnya.

Pengemudi ojek online menunggu penumpang di kawasan Pasar Anyar, Kota Tangerang, Banten, Rabu (11/3). Foto: ANTARA FOTO/Fauzan

Cerita berbeda dialami Rosmauliana (22), pekerja lain di Jakarta. Ia mengaku pernah menunggu pengemudi hingga 30 menit tanpa kepastian saat memesan layanan reguler pada pagi hari.

“Awalnya pesan reguler, dapat driver jaraknya sekitar dua kilometer dari titik jemput. Tapi nunggu 30 menitan enggak ada info, itu ngerugiin banget sih, wasting time,” kata Rosmauliana.

Menurutnya, jika memang pengemudi tidak bisa menjemput karena jarak atau kondisi jalan, seharusnya bisa langsung dikomunikasikan kepada penumpang.

“Padahal kalau emang nggak mau pick up karena kejauhan, macet, atau masalah tarif bisa komunikasi langsung,” ujarnya.

Setelah menunggu tanpa kepastian, Rosmauliana akhirnya beralih menggunakan layanan prioritas dan langsung mendapatkan pengemudi.

“Abis itu pindah ke prioritas, langsung dapat,” katanya.

Pengemudi: Tarif Rendah Bikin Mikir Dua Kali

Di sisi lain, sejumlah pengemudi ojol mengatakan ada alasan mengapa sebagian pengemudi lebih selektif menerima pesanan. Salah satunya terkait perbedaan tarif antara fitur hemat dan prioritas.

Hadi (25), pengemudi ojol di Jakarta, menjelaskan bahwa pada fitur hemat, penghasilan yang diterima pengemudi untuk perjalanan jarak pendek relatif kecil.

“Misal jarak di bawah empat kilo, driver nerimanya sekitar Rp 10.400. Mau hujan, mau badai, tetap segitu,” kata Hadi.

Ia menyebut nominal tersebut belum memperhitungkan berbagai potongan dari aplikator.

Karena itu, sebagian pengemudi lebih memilih menerima pesanan dari layanan prioritas.

“Driver jadi malas gitu kan, mending pilih yang prioritas,” ujarnya.

Menurut Hadi, fitur hemat sebenarnya juga menjadi dilema bagi pengemudi.

Sebab banyak pengemudi tetap mengaktifkan fitur tersebut karena khawatir sepi pesanan jika tidak ikut program.

“Driver daftar sendiri karena takut sepi order. Customer juga banyak pakai yang hemat,” katanya.

Macet

Ilustrasi macet Foto: Antara/Raisan Alfarisi

Pengemudi lain, Ridwan (30), mengatakan faktor sistem aplikasi juga sering menjadi sumber masalah antara penumpang dan pengemudi.

Menurutnya, sistem terkadang memberikan pesanan kepada pengemudi yang lokasinya cukup jauh dari titik penjemputan, padahal di sekitar lokasi ada banyak pengemudi lain.

“Contohnya driver di Rasuna Said dapat order pick up di SCBD, tujuan ke Tebet. Secara logika kan harusnya yang dekat saja yang dapat,” kata Ridwan.

Situasi ini diperparah oleh kondisi lalu lintas Jakarta yang padat, terutama saat jam pulang kantor.

“Jakarta mana sih yang nggak macet, apalagi bubar kantor,” ujarnya.

Ridwan menambahkan, potongan dari aplikator juga menjadi pertimbangan bagi pengemudi dalam menerima order layanan hemat.

Menurutnya, potongan bisa mencapai lebih dari 25 persen dari tarif perjalanan.

“Lebih dari 25 persen, hampir 30 persen satu kali order,” katanya.

Karena berbagai faktor itu, menurut Ridwan, sebagian pengemudi akhirnya lebih memilih pesanan dengan jarak penjemputan dekat atau dengan tarif yang lebih tinggi.

“Kalau semua ojol sih penginnya ngambilnya dekat. Nganter jauh juga ayo, tapi ngambilnya jangan jauh,” ujarnya.