Ramai-ramai Bela BEM UI yang Kritik Jokowi: Faisal Basri hingga Cholil Nafis

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

clock
comment
12
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Universitas Indonesia. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Universitas Indonesia. Foto: Shutter Stock

Kritikan BEM UI yang menyebut Presiden Jokowi king of lip service memantik respons publik. Kritikan BEM UI ini dilontarkan melalui akun Instagram resmi BEM UI @bemui_official.

Menurut BEM UI, Jokowi seringkali mengobral janji namun tidak ditepati. Sejumlah tokoh masyarakat pun ramai-ramai membela BEM UI yang berani melontarkan kritikan kepada Jokowi.

Faisal Basri

Ekonom Faisal Basri mendukung kritikan BEM UI. Menurutnya, wajar jika mereka merasa jemu dengan kondisi negara saat ini. Alumni UI ini menyebut, sejak dulu, BEM UI melakukan riset sebelum melemparkan kritik kepada pemerintah.

"Leon, dkk. jangan gentar. Kalian pantas muak dengan keadaan negeri. Tahu kan mengapa rektor takut dengan sikap kalian. BEM UI sekarang dan sebelumnya banyak melakukan riset ilmiah, tidak asal ngomong," kata Faisal yang dikutip dari akun Twitternya, Senin (28/6).

"Mereka punya departemen kajian strategis. Di level fakultas juga ada. Hebatnya lagi, di level universitas, pendekatannya lintas ilmu, lintas fakultas. Para dosen ketakutan karena kalau kritis dipersulit jadi guru besar," lanjutnya.

X post embed

Ketua MUI KH Cholil Nafis

Menurut Ketua MUI KH Cholil Nafis, seharusnya kritikan yang dilontarkan para mahasiswa dibiarkan sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Dia menyebut kritikan mahasiswa justru menandakan kecerdasan penerus bangsa.

"Biasa mahasiswa itu nakal-nakal dikit, biarin aja. Itu tanda cerdas. Indonesia ini berkali-kali berubah karena gerakan mahasiswa," kata Cholil Nafis yang dikutip dari akun Twitternya.

"Nurani bangsa itu mahasiswa yang jernih membaca arah pemerintahaan, meski kadang nyakitin tapi itu cermin pemuda calon pemimpin dan intelektual bangsa," lanjut dia.

X post embed

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Selain tokoh masyarakat, kritikan BEM UI juga mendapatkan dukungan dari komunitas santri NU. Mereka menyebut seharusnya mantan aktivis yang sudah menjadi pejabat seharusnya membiarkan para mahasiswa mengkritik pemerintah.

"Mantan aktivis mahasiswa yang sudah jadi pejabat seharusnya santai saja kalau mahasiswa sekarang mengkritik pemerintah. Lha dari dulu siapapun pemerintahannya, mahasiswa itu ya belajar mengkritik. Entar udah jadi pejabat gantian dikritik. Siklusnya gitu," kata satu tokoh NU Gus Nadirsyah Hosen yang dikutip dari akun Twitternya @Khazanah GNH.

X post embed

Savic Ali

Direktur Nahdlatul Ulama (NU) Online Savic Ali ini menyebut kehidupan akademis tak sehat jika seorang rektor memanggil mahasiswanya yang melontarkan kritik kepasa pemerintah. Menurutnya, kehidupan akademis menjadi tidak sehat jika dikaitkan dengan politik.

"Jika rektorat sudah manggil-manggil mahasiswa urusan protes, artinya kehidupan akademiknya udah enggak sehat. Dan yang bikin gak sehat biasanya pulitik," kata Savic dalam akun Twitternya.

X post embed

Dr. Andi Khomeini Takdir

Menurut Andi, tindakan BEM UI yang melakukan kritik dengan menggunakan beberapa referensi menunjukkan kualitas pendidikan yang baik. Ia menyebut hal itu lebih baik daripada melemparkan hoaks.

"Kritikan bermodal referensi itu petanda pendidikan kita mulai menampakkan hasil. Daripada bully bermodal hoax dan fobia? Ya jelas beda kelas," kata dokter yang pernah menjadi vaksinator COVID-19 di Istana Kepresidenan ini di akun Twitternya.

X post embed

Tokoh Islam Liberal Ulil Abshar-Abdalla

Kritikan BEM UI juga disoroti oleh tokoh Islam liberal Ulil Abshar-Abdalla. Dia menyinggung wacana presiden 3 periode yang dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kebebasan berpendapat yang dilakukan para mahasiswa.

"Baru dua periode saja, ada mahasiswa "nyindir" pemerintah langsung dipanggil rektor. Apalagi tiga periode. Njuk terus gimana rupa negeri ini di masa depan? Sedih ya," kata Ulil dalam akun Twitternya.

"Wis, ndangdutan saja, nek ngritik saja ndak boleh, cung. Ikut mazhabnya cah nom kae," lanjutnya.

X post embed

Cendekiawan Muslim Prof Azyumardi Azra

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Azyumardi Azra mengkritik pemanggilan rektorat kepada pengurus BEM UI.

"Langkah Perguruan Tinggi menertibkan kebebasan kepemimpinan mahasiswa untuk beraspirasi dan mengritik penguasa jelas tidak pada tempatnya dan kontraproduktif bagi kehidupan hari ini dan masa depan Indonesia yang lebih baik...

X post embed

Putri Gus Dur, Alissa Wahid

Putri pertama (alm) Gus Dur yang juga aktivis GUSDURian, Alissa Wahid, juga menyoroti pemanggilan pengurus BEM UI oleh rektorat.

"Kalau jaman dulu begini, gak bakal ada reformasi. Rektorat-rektorat mungkin perlu pemahaman ulang tentang bedanya critical thinking dan hate-speech," tulisnya.

X post embed

Damar Juniarto dari SAFENet

Damar Juniarto, Executive Director of Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), mengecam peretasan/pembajakan akun-akun pengurus BEM UI.

"Ternyata tidak cukup dengan merendahkan dan memanggil BEM UI. Kami baru saja dapat laporan 4 anggota BEM UI diganggu dengan serangan digital dalam waktu berdekatan. Terkutuk betul pelakunya!" tulisnya.

X post embed