Ratusan Nakes Corona Meski Sudah Divaksin, Kekebalan Sinovac Kurang 6 Bulan?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang nakes yang terkonfirmasi positif COVID-19 menjalani proses isolasi terpusat di RS Priscilla Medical Center Sampang, Cilacap, Selasa (25/5/2021). Foto: Idhad Zakaria/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Seorang nakes yang terkonfirmasi positif COVID-19 menjalani proses isolasi terpusat di RS Priscilla Medical Center Sampang, Cilacap, Selasa (25/5/2021). Foto: Idhad Zakaria/ANTARA FOTO

Tenaga kesehatan (nakes) merupakan kelompok penerima vaksinasi Sinovac paling awal sejak awal 2021, karena pekerjaan dengan risiko penularan corona tinggi.

Meski hampir seluruh nakes sudah mendapat vaksinasi lengkap, ternyata dalam hitungan bulan ada saja ditemukan kasus nakes yang terinfeksi corona.

Di Kudus misalnya, jumlah nakes yang terpapar bahkan mencapai ratusan orang, tepatnya 358 orang. Juga di Cilacap, 49 nakes juga terpapar meski sudah divaksin 2 dosis.

Para nakes divaksin lengkap sekitar Februari 2021. Lantas, apakah masa kekebalan vaksin Sinovac sudah habis di bulan Juni? Atau berarti kurang dari 6 bulan.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, vaksin memang tak bisa menjamin 100 persen aman dari potensi penularan.

"Enggak (bukan karena masa kekebalan vaksin Sinovac), karena prokes dan risiko tertular kan tetap ada karena vaksin tidak yang 100% (memberi) perlindungan penularan," jelas Nadia saat dimintai penjelasan oleh kumparan, Rabu (9/6).

Sejumlah tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Menurutnya, walaupun masih terdapat kemungkinan tertular COVID-19, para nakes yang telah divaksinasi masih mendapat perlindungan dari potensi infeksi dengan gejala berat hingga kematian.

"Tapi untuk gejala berat dan kematian itu perlindungannya lebih dari 95%," tambahnya.

Untuk itu, Nadia mengimbau agar para nakes tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes) pada saat sedang bertugas maupun usai bekerja dan kembali ke rumah.

Pasalnya, risiko penularan corona bisa saja terjadi saat nakes tidak bekerja atau dari lingkungan tempat tinggalnya.

"Kan yang baru 100 persen (menjalankan protokol kesehatan) hanya di kalangan nakes (saat bekerja). Nakes kan enggak tinggal sendiri," tutup Nadia.

Sejumlah tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Vaksinasi memang menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengendalikan pandemi corona. Hal ini bertujuan untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity. Kondisi ini perlu dicapai untuk melindungi komunitas dari penyakit menular, hingga orang yang tidak bisa divaksinasi ikut terlindungi.

Jubir Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito pernah menyatakan upaya mempercepat vaksinasi demi herd immunity harus dibarengi dengan kedisiplinan masyarakat mematuhi prokes.

"Disiplin prokes adalah cara utama untuk mengurangi peluang peningkatan penularan maupun mutasi virus. Kedua, mendukung program vaksinasi dan ikut serta vaksinasi dengan pertimbangan kondisi kesehatan dan memenuhi kriteria peserta vaksin, dukungan masyarakat akan mempercepat cakupan masyarakat yang tervaksinasi," ucapnya, Kamis (28/1).

Infografik jika terjadi reaksi usai vaksinasi corona. Foto: kumparan