Rektor UGM Temui Mahasiswa yang Seminggu Berkemah di Balairung
ยทwaktu baca 3 menit

Rektor UGM Prof Ova Emilia menemui mahasiswa yang berkemah di halaman Balairung UGM, Rabu (21/5). Mereka sudah sejak seminggu lalu berkemah untuk menyampaikan aspirasinya ke pihak rektorat.
Para mahasiswa menuntut sejumlah hal, termasuk salah satunya menuntut rektorat untuk menyatakan mosi tidak percaya terhadap lembaga-lembaga penyelenggara negara.
Pantauan kumparan, tampak Ova datang bersama jajarannya. Para pimpinan UGM kemudian mengajak para mahasiswa untuk berdiskusi.
"Terkait tuntutan agar universitas menyatakan mosi tidak percaya kepada institusi negara, saya kira ini UGM menilai bahwa sebagai institusi pendidikan tentunya bukan dalam posisi menyatakan mosi. Jadi langkah itu belum sepenuhnya tepat," kata Ova.
"Namun UGM tetap mendorong pemerintah untuk menjalankan pemerintahan yang jujur, bersih dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Ova mengatakan jati diri UGM sebagai kampus perjuangan, UGM tetap aktif memberikan masukan, advokasi kebijakan, serta kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan dan kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan publik.
"Terkait penolakan terhadap praktik militerisme, UGM memandang isu ini dalam kerangka kebebasan akademik, kebebasan mimbar, dan otonomi keilmuan. Saat ini, UGM tengah menyusun naskah akademik yang merangkum poin-poin tersebut. Reformasi telah menegaskan pemisahan TNI dan Polri serta pembatasan peran politik militer," katanya.
Soal pemangkasan anggaran, Ova mengatakan UGM hingga saat ini tidak menaikkan uang kuliah tunggal (UKT), serta tetap menerapkan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam pembiayaan pendidikan.
"Juga terus mengembangkan berbagai program bantuan, seperti pinjaman laptop, pinjaman sepeda, layanan bus kampus, serta berbagai program beasiswa," terangnya.
Aspirasi mahasiswa agar UGM tegas menangani kasus kekerasan seksual juga direspons Ova. Dia mengatakan UGM berkomitmen menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari berbagai bentuk kekerasan seksual.
"UGM meyakini kebijakan yang disusun, bahwa kampus harus menjadi ruang yang aman, kondusif, dan bebas dari praktik kekerasan," tegasnya.
Tuntutan Mahasiswa
Salah satu perwakilan mahasiswa menyampaikan 9 tuntutan kepada rektorat UGM di hadapan Ova, sebagai berikut;
Menuntut rektorat untuk menyatakan mosi tidak percaya terhadap lembaga-lembaga penyelenggara negara.
Menuntut rektorat untuk menolak seluruh bentuk militerisme di kampus.
Menuntut rektorat untuk mencabut seluruh kebijakan pada bidang akademik dan non-akademik yang berakar pada realokasi anggaran pendidikan oleh pemerintah pusat, khususnya yang merugikan bagi mahasiswa dan pekerja kampus.
Menuntut rektorat untuk memastikan bahwa nilai pungutan biaya pendidikan di UGM tidak terpengaruh oleh realokasi anggaran pendidikan oleh pemerintah pusat.
Menuntut rektorat untuk melakukan optimalisasi anggaran untuk menunjang operasional UGM di tengah realokasi anggaran pendidikan oleh pemerintah pusat.
Menuntut rektorat untuk memberikan transparansi mengenai penetapan, penyerapan, dan penggunaan pungutan biaya pendidikan di UGM.
Menuntut rektorat untuk mewujudkan ruang publik yang inklusif (untuk seluruh mahasiswa dari berbagai latar belakang), aman, bebas diakses, dan ramah kawan disabilitas.
Menuntut rektorat untuk menyediakan ruang kegiatan yang layak bagi mahasiswa juga seluruh civitas akademika UGM.
Menuntut rektorat untuk melakukan pembacaan ulang terhadap seluruh perangkat penanganan, pencegahan, dan pelaporan kekerasan seksual di UGM.
"Kami di sini meminta Bu Ova untuk memberikan rilis secara official untuk menyatakan mosi tidak percaya dan juga menolak militerisme di kampus," kata salah satu mahasiswa.
"Poin 3 sampai 9 kami meminta transparansi kebijakan-kebijakan yang dibuat di UGM," bebernya.
