Rektor Ungkap Kronologi Tembakan Gas Air Mata ke Massa di Depan Kampus Unisba
ยทwaktu baca 3 menit

Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) Prof. Ir. A. Harits Nu'man mengungkapkan bahwa tembakan gas air mata yang dilepaskan polisi bukan ke dalam kampusnya. Gas air mata itu ditembakkan ke arah massa anarko yang memblokade jalanan di depan kampus Unisba dan Universitas Pasundan (Unpas).
Penjelasan Harits ini untuk meluruskan narasi di media sosial yang menyebut polisi menyerang kampus Unisba di Jalan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Senin malam hingga Selasa dini hari (2/9).
Berikut kronologi penembakan gas air mata di depan kampus versi Unisba:
Senin (1/9)
Unisba membuka Posko Evakuasi Korban Demo di kampus. Bila ada demonstran yang terluka pada saat demo, akan diberikan pertolongan medis di posko.
Hingga pukul 17.00 WIB, posko menerima total 62 pendemo yang unjuk rasa di DPRD Jabar. Sebagian besar massa mengalami sesak napas karena terkena tembakan gas air mata.
"Kemarin kan cuma sampai jam 17.00 WIB (demonya), itu kemudian mereka (pendemo di DPRD Jabar) balik," kata Harits saat jumpa pers di Kampus Unisba, Bandung, Selasa (2/9).
Proses penanganan medis berlangsung hingga pukul 21.00 WIB.
"Sampai jam 9 malam itu masih ada korban yang napasnya masih sesak dan lemas. Itu sudah selesai kita bantu. Kita tangani, kita evakuasi dan selamat mereka, dijemput oleh keluarganya," ucapnya.
Pukul 21.00 WIB
Posko ditutup. Tim kampus masih berada di Unisba
"Bahwa sebagian ada mahasiswa Unisba yang baru pulang karena tadi jam 21.00, kami closing untuk evakuasi korban, boleh jadi ada yang keluar, relawan boleh jadi masih rehat," ujarnya.
Ada massa tak dikenal bergerombol di jalanan depan kampus. Mereka memblokade jalan.
"Di luar dugaan, massa yang lainnya itu bergerombol dari satu titik ke titik yang lainnya. Ya, dari mulai ada katanya di Jalan Trunojoyo, kemudian masuk ke Jalan Sulanjana, kemudian di Taman Radio, di Taman Radio juga ada gerombolan dan mereka memblokir jalan dari Taman Radio kemudian Purnawarman, Simpang Hariang Banga, atau Ranggagading, kemudian di jalan di depan gedung LPPM, ya, sampai di Taman Sari Atas di ujung, memblokir jalan Taman Sari, terus di Taman Sari bawahnya depan gedung Unpas," jelas Harist.
Pukul 23.35 WIB-24.00 WIB
Terdengar tembakan gas air mata di jalanan depan kampus.
Massa pendemo melompat pagar dan membuka paksa pintu gedung utama Unisba di Jalan Taman Sari 1. Mereka akhirnya masuk ke dalam kampus.
Yang masuk ke kampus, menurut Harits, adalah murni pendemo yang berlindung di area kampus. Dan itu jumlahnya banyak.
"Nah logikanya kalau pendemo itu mahasiswa, jam 17 sudah dibubarkan, begitu kan ya," ucapnya.
Setelah pukul 24.00 WIB
Berdasarkan pantauan CCTV tidak ada polisi yang masuk ke dalam kampus.
"Tidak ada aparat yang masuk ke dalam kampus, dan tidak ada pakaian sipil, juga aparat yang menyamar atau intel masuk ke area kampus, itu sepanjang penembakan (gas air mata)," ujar Harits.
Pukul 01.00 WIB
Pihak kampus melakukan sweeping di area dalam kampus untuk memastikan situasi kondusif.
"Kami hanya sweeping, ada orang luar yang ada di kampus kita itu harus silakan pulang. Nah itu kita sweeping kita lakukan mulai dari jam 1 malam ya," katanya.
Pukul 04.00 WIB
Sweeping selesai dilakukan. Area Kampus Unisba dipastikan clear.
"Alhamdulillah dari jam 4 sampai siang ini sampai conference ini kita juga masih diberikan kesehatan," kata Harits.
Harits menegaskan bahwa kampusnya menolak anarkisme di kampus, menolak politisir di kampus. Unisba, katanya, juga itu bukan kampus para pendemo yang anarkis.
"Kampus Unisba adalah kampus umat, kampus perjuangan, di mana di dalamnya adalah kaum intelektual," ucapnya.
"Ke depannya supaya tidak terjadi, kami akan betul-betul sangat selektif untuk memberikan bantuan untuk juga membuka posko evakuasi korban, dan mohon maaf, bagi kelompok anarkis itu tidak ada tempat di kampus Unisba," imbuhnya.
