Rela Antre Berjam-jam, Warga Antusias Berburu Buku di Kapal Doulos Hope

Antusiasme warga berburu buku di kapal pameran internasional MV Doulos Hope terlihat dari antrean panjang pengunjung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (4/10).
Pantauan kumparan di lokasi, antrean pengunjung terlihat mengular sejak area Gelanggang Remaja Jakarta Utara. Pengunjung yang hendak menuju kapal terlebih dahulu menaiki shuttle bus yang telah disediakan penyelenggara.
Pengunjung yang didominasi keluarga datang bersama anak-anak. Mereka tampak antusias menjelajahi area kapal sekaligus berburu buku dari berbagai topik.
kumparan turut menjajal pengalaman mengunjungi pameran buku terapung tersebut.
Antre Sampai 3 Jam
Salah satu pengunjung, Lina, yang datang bersama anaknya, Aidan, dari Tangerang, mengaku harus mengantre sekitar tiga jam sebelum akhirnya bisa masuk ke kapal.
Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 09.00 WIB dan tiba di Gelanggang Remaja Jakarta Utara sekitar pukul 11.00 WIB. Lina memilih membeli tiket secara langsung karena tiket daring telah habis terjual.
“Antrenya? Wah, tiga jam-an kayaknya antrenya,” kata Lina sambil tertawa.
Meski harus menunggu cukup lama, Lina mengaku tidak keberatan. Ia tertarik mengajak anak-anaknya karena pameran buku di atas kapal merupakan pengalaman langka yang sayang untuk dilewatkan.
“Seru ya, ngelihat berbagai macam buku dari internasional, terus ya, ya asyik aja sih pokoknya. Jadi walaupun capek, ya udah lah gas aja,” ujarnya.
Lina juga berharap kegiatan serupa dapat lebih sering digelar karena dinilai memberikan pengalaman sekaligus edukasi bagi anak-anak.
Jadi Pengalaman yang Unik
Hal serupa juga dirasakan Ines dan Moses yang datang bersama anak mereka, Minara, dari BSD, Tangerang Selatan. Mereka sengaja mengunjungi Doulos Hope untuk memberikan alternatif rekreasi sekaligus mengenalkan buku kepada anak.
Mereka telah membeli tiket secara daring sejak sepekan sebelumnya. Ines menyebut kunjungan ke kapal tersebut menjadi pengalaman pertama bagi keluarganya.
“Ya biar ngasih tahu ke anak-anak ya ada rekreasi baru selain di mal, selain playground, bisa baca buku, bisa ngelihat kapal. Ya rekreasi yang barulah buat anak-anak,” kata Moses.
Ines menilai lokasi pameran yang berada di atas kapal menjadi keunikan tersendiri. Menurut dia, kesempatan mengajak anak-anak belajar sekaligus merasakan pengalaman naik kapal tidak selalu tersedia.
Saat berkeliling, mereka menemukan sejumlah buku yang menarik perhatian Minara, mulai dari buku aktivitas hingga novel The Last Kids on Earth.
Ines mengaku berencana membeli lebih banyak buku dari perkiraan awal karena menemukan koleksi yang menarik.
Selain pengalaman yang berbeda, harga buku yang ditawarkan juga menjadi pertimbangan. Ia mencontohkan buku Lego Friends yang menurutnya bisa dijual sekitar Rp 150 ribu di toko buku lain, tetapi di Doulos Hope dibanderol Rp 50 ribu.
“Ini cuma tadi Rp 50.000, jadi oke banget, affordable banget sih. Dan enggak semua bukunya juga kita lihat sering lihat di toko buku. Banyak juga yang lumayan enggak pernah ketemu,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Najwa dari Jakarta Selatan dan Salma dari Jakarta Barat. Keduanya sengaja datang setelah mengetahui informasi pameran buku tersebut. Bahkan, mereka sempat mencoba datang sehari sebelumnya, tetapi tidak kebagian tiket karena kapasitas pengunjung telah penuh.
Najwa mengaku harus mengantre sejak sekitar pukul 11.30 WIB. Meski begitu, ia tetap antusias mencari buku yang diinginkan, termasuk memenuhi titipan dari ibunya.
“Kebetulan ada titipan ibu ya ini. Ada buku masak-masakan, terus mau cari buku-buku fiction yang bahasa Inggris atau buku-buku yang self-improvement,” kata Najwa.
Sementara itu, Salma tertarik mencari buku pengembangan diri yang selama ini sulit ditemukan di toko buku lokal.
Menurut keduanya, salah satu keunggulan pameran ini adalah koleksi buku internasional yang cukup beragam dengan harga relatif terjangkau.
“Karena biasanya internasional semua dan untuk buku internasional itu ini lumayan terjangkau sih harganya. Dan agak jarang dijual di Indo juga ya ini,” ujar Salma.
Ia menilai koleksi yang tersedia di Doulos Hope memberikan pilihan lebih luas bagi pembaca yang ingin mendapatkan buku-buku berbahasa asing yang belum tentu tersedia di toko buku Indonesia.
Alternatif Rekreasi Keluarga
Antusiasme pengunjung juga terlihat dari keluarga yang datang dari luar Jakarta. Ica dan Hakim, misalnya, rela menempuh perjalanan dari Bogor untuk mengajak anak-anak mereka menikmati pengalaman berkunjung ke kapal sekaligus berburu buku.
Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB setelah berangkat dari Bogor pada pukul 13.00 WIB. Berbekal tiket daring, mereka bisa langsung masuk tanpa harus mengikuti antrean pembelian tiket di lokasi.
Ica mengatakan sebagian besar buku yang dibeli merupakan buku cerita untuk anak-anak. Salah satunya buku bertema Marvel dan Avengers yang disukai anak laki-lakinya.
Hakim menyebut kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman baru kepada anak-anaknya, mulai dari mengunjungi pelabuhan hingga menaiki kapal.
“Pertama kita kenalin petualangan baru ya. Kita ajak ke pelabuhan, kita ajak naik kapal. Itu kan buat experience dia,” kata Hakim.
Bagi mereka, kunjungan ke Doulos Hope bukan sekadar kesempatan membeli buku, melainkan juga menghabiskan waktu bersama anak-anak dengan kegiatan yang berbeda dari rutinitas akhir pekan.
MV Doulos Hope merupakan kapal pameran buku terapung internasional yang dikelola organisasi nirlaba GBA Ships. Kapal ini dibangun di Jerman pada 1991 sebagai kapal pesiar sebelum dibeli GBA Ships pada 2022 dan diubah fungsinya menjadi kapal pameran buku.
Kedatangan Doulos Hope juga menandai kembalinya kapal pameran buku ke Jakarta setelah sekitar 38 tahun. Sebelumnya, kapal Doulos pernah singgah di Jakarta pada April 1988.
Kini, melalui Doulos Hope, pengunjung kembali mendapat kesempatan menjelajahi koleksi buku internasional sekaligus merasakan pengalaman unik berburu buku di tengah suasana kapal yang bersandar di pelabuhan.
