Rela Tak Narik demi Aksi May Day di Monas, Ojol Titip Harapan untuk Prabowo
·waktu baca 2 menit

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada Jumat (1/5) di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, tidak hanya didominasi oleh serikat pekerja pabrik.
Di tengah lautan massa May Day, terlihat juga barisan pengemudi ojek online (ojol) yang turut membaur ke pusat aksi untuk menyuarakan perbaikan nasib.
Demi ikut merapatkan barisan, tak sedikit dari mereka yang merelakan pemasukan hariannya dengan mematikan aplikasi pencari penumpang. Keputusan absen mengaspal ini diambil semata-mata demi solidaritas perjuangan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ade (25), salah seorang pengemudi ojol yang ikut berpanas-panasan di kawasan Monas.
Saat ditanya mengenai keputusannya tidak menarik penumpang hari ini, ia menjawab dengan santai namun tegas.
“Ini untuk kebersamaan kita semua,” ujar Ade saat ditemui di lokasi.
Ade menjelaskan, elemen ojol datang membawa keresahan nyata dari jalanan yang butuh perhatian serius dari pemangku kebijakan.
“Banyak tuntutan untuk kesejahteraan kita. Tuntutan untuk potongan driver ojek online 10 persen dan juga gaji minimum untuk para buruh,” bebernya.
Semangat yang sama juga disuarakan oleh Iyan (46). Pengemudi ojol paruh baya ini merasa bahwa elemen pekerja, baik formal maupun informal seperti dirinya, sedang menghadapi tantangan berat yang membutuhkan campur tangan negara.
“Setidaknya pemerintah ikut andil dalam permasalahan buruh yang ada di Indonesia ini,” tegas Iyan.
Mengetahui Presiden Prabowo Subianto hadir di tengah-tengah massa, para pahlawan aspal ini pun menitipkan pesan dan harapan besar.
“Harapannya sih, lebih melihat ke bawah ya,” ucapnya singkat.
Sementara itu, Iyan menuntut ketegasan sikap dari seorang pemimpin untuk lebih berpihak pada kesejahteraan rakyat kecil.
“Buat Bapak Presiden harapannya besar, sebagai kepala negara itu harus mementingkan kita-kita inilah,” tutupnya.
