Remaja di Pusaran Gangguan Mental, Bisa Apa?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Kekerasan Online pada Remaja Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kekerasan Online pada Remaja Foto: Shutterstock

Masalah mental muncul tanpa disadari. Ungkapan itulah yang sedang dirasakan Dian – bukan nama yang sebenarnya – untuk menggambarkan kondisi yang ia alami. Sejak kecil, Dian merasa dirinya mudah cemas dibanding teman-temannya yang lain.

Ketika mengingat kenangan masa kecil, Dian tak menemukan alasan spesifik kapan masalah mental itu menggerogoti dirinya. Sebuah kondisi yang membuatnya gugup tak terkendali, menangis tiba-tiba, bahkan overthinking untuk segala hal.

“Mungkin bisa jadi ada pengaruhnya dari ekspektasi orang lain terhadapku. Contohnya, dulu aku belajar mati-matian hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Aku menempatkan worth-ku di sana. Aku merasa hidupku bergantung pada nilai atau angka,” kata Dian kepada kumparan, Rabu (21/1).

Semakin lama, gangguan mental yang ia alami makin mempengaruhi kesehariannya. Sambil menghela napas, Dian mengingat kejadian mencekam saat ia hampir mengakhiri nyawanya di ulang tahunnya yang ke-20.

Masalah mental, pandemi, dan problem lain dalam hidup, membuat Dian merasa kehilangan dirinya secara perlahan. Keluarga dan teman sebaya adalah dua hal yang membuat Dian tergerak untuk mencari pertolongan dengan menemui profesional.

“Bahkan dulu waktu masih kecil, untuk pergi ke fotokopian saja, aku takutnya setengah mati. Padahal itu sesuatu yang biasa bagi sebagian besar orang. Aku takut dan cemas sama apa yang akan aku hadapi, walaupun aku tahu itu bukan hal yang besar,” tutur Dian.

Menurut Dian, belum banyak yang berubah dari dirinya sampai saat ini. Dalam beberapa kondisi, kecemasan dan ketakutan yang ia alami dapat berubah menjadi kemarahan tak terkendali. Perjalanannya masih panjang, Dian merasa masih harus berjuang mengatasi kecemasan dan ketakutannya.

Tidak hanya Dian, Kiara – bukan nama sebenarnya – juga mengalami hal yang sama. Rasa lelah dan putus asa setiap hari dirasakan perempuan 22 tahun tersebut. Kenangan tentang keluarganya yang tidak harmonis saat remaja membuat emosinya stagnan.

Awalnya ia selalu merasa cemas hingga akhirnya didiagnosis mengalami depresi berat. Sejak saat itu, Kiara selalu khawatir dengan pandangan orang lain. Ia merasa menjadi orang yang tidak berguna setiap kali anxiety datang mengganggu aktivitasnya. Pengobatan pun dinilai tidak efektif untuk mengatasi masalah mentalnya.

“Jujur saya capek ya, karena sudah berobat kurang lebih 3 tahun, perkembangannya sangat tidak signifikan menurut saya,” ujar Kiara.

Sementara masa kecil Vani – bukan nama sebenarnya – sebagian besar diisi oleh kesepian tanpa adanya sosok untuk bersandar. Vani bahkan tidak merasa memiliki teman sebaya yang menemani layaknya remaja seusianya.

Kesepian ini membuatnya memiliki kecemasan berlebihan, khususnya saat ia memikirkan masa depan. Belum lagi tuntutan orang tua terkait akademis yang membuatnya burn out dan mengalami gangguan mental lainnya.

Terlihat tapi Tidak Secara Nyata

Ilustrasi Remaja Perempuan Depresi Foto: Shutterstock

Kisah Dian, Kiara, dan Vani, merupakan bukti nyata gangguan kecemasan atau anxiety menjadi persoalan serius bagi remaja masa kini. Pengaruh keluarga dan lingkungan tempat tinggal terkadang menjadi pemicu mereka menderita masalah gangguan mental serius. Bahkan beberapa dari mereka berpikiran untuk mengakhiri hidup.

Psikolog Klinis, Reynita Poerwitto mengatakan, kecemasan adalah keadaan di saat emosi negatif muncul akibat kekhawatiran berlebihan. Pada dasarnya, kecemasan adalah emosi yang wajar dialami manusia. Namun jika tidak dikontrol dengan baik, anxiety tersebut dapat menyebabkan gangguan mental.

Lebih lanjut, Reynitta menjelaskan, kecemasan pada remaja dipengaruhi berbagai macam faktor. Namun, keluarga dan lingkungan sekitar dapat menjadi pemicu utama.

“Sedangkan dampak dari kecemasan yang berlebihan harus mulai ditangani ketika hal itu mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Contohnya mengganggu dalam proses belajar karena perasaan takut dan khawatir akan suatu hal sulit fokus atau konsentrasi, pelupa, cenderung memiliki perasaan frustrasi dan mudah marah,” jelas Reynitta.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Dian Wisnu mengatakan, kurangnya kemampuan penempatan prioritas masalah atau kegiatan yang perlu diselesaikan dapat menjadi pemicu gangguan kecemasan.

Hal ini dapat membuat seseorang menjadi sensitif, mood yang seringkali berubah-ubah, dan konflik dengan orang-orang di lingkungannya. Hal ini akan mempengaruhi cara pandang serta cara mereka menyelesaikan masalah.

"Ini juga sangat berkaitan dengan cara dia berpikir, cara dia mengambil keputusan, cara dia mengatasi permasalahan yang ada. Dan performanya di dalam pengembangan dirinya juga jadi sangat berpengaruh," tutur Dian.

Dian, Kiara, dan Vani hanyalah contoh kecil remaja yang mengalami gangguan kecemasan. Data Child Mind Institute Amerika Serikat menyebutkan, 32.9 persen anak-anak dan remaja di seluruh dunia mengalami gangguan kecemasan. Setengahnya dimulai sejak menginjak usia 18 tahun.

UNICEF bahkan mengungkap, 1 dari 7 remaja berusia 10-19 tahun menderita penyakit mental seperti burnout dan rasa cemas atau anxiety.

Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa upaya dapat dilakukan. Contohnya terapi kognitif hingga konsul rutin dengan psikolog.

“Namun yang terpenting adalah memastikan bahwa kita memiliki cara yang baik untuk dapat mengendalikan pikiran kita. Seringnya, pengidap gangguan kecemasan sulit untuk mengontrol apa yang harus dipikirkan dan tidak,” ungkap Reynitta.

Psikolog Dian Wisnu, juga menjelaskan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meredam gangguan kecemasan. Contohnya dengan membuat agenda kegiatan dalam satu bulan. Setiap satu minggunya diisi dengan agenda yang akan dilakukan, sehingga tidak ada ruang untuk merasakan kesendirian dan memicu terjadinya gangguan kecemasan.

Setelah itu, relaksasi seperti melakukan pernapasan dalam, melakukan yoga, olahraga, dan pola makan teratur, hingga mendekatkan diri pada Tuhan juga merupakan upaya sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri.

"Dalam psikologi disebut attention restoration, jadi kita istirahat dari pemusatan pikiran dari kegiatan sehari-hari yang sangat intens," pungkas Dian.

Sekolah Bisa Bantu Tangani Gangguan Kecemasan

Ilustrasi anak pra remaja. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Salah satu upaya mitigasi gangguan kecemasan pada remaja bisa dimulai dari sekolah. Upaya ini telah dilakukan oleh Kinderfield Highfield School, Bekasi.

Kinderfield Highfield School Bekasi yang bermitra dengan Cambridge Assessment International Education (CAIE), menerapkan sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik siswa, namun juga kesehatan mentalnya.

Kepala Sekolah Kinderfield Highfield School Bekasi, Sri Rejeki, mengatakan intervensi dini dari sekolah mengurangi gangguan mental seperti kecemasan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Menurutnya, sekolah memiliki tugas penting untuk mendorong siswa mengembangkan potensi dalam dirinya.

Terlebih akibat pandemi COVID-19 yang melanda dunia selama dua tahun terakhir, membuat kesehatan mental menjadi isu prioritas saat ini. Kecemasan, ketakutan, dan kelelahan akibat proses pembelajaran jarak jauh menjadi fenomena yang kerap ditemukan pada siswa.

“Untuk mengatasi hal ini, kita lakukan berbagai upaya. Seperti mentoring dengan masing-masing siswa, jadi mereka lebih terbuka jika mengalami kendala atau masalah tertentu,” ujar pengajar Kinderfield Highfield School Bekasi, Mikha Frinca Emenita, kepada kumparan, Jumat (6/1).

Kinderfield Highfield School Bekasi juga melakukan sesi mindfulness hingga klub hobi yang dapat membantu mental siswa berkembang dengan baik.

Reporter: Muhammad Fadlan Nuril Fahmi & Thalitha Avifah Yuristiana