Respons UGM dan UII Soal Dijualnya Rumah Peninggalan Prof. Dr. Sardjito di Yogya
ยทwaktu baca 3 menit

Keluarga Pahlawan Nasional Prof. Dr. Sardjito berharap rumah peninggalan Sardjito yang berada di Jalan Cik di Tiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta bisa dibeli oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) atau Universitas Islam Indonesia (UII).
Sardjito merupakan rektor pertama UGM. Sementara di UII, Sardjito merupakan rektor ketiga kampus tersebut. Tepatnya di rentang tahun 1963-1970.
Menanggapi soal rencana dijualnya rumah peninggalan Sardjito, Rektor UII Fathul Wahid mengatakan akan menyampaikan informasi ini ke yayasan.
"Matur nuwun (terima kasih) untuk informasinya. Saya teruskan ke Yayasan. Pembelian properti di luar kewenangan rektor," kata Fathul dikonfirmasi, Kamis (14/5).
Hal senada juga disampaikan Juru Bicara Universitas Gadjah Mada Dr. I Made Andi Arsana. Pihaknya akan terlebih dahulu berdiskusi.
"Saya akan diskusikan nggih (ya). Belum ada info ke saya," kata Made Andi.
Alasan Dijual
Kerabat Prof Sardjito, Budhi Santoso, mengatakan rumah yang berstatus sertifikat hak milik (SHM) ini dijual atas kesepakatan ahli waris yakni dua cucu Prof Sardjito, Alita Poedjioetomo dan Dyani Poedjioetomo yang kini tinggal di Jakarta.
"Namanya warisan sebaiknya segera dibagi menurut saya. Saya menyarankan dikembalikan (untuk dibeli) ke UGM aja. Dari pada, dari pada kalau tidak dirawat dengan baik sayang rumahnya. Kalau saya. Dan sudah waktunya lah. Mereka (ahli waris) sudah usia 70an (tahun)," kata Budhi ditemui di rumah Prof Dr Sardjito, Rabu (13/5).
Budhi merupakan adik kandung dari istri Pek Poedjioetomo, anak tunggal Prof Dr Sardjito dengan Soeko Emmi Sardjito.
Budhi sudah tinggal di rumah ini sejak 1980 menemani Soeko. Sementara Sardjito sudah meninggal dunia sejak 1970.
Budhi punya pikiran agar rumah ini bisa dirawat oleh UGM.
"Karena rumah ini adalah rumah bersejarah. Pak Karno, Sri Sultan Hamengkubuwono, Pak Hatta dan yang lain termasuk ayahnya Bapak Prabowo yang sekarang Presiden pernah ke sini. Buktinya ada," katanya.
Budhi tak membeberkan detail harga jual rumah ini. Namun dia membocorkan di angka miliaran rupiah.
Berarsitektur Jengki
Rumah Sardjito ini berada di jantung Kota Yogyakarta. Bangunan berarsitektur jengki, yang jadi tren di era kolonial. Mayoritas bentuk bangunan masih seperti aslinya.
Rumah ini tak jauh dari area UGM. Jarak UGM hanya 1 kilometer di sebelah utara rumah.
Sementara, bagian belakang rumah difungsikan sebagai kantor obat tradisional yang ditemukan Sardjito.
Di dalam rumah masih ada benda-benda bersejarah peninggalan Sardjito. Di antaranya mebel-mebel kayu seperti meja hingga lemari. Lemari itu berisi buku-buku peninggalan Sardjito.
Di ruang tamu berlantai tegel itu, di sudutnya terdapat lemari kaca yang berisi koleksi keris-keris milik Prof Sardjito.
Ketika menjabat Rektor UGM, rumah ini adalah rumah yang jadi tempat Sardjito berdiskusi dengan tokoh-tokoh negara.
