Reza Indragiri Jadi Ahli untuk Eliezer, Singgung soal Jiwa Korsa yang Menyimpang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri.
 Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Reza Indragiri Amriel menjadi salah satu ahli yang dihadirkan oleh Richard Eliezer dalam sidang pembunuhan Brigadir Yosua di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (26/12).

Ia dihadirkan sebagai ahli psikologi forensik. Reza hadir selaku Anggota Pusat Kajian Assessment Pemasyarakatan POLTEKIP Kementerian Hukum dan HAM.

Dalam paparannya, ia sempat menyinggung soal hubungan Ferdy Sambo dengan Richard Eliezer hingga soal jiwa korsa yang menyimpang.

Awalnya, ia menerangkan soal pertanggungjawaban seorang pelaku tindak pidana. Kaitannya dengan pemahaman serta kehendak pelaku tersebut.

Menurut Reza, ada 3 kemungkinan pertanggungjawaban pelaku, yakni:

  • Bertanggung jawab penuh, sebab pelaku paham serta berkehendak terjadinya tindak pidana

  • Sama sekali tidak bertanggung jawab, sebab tidak paham serta tidak berkehendak

  • Bertanggung jawab secara parsial

"Dikarenakan mungkin dia paham tapi dia tidak punya kehendak atau sebaliknya dia tidak paham tapi dia berkehendak," kata Reza menjelaskan soal poin ketiga.

Pengacara kemudian mengkonfirmasi Reza soal kaitan poin-poin tersebut dengan perkara yang menyangkut Richard Eliezer dikaitkan dengan tekanan dari Ferdy Sambo.

Menurut Reza, harus ditelaah secara komprehensif terlebih dulu untuk memahami soal perilaku atau perbuatan jahat terhadap manusia atau individu. Yakni dari sisi makro, mikro, dan mezzo.

Untuk makro, terkait Sambo dan Eliezer yang tergabung dalam organisasi kepolisian. Menurut Reza, ada sebuah instrumen penting yang harus dimiliki personel kepolisian.

"Dalam organisasi kepolisian ada satu instrumen yang sangat vital yang sangat penting yang sangat krusial yang harus dimiliki setiap personel, harus dimiliki setiap personel, yaitu jiwa korsa," ungkap Reza.

Ia menyebut bahwa jiwa korsa merupakan sumber stamina, energi, hingga eksistensi setiap insan kepolisian.

"Termanifestasikan lewat perilaku setia kawan, menggunakan kosa kata sama, menggunakan pola pikir yang sama, menujukkan ketaatan ketundukan, kepatuhan, keseragaman," papar Reza.

Ia kemudian menyinggung muncul fenomena jiwa korsa yang menyimpang. Ia menyinggung studi yang dilakukan Farouk Muhammad.

"Berdasarkan studi, tidak dapat dipungkiri, bahwa ada tempo-tempo jiwa korsa yang muncul dalam bentuk yang menyimpang. Ini yang menurut Prof Farouk Muhammad disebut salah satu sub kultur menyimpang yaitu kode senyap," ungkap Reza.

"Kode senyap adalah istilah menunjuk bahwa jiwa korsa, sekali lagi tempo-tempo termanifestasikan dalam bentuk penyimpangan. Misalnya menutup-nutupi kesalahan sejawat, contoh lain ketaatan kepatuhan dan tidak memberikan koreksi kepada siapa pun yang sudah memberikan perintah, itu contoh jiwa korsa yang menyimpang," sambungnya.

Irjen Ferdy Sambo (tengah) bersama sejumlah ajudan. Foto: Dok. Istimewa

Menurut dia, poin-poin tersebut perlu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan unsur makro. Sementara unsur mezzo ialah terkait interaksi hubungan antara Sambo dengan Eliezer.

"Konsekuensinya ketika kita memberikan sorotan kepada Richard Eliezer atau Ferdy Sambo misalnya, kita tidak bisa abai terhadap jiwa korsa ini, termasuk kemungkinan adanya jiwa korsa menyimpang," kata Reza.

Namun, ia mengaku tidak mendalami lebih lanjut soal hubungan Eliezer dengan Sambo tersebut. Termasuk soal unsur mikro, yakni kepribadian secara spesifik Eliezer selaku individu.

Richard Eliezer ialah terdakwa pembunuhan Brigadir Yosua di Duren Tiga pada 8 Juli 2022. Polisi berpangkat Bharada itu menembak Yosua sebanyak 3-4 kali atas perintah Sambo.

Dalam kesaksiannya beberapa waktu lalu, Eliezer mengaku sempat bingung dan kaget saat mendapat perintah Sambo untuk mengeksekusi Yosua. Ia pun mengaku tak berani menolak karena takut senasib dengan Yosua.

Ia sempat dua kali berdoa yang isinya berharap Sambo berubah pikiran. Namun perintah itu tetap disampaikan Sambo.

Secara terpisah, Sambo membantah perintahkan Eliezer menembak Yosua. Ia berdalih perintahnya ialah 'hajar', bukan 'tembak'.