RI Akan Bangun Kapal Induk Helikopter, Kapan Dimulai?
·waktu baca 3 menit

PT PAL Indonesia menyatakan kesiapannya memproduksi kapal induk helikopter atau Landing Helicopter Dock (LHD) sepenuhnya dari dalam negeri.
Proyek ambisius dibuat untuk menjawab kebutuhan misi pertahanan hingga operasi non-perang di wilayah maritim Indonesia yang luas dan kompleks. Jika disetujui pemerintah, produksi akan dimulai pada 2027.
“Sudah kami siapkan untuk membuat kapal aircraft carrier itu, 2027, kami siap jika mendapat penugasan dari pemerintah untuk membuat kapal induk. Sekali lagi jawabannya adalah kami mampu 100 persen,” kata Direktur Teknologi PT PAL Indonesia, Briljan Gazalba, dalam kunjungan eksplorasi industri pertahanan nasional di Surabaya, Rabu (25/6).
Briljan menjelaskan, meskipun masuk kategori aircraft carrier, secara spesifik kapal yang akan dibangun adalah jenis pengangkut helikopter atau LHD. Kapal ini tak seperti Kapal Induk Amerika Serikat kelas USS Nimitz atau USS Carl Vinson.
Kapal LHD hanya mampu membawa helikopter atau pesawat yang mampu lepas landas secara vertikal (VTOL).
LHD PT PAL ini dirancang akan memiliki dek terbuka sepanjang 238 meter, dan mampu membawa 16 helikopter atau pesawat VTOL.
Fasilitas Dalam Negeri, Kolaborasi pada Senjata
Untuk mewujudkan proyek ini, PT PAL tengah mempersiapkan fasilitas produksi kapal sepanjang 238 meter.
“Tapi secara kapasitas mungkin masih belum. Karena antrean pekerjaan kan sekarang penuh banget. Sehingga nanti ke depan, seperti tadi, kami akan menyiapkan schedule urutan produksinya. Sehingga begitu order kapal aircraft carrier datang, kami sudah siap,” ujar Briljan.
Ia menegaskan bahwa desain kapal sepenuhnya akan dibuat oleh tenaga ahli Indonesia. Namun, sistem persenjataannya akan melibatkan kerja sama dengan negara lain.
Hal ini dilakukan agar penguasaan teknologi bisa lebih cepat dicapai sebelum meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap.
“Untuk platform-nya kita tidak melakukan kolaborasi dengan yang luar. Murni 100 persen dari PT PAL. Tapi nanti untuk jika harus dipersenjatai, kami pasti harus melakukan kolaborasi,” ucap Briljan.
Menjawab Kebutuhan Operasi di Indonesia
Briljan menekankan bahwa LHD sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia, terutama untuk mengamankan tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Dengan karakteristiknya, kapal ini bisa berfungsi sebagai markas terapung yang dapat berpindah ke wilayah strategis sesuai kebutuhan.
“Di Indonesia kan kita punya ALKI ya, tiga alur laut kepulauan dan kita juga punya area-area yang harus kita jaga,” ujarnya.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen Frega Wenas Inkiriwang, menyambut baik kesiapan industri dalam negeri membangun LHD. Ia menegaskan bahwa kapal induk yang dimaksud bukanlah seperti kapal induk milik AS, melainkan khusus untuk operasi helikopter.
Menurut Frega, LHD tidak hanya relevan untuk operasi militer, tapi juga sangat strategis untuk misi kemanusiaan, termasuk penanggulangan bencana.
“Kita berharap ini bisa terus dioptimalkan, sehingga pada saat kita memutuskan untuk membeli atau membutuhkan alutsista, semuanya sudah siap secara infrastruktur maupun secara SDM,” kata dia.
Meskipun begitu, ia mengingatkan bahwa proyek ini masih membutuhkan kajian matang sebelum masuk tahap produksi. Namun, jika pemerintah memutuskan untuk memulai, PT PAL menyatakan siap menjawab tantangan tersebut.
