RI Harus Tiru Jepang dan Taiwan Dalam Upaya Mendeteksi Tsunami

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gambar udara kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung yang di terjang tsunami. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar udara kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung yang di terjang tsunami. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)

Indonesia kembali dilanda tsunami pada Sabtu (22/12) malam lalu tepatnya di sekitar Selat Sunda seperti Anyer, Banten dan Lampung Selatan. Sebelumnya pada bulan September, tsunami melanda Palu, Sulawesi Tengah.

Namun karena alat deteksi tsunami tak cukup memadai di wilayah sekitar Selat Sunda maka 222 orang tewas diterjang gelombang yang cukup tinggi. Karena itulah, Indonesia diharapkan belajar dari Jepang dan Taiwan dalam upaya pendeteksian tsunami dan gempa.

Ahli Marine Geology King Abdulasiz University Satrio Antoni mengatakan Jepang dan Taiwan sudah memasang teknologi sensor bawah laut yang dinamakan Sub-marine cable Based System.

"Sampai saat ini, negara kecil seperti Jepang saja sudah memiliki lebih kurang sekitar 500 buah sensor bawah laut (Sub-marine Cable Based System,). Dari total keseluruhan sensor sekitar 2500-3000-an sensor gempa dan tsunami yang dimilikinya," ujar Satrio dalam keterangan tertulis, Minggu (23/12).

Buoy, alat rekonfirmasi tsunami. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Buoy, alat rekonfirmasi tsunami. (Foto: Pixabay)

"Melihat kesuksesan Jepang dengan menggunakan teknologi ini maka akhir-akhir ini Taiwan juga ikut mengembangkan dan mengadopsi alat dan teknologi deteksi tsunami bawah laut ini," lanjut dia.

Sehingga Satrio menjelaskan bisa dipastikan seluruh perairan Taiwan saat ini sudah memiliki system teknologi Jepang tersebut. Satrio lalu membandingkan dengan teknologi pendeteksi tsunami yang dimiliki oleh Indonesia yang masih berupa bouy system.

Alat pendeteksi ini dijelaskan Satrio sulit untuk dipertahankan karena rawan akan pencurian dan vandalisme. Karena itulah, Satrio berharap pendeteksi bawah laut yang lebih akurat seperti sensor bawah laut digunakan juga di Indonesia.

"Tsunami akan terus mengancam Indonesia, karena kita berada di zona ring of fire. Hal yang harus dilakukan oleh pemerintah kita Indonesia adalah menyiapkan infrastruktur sistem peringatan dini dini," ucap Satrio.

"Sistem mitigasi dan penanganan yang cepat, serta mengedukasi masyarakat tentang gempa ataupun tsunami untuk mengurangi korban jiwa dan kerusakan lainnya dalam konteks tindakan mitigasi dimasa yang akan datang," tuturnya.

Satrio kemudian menuturkan Indonesia, seperti layaknya Jepang, adalah negara yang berada di area rawan bencana alam seperti gempa dan tsunami. Karena itulah Satrio menekankan bahwa persiapan untuk mitigasi bencana dan juga alat pendeteksi gempa dan tsunami ditekankan menjadi prioritas untuk pemerintah Indonesia.