News
·
11 Juli 2018 18:29

RI Sesalkan AS Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran

Konten ini diproduksi oleh kumparan
RI Sesalkan AS Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran (122992)
searchPerbesar
Menlu Retno L.P. Marsudi (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Presiden Donald Trump mengeluarkan Amerika Serikat dari perjanjian soal nuklir Iran yang diteken Barack Obama pada 2015. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyesalkan penarikan diri AS terhadap perjanjian nuklir tersebut.
ADVERTISEMENT
"Kita tahu ada satu pihak yang sudah menarik diri dari JCPOA dan kita menyesalkan penarikan diri itu. Kita tetap berharap agar pihak-pihak lain yang ada di JCPOA untuk terus melanjutkan kesepakatan yang sudah ada di dalam JCPOA itu," kata Retno di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (11/7), tanpa secara spesifik menyebut nama Amerika Serikat.
JCPOA adalah singkatan dari Joint Comprehensive Plan of Action, Rencana Aksi Komprehensif Gabungan, merupakan kesepakatan yang diteken antara Iran dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Uni Eropa pada 2015.
JCPOA mengatur pembatasan pengayaan uranium oleh Iran agar tidak sampai tahap mampu membuat senjata nuklir. Sebagai balasannya, Barat akan mencabut sanksi dan embargo terhadap Iran.
ADVERTISEMENT
Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah maju dari perundingan antar negara soal Iran. Namun Trump merasa perundingan itu merugikan AS dan hanya menguntungkan Iran sehingga dia menarik negaranya.
Retno mengatakan, sejumlah delegasi negara yang tergabung dalam perjanjian JCPOA seperti Uni Eropa sebelumnya telah bertemu di Wina, Austria, pada Jumat (6/7). Eropa dalam pertemuan itu menegaskan tetap akan berpegang teguh pada JCPOA.
Pertemuan itu kata Retno memberikan harapan kesepakatan nuklir Iran bisa terus dilanjutkan walau tanpa keikutsertaan AS.
"Jadi komisi bersama untuk JCPOA (bertemu). Kalau kita baca isi dari hasil pertemuan pada tingkat menteri di JCPOA itu, maka memberikan harapan baru, memberikan platform baru bahwa JCPOA ini akan dapat dilanjutkan," kata Retno.
ADVERTISEMENT
"Dan tentunya tantangannya dan sekaligus harapan Indonesia hasil dari pertemuan di Wina tanggal 6 Juli yang lalu akan dapat diimplementasikan sepenuhnya. Pihak Indonesia sendiri terus melakukan komunikasi terutama dengan pihak Uni Eropa," ujarnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020