Ribuan Desa di Jawa Tengah Terancam Alami Kekeringan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kekeringan Foto: _Marion
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kekeringan Foto: _Marion

Sebanyak 1.259 desa dari 360 kecamatan di 31 Kabupaten Kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah terancam kekeringan pada musim kemarau. Desa-desa yang diprediksi akan mengalami kekeringan parah ada di Kabupaten Blora, Grobogan dan Demak.

Kepala BPBD Jateng, Sudaryanto menyebut, berdasarkan rakor semester I yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu, institusinya telah berkoordinasi dengan BMKG dan pihak terkait mengenai kesiapan menghadapi kekeringan.

Dalam rakor, diketahui berdasarkan laporan BMKG, musim kemarau sudah mulai terjadi pada bulan Juni ini dan akan berlangsung hingga September. Sejumlah upaya juga telah disiapkan.

"Antara lain, kami sudah instruksi langsung ke kepala pelaksana (Kalak) BPBD daerah masing-masing untuk menyiapkan tangki-tangki air," katanya kepada kumparan, Rabu (12/6).

Tangki-tangki tersebut, disiagakan untuk menyalurkan air kepada masyarakat di desa-desa yang terdampak kekeringan.

Untuk dapat mengakses bantuan tangki air dari BPBD di tingkat daerah, masyarakat bisa menghubungi melalui petugas setempat. Nantinya, jika memang bantuan dari daerah masing-masing tak memadai, pemprov yang akan turun tangan.

Sudaryanto juga mengatakan institusinya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air dan Penataan Ruang, terutama untuk memetakan waduk-waduk dan elevasi airnya.

Ilustrasi antre air dampak kekeringan Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

"Supaya kita bisa tahu, jadi selain tangki kan waduk juga bermanfaat sekali. Karena yang memanfaatkan air kan tidak manusia saja, pertanian peternakan juga," katanya.

Di sisi lain, lanjut Sudaryanto, dia meminta kepada masyarakat untuk tetap mandiri dalam mengatur dan menggunakan air. Terutama jika telah mengalami kekeringan.

"Kami kan sifatnya hadir, sesuai instruksi Presiden, pemerintah kan hadir. Selanjutnya tetap masyarakat harus mandiri, artinya tidak berlebihan, gunakan air sewajarnya supaya tetap ada dan tidak kekurangan," ujar dia.

Sudaryanto juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap musibah lain yang timbul akibat kekeringan, yakni kebakaran. Blora menjadi salah satu daerah yang paling disorot.

"Daerah-daerah yang banyak hutan, hutan jati, misalnya Blora, gesekan-gesekan dari tumbuhan bisa menimbulkan api. Hati-hati buang puntung rokok, hati-hati kalau bakar sampah. Harus diperhatikan betul lokasinya," kata dia.

Sementara, untuk 4 wilayah yang tidak masuk dalam data daerah terdampak kekeringan antara lain Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.

"Kota Salatiga relatif tidak, ya, karena dia punya sumber air banyak, ada mata air Senjoyo, ada sumber air Kalitaman, terus masih dekat Rawa Pening lagi," ucapnya.