Ridwan Kamil: Demokrasi Kita Bukan Pilih Orang Pintar, Makanya Banyak Pencitraan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat peresmian Masjid Jamie Al Karomah di Desa Tenajar Kecamatan Kertasmaya, Kabupaten Indramayu, Rabu (22/8/2023). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat peresmian Masjid Jamie Al Karomah di Desa Tenajar Kecamatan Kertasmaya, Kabupaten Indramayu, Rabu (22/8/2023). Foto: kumparan

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyoroti demokrasi di Indonesia yang masih belum maksimal. Pria yang akrab disapa Emil itu mengatakan, saat ini masyarakat cenderung memilih pemimpin hanya karena faktor kesukaan, bukan kualitas.

Menurutnya, ini menjadi salah satu kelemahan dari sistem dari demokrasi. Hal ini disampaikan Emil saat menghadiri diskusi bertema Edukasi Pemilih Muda di Balai Purnomo Prawiro Universitas Indonesia, Depok, Rabu (30/8).

"Demokrasi ada kelemahan, demokrasi kita pilih orang yang disukai, bukan pilih orang pinter, berkapasitas untuk dipilih. Jadi wakil rakyat hari ini tidak kuat, nggak identik dengan orang pinter," kata politikus Golkar ini.

"Banyak pemimpin akhirnya tawarkan visi dalam permukaan supaya disukai. Istilahnya pencitraan, branding," imbuh dia.

Artis Aldi Taher berpose kepada wartawan usai mengisi acara di kawasan Tendean, Jakarta, Kamis, (15/6/2023). Foto: Agus Apriyanto

Emil lantas menyinggung artis Aldi Taher yang masuk ke dunia politik dengan unsur komedi. Menurutnya, sosok seperti Aldi Taher cenderung disukai karena menghibur.

"Oh laku (seperti Aldi Taher), karena pemilih kita ke TPS nggak semua rational voters. Kadang-kadang karena maaf ya, kesukaan, penampilannya, dicoblos. Atau apa pun," kata Emil yang memiliki 20,7 juta followers di Instagram ini.

"Tidak tahu kita alasan orang coblos tuh apa, yang penting dia masuk ke hati, disukai. Oh, ternyata gimik main musik, lucu-lucuan, dan disukai, dia punya kans besar," tambahnya.

Emil berharap pemimpin ke depan bisa seimbang saat berpolitik. Tak hanya menarik dan disukai, ia memandang politikus wajib punya visi misi yang baik.

"Ada temuan Facebook. Tipikal orang Indonesia, dia interaksi tinggi kalau kontennya receh. Kalau old school, pidato gitu ya (misalnya), literasi sedikit. Jadi sekarang (itu) tantangannya,"' ungkap dia.

"(Tokoh) receh, makanya disukai. Jadi bagaimana caranya substansi idealis, substantif, tapi gaya sampaikannya entertaining. Jadi political entertain, cara baru bagaimana bisa buat interaksi tinggi, receh seperti tadi, tapi pesanya juga harus ada," jelas Emil.

Warga menggunakan hak politiknya ketika mengikuti Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 02, Pasar Baru, Jakarta, Sabtu (27/4). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Meski ia mengakui, tak mudah bisa menarik simpati anak muda di medsos.

"Pencitraan itu susah. Banyak politisi turun ke medsos, tapi kan nggak natural. Akhirnya interaksi dikit. Pasang baliho di mana-mana, surveinya nggak signifikan. Masyarakat bimbang, nggak semua bisa simpati karena hanya visual," ungkapnya.

"Di era hari ini pemilih meneliti calon pasti lewat digital, makanya pesan saya ke caleg, Anda masuk ke google search. Kalau namanya aja nggak masuk, jangan harap pemilih mudah bersimpati ke Anda," tambah dia.

Ingatkan Pemilih Muda Kritis: Bisa Tentukan Skripsi atau Tidak Skripsi

Sebab itu, Emil juga berpesan kepada masyarakat muda untuk lebih kritis dalam memilih di pemilu mendatang. Ia mengingatkan, pilihan masyarakat menentukan berbagai kebijakan ke depan.

"Nah, Adik-Adik, kita harus naik kelaskan kualitas demokrasi jadi ajang memilih pemimpin berkualitas. Karena keputusan mereka pengaruhi apa sekolah gratis, kesehatan gratis, hak ibu, anak, lansia, itu kan politik," kata dia.

"Politik kan sistem untuk tentukan masa depan. Termasuk apa skripsi, tidak skripsi. Nah itu kan politik yang ditirip ke negara, presiden, menteri," lanjutnya.

Emil mengaku prihatin banyak anak muda masih enggan 'melek' politik. Sehingga ia berharap lebih banyak pemilih muda bisa partisipatif.

"Jadi poin saya, please jangan apatis 2024. Ada surveinya dari 120-an pemilih muda, yamg peduli politik kurang 20% dan itu menyedihkan. Mudah-mudahan tahun depan ikut partisipasi," kata Emil.

"(Disukai) itu fenomena positif, tapi saya sih harap yang terpilih yang betul-betul berkualitas, berkapasitas, karena akan menentukan masa depan hidup kita," tandas dia.