Rio de Janeiro Berdarah! Polisi dan Geng Narkoba Perang Besar, 64 Tewas
·waktu baca 2 menit

Mayat-mayat bergelimpangan di permukiman kumuh di Rio de Janeiro pada Selasa (28/10). Saat itu polisi meluncurkan serbuan mematikan terhadap pengedar narkoba di sana.
Akibatnya sebanyak 64 orang di kawasan tersebut kehilangan nyawa. Sejumlah saksi mata melaporkan penggerebekan itu membuat suasana kota bak medan perang.
Keterangan kepolisian, serbuan tersebut dilakukan 2.500 anggota bersenjata lengkap. Mereka juga mengerahkan kendaraan lapis baja, helikopter hingga drone.
Operasi tersebut, kata kepolisian, menyasar pengedar narkoba utama di Rio de Janeiro, yang berada di dua kawasan kumuh atau dikenal dengan favela di sebelah utara kota itu.
Operasi ini digelar jelang pelaksanaan KTT COP30 yang membahas situasi perubahan iklim. Sejumlah pemimpin negara, selebriti sampai atlet ternama di dunia dijadwalkan hadir pada KTT COP30 yang digelar 10 sampai 21 November 2025 di Brasil.
Saat serbuan polisi berlangsung berbagai laporan mengungkap soal terdengarnya letupan senjata di sekitar bandara. Bahkan pada Selasa sore api terlihat di sejumlah titik di Rio de Janeiro.
Klaim kepolisian para pengedar narkoba membalas dengan menyerang menggunakan drone. Imbasnya warga terpaksa mencari tempat perlindungan dan menutup sejumlah bisnisnya.
Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, mengakui penggerebekan ini merupakan terbesar sepanjang sejarah negara bagian tersebut.
“Sebanyak 60 anggota geng tewas,” kata Castro seperti dikutip dari AFP.
Sumber kantor berita AFP mengungkap serbuan maut ini juga menewaskan sebanyak empat anggota kepolisian.
Adapun Pemerintah Pusat Brasil mengumumkan operasi itu bertujuan menghentikan kartel narkoba bernama Komando Merah memperluas kekuasaan.
