Riset di Jakarta: Vaksin Sinovac Masih Ampuh 79% Cegah Kematian Usai 6 Bulan
ยทwaktu baca 2 menit

Tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam penanganan pasien corona. Risiko tertular sangatlah tinggi terutama di wilayah dengan tingkat penyebaran yang juga tinggi, salah satunya DKI Jakarta.
Berdasarkan studi terbaru di Kementerian Kesehatan, terjadi peningkatan jumlah tenaga kesehatan yang terinfeksi corona di Jakarta pada periode April-Juni 2021. Studi ini melibatkan observasi terhadap 71.455 tenaga kesehatan. Seluruh tenaga kesehatan tersebut telah mendapatkan vaksin secara lengkap atau dua dosis.
Kenaikan ini dibandingkan dengan periode sebelumnya yakni Januari-Maret 2021. Pada saat itu, terdapat 473 (0,98%) tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap dan terinfeksi.
Sementara pada periode kedua, ada 2.548 tenaga kesehatan yang juga terinfeksi. Itu berarti, kenaikan yang terjadi ini sekitar 5%.
Walau demikian, data menunjukkan bahwa para tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap relatif memiliki ketahanan yang lebih lama untuk terinfeksi dibanding dengan tenaga kesehatan yang belum mendapatkan vaksinasi.
"Tenaga Kesehatan yang divaksinasi lengkap rata-rata terinfeksi COVID-19 pada 16 minggu atau 4 bulan setelah mendapatkan dosis kedua. Sementara, pada Tenaga Kesehatan yang belum divaksinasi, rata-rata terinfeksi COVID-19 setelah 3 minggu sejak hari pertama observasi dimulai; jauh lebih cepat terinfeksi COVID-19," tulis dalam laporan hasil studi tersebut.
Pada periode April-Juni, proporsi Tenaga Kesehatan yang divaksin lengkap dan dirawat berkurang hingga 6x lebih rendah (3,3%) dari periode Januari-Maret yang sebesar 18%.
Untuk tingkat fatalitas atau kematian, persentase risiko tersebut jauh lebih rendah pada tenaga kesehatan yang telah divaksin secara lengkap. Dari 20 orang tenaga kesehatan yang meninggal akibat COVID-19 sepanjang Januari-Juni, 75% di antaranya merupakan yang belum mendapatkan vaksin lengkap atau baru mendapat dosis pertama.
Secara keseluruhan, meningkatnya jumlah tenaga kesehatan yang terinfeksi meski sudah divaksin lengkap ini menunjukkan adanya penurunan efektivitas dari vaksin Sinovac.
Bila pada Januari-Maret efektivitasnya terhadap penularan mencapai 86%, maka kini terdapat penurunan sebanyak 19% yakni 65%. Efektivitas vaksin ini dalam mencegah perawatan berkurang dari 74% menjadi 53%.
Sementara, efektivitas Sinovac dalam mencegah kematian adalah 95% (53-99%) pada bulan Januari-Maret, berkurang menjadi 79% (20-94%) pada periode April-Juni 2021.
"Pada periode Januari-Maret, vaksin CoronaVac cukup efektif dalam mencegah infeksi COVID-19. Namun, pada periode April-Juni, vaksinasi lengkap kurang cukup melindungi Tenaga Kesehatan dari infeksi COVID-19. Meskipun demikian, vaksinasi lengkap masih efektif melindungi dari risiko perawatan dan kematian akibat COVID-19," tulis kesimpulan dalam laporan Kemenkes ini.
