Riset SSI: Kehadiran Fisik di Daerah Jadi Magnet Sentimen Positif Prabowo

Sintesa Strategi Indonesia (SSI) melalui platform pemantauan digital Datalinker merilis hasil penelitian mengenai persepsi publik terhadap Presiden Prabowo Subianto di ruang digital.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana citra Presiden terbentuk di internet, sekaligus mengukur kontribusi Wakil Presiden, menteri, dan institusi pemerintah terhadap pembentukan sentimen positif maupun negatif terhadap Presiden.
Menurut SSI, kajian tersebut dilatarbelakangi persepsi bahwa Prabowo masih menjadi figur utama yang menanggung beban komunikasi pemerintahan. Berbagai persoalan teknis di kementerian, implementasi program, hingga kontroversi yang berkembang di ruang publik dinilai kerap bermuara pada persepsi terhadap Presiden.
Sementara itu, komunikasi jajaran kabinet dinilai belum sepenuhnya terintegrasi dalam menjelaskan maupun memperkuat kebijakan pemerintah.
Percakapan Didominasi Media Sosial
SSI mencatat ruang digital masih didominasi percakapan di media sosial yang mencapai sekitar 71 persen dari keseluruhan pembahasan mengenai Presiden Prabowo. Adapun media online menyumbang sekitar 29 persen.
Temuan tersebut menunjukkan pembentukan persepsi publik terhadap Presiden lebih banyak berlangsung melalui interaksi pengguna media sosial dibandingkan pemberitaan media daring.
Dari sisi sentimen, persepsi publik terhadap Presiden Prabowo cenderung positif. SSI mencatat sentimen positif sebesar 41,5 persen, sentimen negatif 13,8 persen, sedangkan 44,7 persen percakapan bersifat netral.
"Persepsi publik terhadap Prabowo masih cenderung positif. Dengan sentimen positif mencapai 41,5%, lebih tinggi dibanding sentimen negatif 13,8%, sedangkan 44,7% percakapan bersifat netral. Angka sentimen positif masih di bawah 50% sehingga belum mendapatkan legitimasi mayoritas," kata Direktur SSI Ikrama Masloman dalam keterangannya, Jumat (3/7).
SSI menilai dominasi sentimen positif belum dapat dikategorikan sebagai mayoritas absolut karena masih berada di bawah 50 persen.
Sementara itu, analisis terhadap tone percakapan menunjukkan bahasa bernada kritis mencapai sekitar 17 persen, lebih tinggi dibandingkan sikap kontra sebesar 14,3 persen maupun sentimen bermuatan emosi negatif sebesar 13,8 persen.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian kritik yang muncul lebih banyak diarahkan pada kebijakan, implementasi program, maupun dinamika pemerintahan dibandingkan penolakan langsung terhadap figur Presiden," ujar Ikrama.
Kehadiran di Daerah Dongkrak Sentimen Positif
SSI mencatat pada awal periode penelitian, percakapan publik didominasi sentimen netral hingga negatif. Kondisi tersebut dipengaruhi pembahasan RUU Polri, RAPBN, serta berbagai isu ekonomi nasional.
"Pada periode ini, kritik di media sosial terutama muncul terhadap arah kebijakan pemerintah serta berbagai isu politik yang berkembang," kata Ikrama.
Memasuki pertengahan periode penelitian, sentimen mulai membaik seiring pemerintah aktif menyampaikan perkembangan investasi nasional dan optimisme ekonomi melalui berbagai kementerian.
Menurut SSI, sentimen positif mencapai puncaknya menjelang akhir periode penelitian saat Presiden Prabowo menghadiri Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo serta membuka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026.
SSI menilai kehadiran langsung Presiden dalam agenda di daerah menjadi faktor yang memperkuat persepsi positif di ruang digital, meski kritik terhadap gaya komunikasi dan pidato Presiden tetap muncul di media sosial.
Komunikasi Kabinet Dinilai Belum Menjadi Penyangga
SSI juga menemukan komunikasi pemerintahan masih sangat bertumpu pada figur Presiden.
Dari total lebih dari 231 juta paparan konten mengenai Prabowo, kurang dari 20 persen yang secara langsung berkaitan dengan nama Wakil Presiden maupun para menteri. Dari jumlah tersebut, lebih dari 33 juta paparan berasal dari 10 anggota kabinet dengan tingkat eksposur tertinggi.
"Mayoritas kabinet belum menjadi penyangga citra Presiden. Komunikasi pemerintahan masih bertumpu pada figur Presiden. Dari 231,4 juta paparan konten terkait Prabowo, kurang dari 20% yang berkaitan langsung dengan nama anggota kabinet, di mana lebih dari 33 juta terpaan disumbang dari 10 besar nama kabinet Tier 1," kata Ikrama.
SSI membagi eksposur anggota kabinet ke dalam tiga kelompok.
Kelompok Tier 1 atau dominan terdiri atas Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, Nanik, Letkol Teddy, dan Purbaya.
Kelompok Tier 2 terdiri atas Qodari, Amran Sulaiman, Fadli Zon, Prasetyo Hadi, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Sementara sebagian besar anggota kabinet lainnya berada pada kelompok dengan eksposur rendah.
"Hanya sedikit menteri yang berkontribusi signifikan terhadap persepsi publik. Bahlil Lahadalia menjadi penyumbang sentimen positif terbesar (40,1%). Gibran Rakabuming menjadi penyumbang sentimen negatif terbesar (27,1%). Qodari mencatat sentimen positif tertinggi pada kelompok Tier 2 menengah (73,3%)," ujar Ikrama.
Metodologi Penelitian
Penelitian dilakukan melalui pemantauan platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online pada periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026.
Data dikumpulkan menggunakan metode keyword-based crawling, kemudian melalui proses seleksi relevansi, penghapusan data duplikat, klasifikasi otomatis berbasis kecerdasan artifisial, serta validasi oleh tim peneliti.
