Risiko Infeksi Salmonella di Kasus Bayi Dicekoki Telur Mentah: Demam-Infeksi

Kasus bayi bernama Alena yang meninggal dunia pada usia 28 hari setelah diberi makan telur mentah oleh neneknya menjadi perhatian luas.
Kasus ini bermula saat Alena mengalami demam tinggi, lalu diberi telur mentah oleh neneknya yang mempercayai tradisi bahwa olahan tersebut dapat meredakan sakit dan meningkatkan imunitas.
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai dari konsumsi telur mentah adalah infeksi bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan hingga komplikasi serius.
Alena meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak menyampaikan informasi yang dia terima, ada infeksi serius di saluran pencernaan Alena.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), mengingatkan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan.
IDAI menegaskan telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak karena berisiko mengandung bakteri Salmonella.
"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," kata Piprim dalam keterangannya, Senin (12/10).
Gejala Infeksi Salmonella
Infeksi Salmonella atau salmonelosis dapat terjadi ketika seseorang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut. Telur mentah maupun telur yang tidak dimasak hingga matang menjadi salah satu sumber risiko kontaminasi.
Gejala yang dapat muncul antara lain diare, demam, nyeri atau kram perut, mual, dan muntah. Keluhan biasanya muncul dalam rentang enam jam hingga enam hari setelah terpapar, meskipun waktunya dapat berbeda pada setiap orang.
Pada bayi, diare dan muntah perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kehilangan cairan dengan cepat. Kondisi tersebut berpotensi memicu dehidrasi, terutama pada bayi baru lahir yang lebih rentan mengalami gangguan keseimbangan cairan.
"Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius," ujarnya.
Tanda dehidrasi pada bayi dapat berupa berkurangnya jumlah popok basah, mulut kering, sulit menyusu, serta kondisi tubuh yang tampak lemas atau lebih mengantuk dari biasanya.
Orang tua perlu segera membawa bayi untuk mendapatkan pemeriksaan medis apabila mengalami diare, muntah berulang, kesulitan menyusu, atau tampak lemas. Khusus bayi berusia di bawah tiga bulan, suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih memerlukan penilaian medis segera.
Berisiko Menyebabkan Komplikasi Serius
Dalam kondisi tertentu, infeksi Salmonella tidak hanya menyerang saluran pencernaan, tetapi juga dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan infeksi berat. Risiko komplikasi lebih tinggi pada bayi, anak kecil, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Infeksi berat dapat berkembang menjadi bakteremia atau sepsis, yakni kondisi ketika infeksi memicu respons tubuh yang mengancam nyawa. Penanganan medis diperlukan untuk menilai tingkat keparahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Karena itu, IDAI menekankan pentingnya memastikan makanan yang diberikan kepada bayi aman dikonsumsi dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Telur Tetap Bisa Menjadi Menu MPASI
Piprim menjelaskan bahwa telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan anak.
"Telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting bagi pertumbuhan anak," jelas Piprim.
Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan makanan pendamping ASI (MPASI) ketika bayi telah mencapai usia dan kesiapan untuk menerima makanan. Telur perlu dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang untuk mengurangi risiko infeksi.
Piprim merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, ASI dilanjutkan bersama MPASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih.
Pemberian MPASI secara umum dimulai pada usia enam bulan. Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. Sementara itu, pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
IDAI juga mengingatkan orang tua untuk menjaga kebersihan tangan dan peralatan masak, menyimpan telur dengan benar, serta mencegah kontaminasi silang antara bahan makanan mentah dan makanan siap konsumsi.
