Ritual Suku Aymara untuk Menangi Sengketa Internasional

Bayangkan jika kita menjadi negara yang tak memiliki laut. Tentunya jika diberi waktu seharian pun kita akan sulit membayangkannya. Laut ibarat sumber kehidupan, Indonesia tanpa laut ya bukan Indonesia.
Namun hal itu lah yang dialami 44 negara di dunia dan dirasakan oleh sekitar 470 juta penduduk dunia, salah satunya adalah Bolivia. Mereka tak memiliki lautan.
Selama 133 tahun Bolivia hidup tanpa laut akibat kekalahannya dari Chile dalam perang pasifik. Di sinilah pahitnya menjadi Bolivia, dimana sebenarnya mereka memiliki sebagian besar wilyah gurun Atacama yang memiliki akses terhadap laut.
Sebuah perjanjian pasca kekalahan dalam perang yang berlangsung dari tahun 1979 sampai 1983 tersebut, membuat Bolivia harus merelakannya kawasan kini menjadi salah satu sumber pendapatan Chile dengan limpahan tembaganya. Lautan yang dapat menjadi akses perdagangan, keamanan, pariwisata dan perikanan pun ikut lenyap.

Selama berpuluh-puluh tahun hidup tanpa laut, Bolivia terus mencoba melakukan negosiasi dan bahkan membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional. Salah satu nya dilakukan pada tahun 2013 dimana Presiden Bolivia, Evo Morales menuntut agar Chile mau bernegosiasi dengan itikad yang baik terkait pemberian akses laut kepada Bolivia.
Upaya-upaya Bolivia untuk menekan Chile terus dilakukan hingga tahun 2017 ini.

Dalam rangkaian acara menyambut "Hari Laut" pada Selasa (21/3) lalu, sebagai peringatan terhadap "Perang Calama", salah satu perang yang membuat Bolivia kalah dalam Perang Pasifik, warga Bolivia menggelar aksi doa bersama. Uniknya, aksi doa bersama tersebut disertai dengan ritual suku Aymara yang merupakan penduduk asli pegunungan Andes, Bolivia.
Ritual dilakukan untuk memberi keberuntungan bagi Bolivia di Mahkamah Internasional terkait kasus sengketa wilayahnya dengan Chile. Bahkan Presiden Evo Morales turut serta dalam ritual adat tersebut, padahal hanya 3,1 persen dari warga Bolivia yang masih memeluk kepercayaan adat atau jika di Indonesia sering disebut dengan "Kejawen".

Dalam ritual tersebut ada beberapa dewa yang dimintai berkahnya diantaranya adalah Dewa Ekeko yang dianggap suku Aymara sebagai dewa keberuntunga dan Dewi Pachamama yang dianggap sebagai dewi yang mengendalikan bumi. Ritual dipimpin oleh para dukun suku Aymara yang datang langsung dari pegunungan Andes.

Usut punya usut ternyata Evo Morales sendiri terlahir sebagai bagian dari suku Aymara. Bahkan ia merupakan presiden pertama yang berasal dari suku asli Bolivia.

Selain diisi dengan ritual adat, aksi ini juga diikuti oleh barisan pelaut sebagai simbol keyakinan bahwa suatu saat Bolivia akan kembali meraih kawasan lautnya.
Meski kita tak akan pernah tahu tingkat keberhasilan dan seberapa berpengaruhnya aksi takhayul ini, namun bagi Bolivia yang ingin merebut kembali wilayah yang dirindukannya tersebut, hal-hal seperti ini tidak ada salahnya untuk dicoba.



