Riwayat Gempa Diikuti Tsunami di Pulau-pulau Indonesia: Terbanyak di Sulawesi

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pesisir pantai pasca gempa bumi dan tsunami di Kab. Donggala, Palu, Sulawesi Tengah. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pesisir pantai pasca gempa bumi dan tsunami di Kab. Donggala, Palu, Sulawesi Tengah. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dalam beberapa hari terakhir, rentetan bencana gempa bumi melanda wilayah Sulawesi Barat. Gempa yang berpusat di Majene itu membuat sejumlah gedung rusak dan menewaskan 49 orang.

Walau rentetan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan tsunami bisa saja terjadi apabila ada gempa susulan yang besar.

"Memungkinkan untuk terjadinya longsor ke dalam laut atau longsor bawah laut. Sehingga masih dapat pula berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa masih di pantai atau bahkan pinggir laut," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat konferensi pers virtual, Jumat (15/1).

Ancaman gempa yang diikuti oleh tsunami di wilayah Sulawesi tidak ada salahnya diwaspadai. Sebab, Sulawesi menilik riwayat kejadian tsunami paling sering di Indonesia semenjak tahun 1820.

embed from external kumparan

Berdasarkan data yang dikumpulkan Kabid Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono, ada 24 kali kejadian tsunami di pulau itu.

Selanjutnya, kejadian tsunami terbanyak diikuti pulau Bali-NTB-NTT (16 kali), Sumatera (15 kali), Banda (14 kali), Maluku Utara (10 kali), Jawa (8 kali), dan Papua (8 kali). Kejadian di Sulawesi sendiri menyumbang 25,26 persen atau seperempat dari seluruh kejadian tsunami di Indonesia.

embed from external kumparan

Bencana gempa yang diikuti oleh tsunami di Sulawesi tercatat sudah terjadi sejak tahun 1820 dalam sumber yang dikompilasi Daryono.

Adapun dalam Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416-2018 terbitan BMKG, gempa di Sulawesi pertama kali tercatat 8 Februari 1845. Kala itu gempa berkekuatan 7 magnitudo yang berpusat di Laut Sulawesi, mengguncang Manado.

"Air laut tersedot menjauhi pantai dan pelabuhan, kemudian kembali lagi," demikian catatan pengamatan dalam buku tersebut. Tak dijelaskan berapa jumlah korban meninggal dan tinggi air dalam tsunami ini.

Dari data sebaran dan tahun gempa-tsunami di Sulawesi yang dikumpulkan oleh Daryono, kumparan mengklasifikasikannya dalam tabel rentang waktu. Hasilnya, kejadian gempa-tsunami di Sulawesi paling sering terjadi pada rentang 1920-1939 dan 1840-1859 yang masing-masing berjumlah 7 dan 6 kali.

embed from external kumparan

Teranyar, gempa yang mengakibatkan tsunami di Sulawesi terjadi pada 2018. Saat itu, gempa 7,7 magnitudo di darat mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah.

Gempa di Sulteng tersebut memicu longsor di bibir pantai dekat teluk Palu yang menyebabkan tsunami. Lokasi sumber tsunami yang dekat daratan membuat air tiba sangat cepat sehingga banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri. BMKG mencatat total ada 2.037 korban jiwa akibat tsunami tersebut.

"Tinggi gelombang di pantai antara 2-7 meter. Jatuhnya korban dengan jumlah besar juga disebabkan oleh bencana liquifaksi," tulis BMKG di Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416-2018.

Pantauan udara wilayah Balaroa yang hancur akibat gempa bumi, Palu, Sulawesi Tengah. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Daryono menambahkan, sejarah gempa di Sulawesi menunjukkan potret kerawanan gempa di wilayah itu. Ia menggarisbawahi betapa aktif dan kompleks aktivitas tektonik di sana. Dengan begitu, menurut dia, sangat penting untuk menyiapkan mitigasi gempa dan tsunami di Sulawesi.

"Harus ekstra kuat dalam edukasi dan mitigasi gempabumi dan tsunami. Paling tidak harus berangkat dari diri sendiri dan keluarga jangan bergantung pihak lain, karena keselamatan ini dapat disebut tanggung jawab masing-masing individu," kata Daryono kepada kumparan, Sabtu (16/1).

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono Foto: Utomo Priyambodo/kumparan

"Atau membangun rumah aman gempa yang terbuat dari kayu dan bambu yang didesain menarik," kata dia.

Selain itu, Daryono juga menyebut perlunya penataan pembangunan ruang di wilayah pantai. Hal itu dimaksudkan agar wilayah pantai aman dari ancaman tsunami.

"Tidak bangun permukiman di tepi-tepi pantai (dan) memahami evakuasi mandiri karena banyak sumber gempa dekat pantai," tandas Daryono.

embed from external kumparan