Riwayat Sade: Kampung Adat Berusia 500 Tahun di NTB yang Habis Terbakar

Kampung Adat Sade yang berada di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, selama bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Pulau Lombok.
Kawasan ini dikenal sebagai permukiman masyarakat Suku Sasak yang masih mempertahankan rumah tradisional, tenun, kesenian, adat istiadat dan kehidupan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sade bukan hanya tempat wisata. Di balik rumah-rumah tradisional yang menjadi daya tarik pengunjung, kawasan tersebut merupakan tempat warga menjalani kehidupan sehari-hari sekaligus mempertahankan identitas budaya mereka.
Sejarah mencatat, Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu permukiman tradisional yang telah dihuni sejak sekitar abad ke-16. Bahkan ada yang menyebut bahwa desa tersebut sudah ada sejak 500 tahun yang lalu.
Di tengah perkembangan zaman dan pariwisata modern, masyarakat Sade tetap mempertahankan berbagai warisan leluhur. Kawasan ini mulai dikembangkan sebagai desa wisata pada 1989 dan kemudian dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Lombok.
Salah satu ciri khas Sade terlihat pada rumah-rumah tradisionalnya yang menggunakan bahan alami, seperti bambu, kayu, serta alang-alang atau jerami sebagai penutup atap. Perawatan lantai rumah dengan bahan yang berasal dari kotoran kerbau juga menjadi salah satu pengetahuan tradisional yang masih dikenal masyarakat setempat hingga saat ini.
Pelestarian budaya di Sade tidak berhenti pada bentuk rumah. Warga juga mempertahankan berbagai aturan adat, tradisi perkawinan merariq, serta keterampilan menenun yang secara turun-temurun diajarkan kepada perempuan Sasak.
Perpaduan antara permukiman tradisional, kehidupan masyarakat, kerajinan tenun, dan adat istiadat tersebut membuat Sade menjadi salah satu kawasan penting dalam pelestarian budaya Sasak sekaligus destinasi wisata budaya di Pulau Lombok.
Karena itulah, Desa Sade mulai padat dikunjungi oleh wisatawan. Karena di Sade, seluruh adat istiadat, budaya dan tradisi masyarakat secara turun temurun masih dipertahankan.
Semandiarta, Ketua RT Dusun Sade 1 yang juga menjadi pemandu wisata, mengatakan ramainya kunjungan wisatawan telah menjadi bagian dari kehidupan warga Sade selama bertahun-tahun.
“Dulu setiap hari siapa pun dan dari mana pun, wisatawan ke Lombok pasti berkunjung ke Desa Sade,” ujar Semandiarta saat ditemui kumparan Minggu (23/8).
Tingginya kunjungan wisatawan memang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Data kunjungan pada awal 2026 menunjukkan, pada hari biasa, Sade dapat menerima sekitar 200 wisatawan per hari. Ketika memasuki musim liburan, jumlahnya bisa meningkat hingga mendekati 1.000 orang dalam sehari. Wisatawan yang datang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Aktivitas wisata tersebut memberikan penghasilan tambahan bagi warga. Selain menjual kain tenun dan kerajinan, masyarakat mendapatkan pemasukan dari jasa pemandu, penyewaan pakaian adat, serta berbagai aktivitas lain yang berkaitan dengan kunjungan wisatawan.
Sade, Riwayatmu Kini
Namun, suasana Sade yang selama ini ramai berubah drastis pada Sabtu, 22 Agustus 2026, malam. Kebakaran besar melanda kawasan permukiman adat tersebut sekitar pukul 22.00 Wita.
Api pertama kali terlihat dari salah satu rumah warga. Kobaran kemudian dengan cepat membesar dan menjalar ke bangunan lain yang berada di sekitar lokasi.
Semandiarta menceritakan, saat api mulai muncul sebagian warga sedang tertidur. Sebagian lainnya berada di luar kampung karena menghadiri acara pernikahan adat di desa sekitar.
Warga yang mengetahui kebakaran berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ember dan selang digunakan untuk mengambil air dan menyiram bangunan yang terbakar.
“Di dalam kampung ini kosong. Setelah api membesar, kami berusaha padamkan api dengan air ember,” katanya.
Upaya tersebut dilakukan hanya oleh beberapa orang. Posisi rumah yang pertama terbakar berada di bagian atas permukiman sehingga api dengan cepat bergerak ke bangunan lain di bawahnya.
“Kami hanya berlima yang padamkan api. Kalau mungkin 20 orang, bisa kami tahan apinya agar tidak menjalar,” ujarnya.
Kondisi semakin sulit setelah aliran listrik padam. Mesin air tidak dapat digunakan sehingga warga hanya mengandalkan ember dan selang untuk mendapatkan air.
Warga akhirnya lebih banyak berupaya menyelamatkan diri dan membawa barang-barang yang masih bisa diamankan. Namun, sejumlah harta benda tidak berhasil diselamatkan, termasuk kain tenun dan peralatan menenun yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi serta budaya masyarakat.
Menurut Semandiarta, sekitar 500 warga terdampak dalam peristiwa tersebut. Sejumlah rumah serta fasilitas di kawasan Sade, termasuk masjid, berugak adat sekenam, berugak sekempat, lumbung, art shop warga dan kamar mandi untuk wisatawan, turut terbakar.
“Seluruhnya hangus terbakar,” katanya.
Sehari setelah kebakaran, wajah Sade berubah. Rumah-rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal warga sekaligus bagian dari lanskap wisata budaya kini menyisakan puing. Tiang kayu tampak menghitam, sementara atap dan bagian bangunan lainnya runtuh ke tanah.
Tidak hanya bangunan tempat tinggal, kebakaran juga menghilangkan sejumlah ruang yang selama ini digunakan warga untuk menjalankan aktivitas sosial, budaya dan ekonomi.
Kondisi tersebut membuat kerugian yang dirasakan warga tidak hanya berupa kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Sejumlah perlengkapan menenun dan hasil kerajinan yang menjadi sumber penghasilan ikut terbakar.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran. Tim Inafis Polres Lombok Tengah bersama personel Polda NTB turun melakukan olah tempat kejadian perkara, terutama di rumah yang diduga menjadi lokasi awal munculnya api.
Kapolres Lombok Tengah Kombes Pol Hariyanto mengatakan pemeriksaan awal dilakukan untuk mencari petunjuk mengenai penyebab kebakaran. Tim Laboratorium Forensik juga dijadwalkan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Ya, saat ini sedang dilakukan olah TKP untuk mengetahui penyebab kebakaran. Besok baru tim laboratorium forensik akan turun ke lokasi,” ujar Hariyanto.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah sementara memprioritaskan penanganan warga. Bupati Lombok Tengah Lalu Fathul Bahri mengatakan pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis warga menjadi perhatian sebelum pemerintah membahas pembangunan kembali bangunan yang terbakar.
“Kami sedang konsentrasi untuk penghuninya dulu, trauma healing kesehatan, urusan bangunannya nanti kita pikirkan,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari sejumlah publik figur. Raffi Ahmad bersama Nagita Slavina, Ariel Noah, Gading Marten dan Desta mendatangi lokasi untuk melihat kondisi warga dan memberikan bantuan.
Bagi Ariel, kunjungan tersebut terasa berbeda karena beberapa bulan sebelumnya ia bersama The Dudas sempat membuat konten di Kampung Adat Sade.
“Kan kita sudah bikin konten beberapa bulan lalu di sini, pas sekarang ke sini, aduh, kebakaran,” kata Ariel.
Nagita Slavina yang baru pertama kali datang ke Sade juga mengaku sedih melihat kondisi kawasan tersebut setelah kebakaran.
“Aku belum pernah ke sini, ini pertama kali. Pasti sedih ya,” ujarnya.
Sebelum kebakaran, Sade merupakan ruang hidup yang mempertemukan kehidupan masyarakat Sasak dengan aktivitas pariwisata. Wisatawan datang untuk melihat rumah tradisional, mengenal adat, menyaksikan aktivitas menenun, membeli kerajinan, hingga mendapatkan penjelasan langsung dari warga mengenai kehidupan masyarakat setempat.
Kini sebagian dari ruang tersebut telah berubah menjadi puing.
Bagi masyarakat Sade, pekerjaan setelah kebakaran bukan hanya membangun kembali rumah yang rusak. Ada kehidupan warga, mata pencaharian, ruang sosial dan berbagai unsur budaya yang harus dipulihkan.
Karena itu, pemulihan Sade ke depan tidak hanya akan menentukan bagaimana kawasan tersebut kembali berdiri secara fisik, tetapi juga bagaimana tradisi, benda benda budaya dan kehidupan masyarakat Sasak di dalamnya tetap dapat dipertahankan setelah musibah.
"Kami sedang mendata seluruhnya, apa saja dari situs budaya yang hilang akibat kebakaran. Istilahnya tanggap darurat. Yang pertama tentu manusianya atau warga yang terdampak kemudian benda benda budaya yang masih tersisa," kata Lalu Idham Halik, Kadis Kebudayaan Lombok Tengah.
"Benda benda itu seperti manuskrip kuno, peralatan acara adat, bahan dan alat tenun termasuk rumah adat sebagai situs sejarah warga sasak. Itu yang sedang kita data," tutup Idham.
