Robert Edward Lee, Tokoh Patung yang Memicu Kerusuhan Virginia

Namanya disanjung-sanjung, hingga akhirnya sebuah patung pun didirikan untuk mengenang dirinya di Charlottesville, Virginia. Ia adalah Robert Edward Lee.
Lee lahir pada 19 Januari 1807. Ia lulus dari sekolah militer West Point, lalu terlibat dalam berbagai peperangan antara Amerika Serikat dan Meksiko.
Dalam peperangan, Lee dilatih oleh Jenderal Winfield Scott, yang setelahnya menawarkan posisi untuk memimpin perlawanan terhadap area Selatan. Namun Lee menolak karena perlawanan itu hanya menjadi pengkhianatan terhadap tanah kelahirannya sendiri, yaitu Virginia.
Lee akhirnya menerima posisi untuk memimpin pasukan Confederate, ‘ikatan’ yang terdiri dari 11 ‘pemegang’ kelompok budak yang memproklamirkan diri sebagai negara--walaupun dirinya tak pernah punya pengalaman dalam memimpin pasukan perang.
Selama menjadi pemimpin pasukan, Lee beberapa kali berhasil memenangkan perang melawan Union. Namun, kerap kali dia dihadang hingga akhirnya dikalahkan oleh George Meade, pemimpin pasukan Union. Para sejarawan beropini kekalahan Lee diakibatkan perhitungan dan strategi perang yang kurang baik.
Sebagai seorang anggota militer, Lee tak pernah benar-benar memiliki kekayaan melimpah. Namun, ia ‘diwarisi’ dengan beberapa budak yang pernah dirawat ibunya. Lee pun akhirnya menikahi seorang perempuan dari keluarga karya yang bergerak sebagai ‘pemegang’ budak.
Beberapa dokumentasi sejarah menyatakan sosok Lee sebagai tuan yang kejam terhadap para budak. Tak jarang kekerasan dengan mudahnya dilakukan terhadap budak yang mencoba untuk kabur karena tak tahan dengan perlakuan Lee yang sangat kejam.

Setelah perang sipil, Lee mendorong pembangunan monumen untuk Confederate untuk memperingati dirinya sendiri.
Setelah kematian Lee, masyarakat bagian selatan merayakan sejarah “The Lost Cause”--perang di mana Lee dikalahkan oleh Union-- dengan menempatkan Lee sebagai tokoh sentral yang tetap berjuang memenangkan peperangan walau kemungkinan untuk menang sudah begitu tipis.
Narasi tentang The Lost Cause yang menempatkan Lee sebagai tokoh utama dan menyandang gelar pahlawan nyatanya mengubur fakta bahwa Lee pernah menjadi pemilik budak yang kejam dan kerap menyiksa.
Setelah gerakan hak sipil mulai lahir dan bergulung, masyarakat kulit hitam dan latin mulai mendorong dan memaksa pemerintah untuk menurunkan patung Lee dan monumen Confederate lainnya, seperti di New Orleans, Houston dan Carolina Selatan. Penurunan patung dan pembongkaran monumen didasarkan pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh para pendukung supremasi kulit putih dan menggunakan simbol Confederate sebagai junjungannya.
Di tahun ini, perdebatan untuk meruntuhkan patung Lee dari taman kota telah meruncing dari berbagai pihak yang saling berlawanan. Perdebatan ini lantas memicu demonstrasi saling tanding di Charlottesville pada Sabtu (12/8) lalu. Kericuhan pun akhirnya terjadi antara para pendukung supremasi kulit putih dan neo-Nazi dengan para aktivis HAM.
Dalam kericuhan ini, sebuah mobil menerjang kerumunan demonstran yang menolak supremasi kulit putih dan neo-Nazi. Seorang aktivis HAM Heather Heyer pun menjadi korban jiwa, sementara puluhan lainnya terluka.
