Rocky Gerung dan Sejarah Kata Bajingan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rocky Gerung saat diwawancara di kantor kumparan. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rocky Gerung saat diwawancara di kantor kumparan. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Rocky Gerung terkenal dengan gaya bicaranya yang tajam, analitis, dan kontroversial. Bukan rahasia juga Rocky yang dikenal sebagai dosen filsafat ini juga sering melontarkan kritik ke pemerintah, khususnya ke Presiden Jokowi.

Belakangan ia ramai dibicarakan karena pernyataan dan kritiknya soal pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) oleh Presiden Jokowi. Salah satu yang diributkan dan berujung laporan ke polisi adalah kalimat 'bajingan tolol' yang diungkapkannya.

"Begitu Jokowi kehilangan kekuasaan dia jadi rakyat biasa, enggak ada yang peduli nanti. Tapi ambisi Jokowi adalah pertahankan legacy. Dia masih ke China nawarin IKN. Masih mondar-mandir dari ke koalisi ke koalisi lain, cari kejelasan nasibnya," ujar Rocky dalam video yang viral di media sosial, dikutip Selasa (1/8).

Video itu menampilkan Rocky Gerung yang berpidato di depan massa buruh di Kota Bekasi pada 29 Juli 2023, berdasarkan backdrop yang terlihat di video.

Video panjang pidato itu diunggah di kanal YouTube Rocky Gerung maupun kanal YouTube pengamat politik dan hukum Refly Harun.

"Dia pikirin nasibnya sendiri, dia nggak pikirin kita. Itu bajingan yang tolol. Kalau dia bajingan pintar, dia mau terima berdebat dengan Jumhur Hidayat, tapi bajingan tolol sekaligus pengecut. Bajingan tapi pengecut," ucap Rocky dalam video tersebut.

Rocky dilaporkan ke polisi oleh beberapa pihak terkait hal ini. Ia pun telah memberikan respons singkat terkait laporan tersebut.

"Pandangan politik saya harus dihormati. Seperti saya menghormati pandangan para pemuji Presiden Joko Widodo," ujar Rocky saat dihubungi kumparan, Senin (31/7).

Pidato Rocky Gerung saat sebut "bajingan totol". Foto: Youtube/Rocky Gerung Official

Yang menarik, Rocky sebelumnya juga dikenal sebagai pembicara ulung dengan kata-kata yang menarik perhatian. Ia juga sempat ramai karena kerap mengeluarkan kata-kata pemerintah 'dungu'.

Soal 'bajingan tolol', rupanya menjadi diksi menarik untuk dibahas. Dari sejarah, kata bajingan sebenarnya sudah mengalami pergeseran makna.

Berikut ulasan kumparan soal makna dan sejarah kata bajingan:

Dikutip dari National Geographic, pada abad ke-16 atau era Mataram Islam, kata bajingan sudah dikenal. Ia adalah profesi yang umum bagi masyarakat Jawa.

Ia adalah pengendali gerobak sapi yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi.

Sedangkan sumber lainnya menyebut, ada dua versi tentang sebutan bajingan pada pengendali gerobak sapi. Versi pertama adalah orang yang memang mengendalikan jalannya sapi, sedangkan versi kedua adalah para pengawal yang disewa oleh saudagar pemilik gerobak sapi demi keamanan muatannya dari bahaya perampokan.

Pengendara gerobak sapi melintas di jembatan saluran pengendali banjir yang baru dioperasikan di Desa Bangga, Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (24/5/2022). Foto: Basri Marzuki/Antara Foto

Jasa para bajingan juga dahulu digunakan oleh para kepala daerah seperti lurah, bekel, kuwu atau bupati untuk mengangkut pajak hasil bumi.

Di daerah Kebumen sampai Banyumas, gerobak sapi digunakan bajingan untuk mengangkut batu bata atau batang-batang bambu dari desa ke kota. Biasanya gerobak berangkat tengah malam atau dini hari supaya sampai di kota tidak terlalu siang karena pada zaman itu begitu sulitnya mendapatkan transportasi umum.

Skripsi tentang Makna Bajingan

Dito Ardhi Firmansyah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 2018 membahas soal makna bajingan dalam skripsi berjudul "Konstruksi Makna Kata Bajingan. (Studi Etnografi Perubahan Makna Kata Bajingan dalam Komunitas Kusir Gerobak Sapi di Bantul Yogyakarta)".

Dito menulis, ada keakraban dan kebersamaan antara anggota komunitas gerobak sapi yang mempunyai julukan sebagai seorang bajingan (kusir gerobak sapi) dengan masyarakat sekitar.

Dito menyebut, bahkan hingga saat ini masih ada komunitas kusir gerobak sapi atau bajingan tadi. Kurang lebih ada 50 orang anggota yang kerap mengikuti festival atau kirab budaya yang dihelat Pemda DIY.

Ilustrasi kusir dan gerobak sapi. Foto: Shutterstock

Lantas mengapa kata 'bajingan' sekarang seakan berkonotasi negatif?

Berdasar skripsi Dito, ada seorang anggota komunitas bajingan yang menganalisis. Kutipannya sebagai berikut:

“Latar belakang pergeseran makna kata bajingan itu menurut saya karena cara pengucapannya saja yang diucapkan secara keras dan penuh emosi. Dan biasanya kata bajingan ini diucapkan karena sebagai suatu simbol makna kalau sopir gerobak sapi itu adalah orang yang kasar, menakutkan, dan tidak beradab makanya itu penyebutannya adalah kata bajingan itu."

Dalam paparan hasil wawancara Dito, dijelaskan bahwa pergeseran makna kata bajingan ini di masyarakat terjadi karena cara pengucapannya menjadi makna yang kasar dan mencemooh seperti sekarang ini karena pemahaman makna di masyarakat yang berbeda.

"Masyarakat sekarang ini memaknai kata bajingan sebagai cemoohan karena adanya anggapan yang berbeda dari masyarakat ketika menyebutkan kata bajingan karena kalau di komunitas gerobak sapi yang sekarang masih memaknai kata bajingan ini sebagai sopir gerobak sapi."

Ilustrasi gerobak sapi. Foto: Shutterstock

Dito menambahkan, kata bajingan ini dengan makna sopir gerobak sapi dengan identitas seorang sopir gerobak sapi yang kasar, kuat dan pemberani menjadi simbol bahwa kata bajingan ini dimaknai sebagai kata yang baik.

"Namun karena adanya pergeseran makna membuat fungsi simbol kata bajingan juga ikut bergeser. Fungsi simbol adalah sebagai alat komunikasi nyata," ujar Dito.

"Simbol yang terdapat dalam kata bajingan digunakan sebagai mengungkapkan atau mengekspresikan seorang sopir gerobak sapi itu adalah kasar, kuat dan pemberani, Simbol kata bajingan tersebut memiliki makna positif untuk makna sopir gerobak sapi," tutupnya.

Kata bajingan yang bermakna negatif juga tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

KBBI menulis, bajingan berasal dari kata dasar bajing. Bajingan dijabarkan sebagai penjabat, pencopet. KBBI juga menyerap bajingan sebagai kata kasar yang berarti kurang ajar (kata makian).

Di dalam Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia, bajingan juga punya makna negatif, seperti penjahat, penjahat berkerah biru, pencurian, dan kriminal.