Romahurmuziy: Lulusan Teknik Fisika yang Jadi Ketum Parpol Termuda
Berusia 43 tahun, M Romahurmuziy menjadi ketua umum partai politik termuda di Indonesia. Gaya bicaranya tertata dan penuh angka. Tak mengherankan karena politikus asal Yogyakarta ini ternyata menempuh pendidikan S1 dan S2-nya di bidang Teknik Fisika.
Saat berkunjung ke kantor kumparan Senin (4/6), lulusan SMAN 1 Yogyakarta --yang mitosnya hanya akan berkuliah di UGM atau ITB-- itu, mengatakan politik adalah profesi yang latar belakangnya bisa beraneka macam.
"Latar belakang saya Teknik Fisika kemudian masuk ke politik, itu sebenarnya lebih banyak di-endorse karena latar belakang keluarga, kebetulan saya dibesarkan di politik bukan hanya sejak orang tua, tapi sejak kakek, kakek buyut semuanya politisi yang dilahirkan dari partai NU saat Orba dulu," kata Romy --sapaan akrabnya.
Romy adalah cucu Menteri Agama RI ketujuh KH. Muhammad Wahib Wahab dan anak pendiri Ikatan Pelajar NU KH. Prof. Dr. M. Tolchah Mansoer, SH yang juga Rois Syuriah PBNU periode 1984-1986. Wajar darah Nahdlatul Ulama (NU) dan politik kental di pribadi Romy.
Politik sebetulnya lebih karena warisan dan kebiasaan keluarga saja.
Romy sebetulnya memulai perjalanan politiknya sebagai kader dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan pernah menjadi anggota Garda Bangsa PKB di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1998. Namun Romy akhirnya lebih memilih PPP yang kemudian membesarkan namanya itu.
Jabat Ketum PPP
Pria kelahiran Sleman Yogyakarta itu menjadi ketua umum PPP melalui pergolakan saat partai berlambang kakbah itu dilanda perpecahan, yaitu Kubu Suryadharma Ali dan Kubu Emron Pangkapi. Kedua kubu ini menggelar Muktamar berbeda untuk memilih ketua umum.
Romy yang saat itu menjabat Sekjen PPP, menggelar Muktamar di Surabaya dengan memboyong mayoritas pengurus PPP wilayah pada 16 Oktober 2014. Hasil Muktamar menetapkan Romahurmuziy secara aklamasi menjadi ketua umum PPP baru.
Sementara kubu Ketua Umum Suryadharma Ali menggelar Muktamar pada 2 November 2014 di Hotel Sahid Jakarta, dan menetapkan Djan Faridz secara aklamasi sebagai Ketua Umum PPP. PPP pun terbelah hingga tingkat daerah menjadi dua kepengurusan.
Konflik itu berlarut-larut dan bergulir di pengadilan hingga akhirnya Mahkamah Agung (MA) menetapkan pada 12 November 2015 bahwa kepengurusan yang sah adalah kubu Djan Faridz. Romy tak gentar, bersama loyalisnya dia tetap menghadapi kubu Djan Faridz.
Dalam perjalanannya, putusan final dan mengikat MA ini ternyata tak dipatuhi pemerintah. Menkumham Yasonna Laoly memilih merekomendasikan Muktamar baru yang dianggap rekonsiliasi dari kedua kubu. Digelarlah Muktamar VIII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 8 April 2016.
Meski dihadiri Presiden Joko Widodo, Muktamar itu nyatanya tak diakui kubu Djan Faridz. Pemerintah tak hirau, Menkumham lalu menerbitkan SK kepengurusan kepada kubu Romy yang terpilih (lagi) di Muktamar melalui SK M.HH-06.AH.11.012016 yang berlaku hingga sekarang.
Anggota DPR
Romy turut mengasah politiknya di parlemen. Sempat menjabat staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM RI, Romy terpilih sebagai anggota DPR dan menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPR yang membidangi masalah pertanian, perkebunan, kehutanan, pangan, kelautan, dan perikanan, sejak 30 Mei 2011.
Pada Pemilu Legislatif 2014 Romy kembali terpilih sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah VII yang mencakup Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Sempat di Komisi III yang membidangi masalah hukum dan HAM, kini Romy duduk di Komisi XI yang mebidangi keuangan.
Anak Band
Menjadi politikus tak melulu harus formal dan serius. Dalam beberapa kesempatan, Romy tampil di kegiatan politik sebagai anak band, bukan sebagai ketua umum partai. Salah satunya saat hadir dalam kampanye Pilkada di Palembang pada Minggu (28/1).
Dengan grup musiknya Bhinneka Svara IX Reunion, Romy asyik nge-band di hadapan sekitar 15 ribu peserta jalan sehat di Palembang. Menurutnya, band itu terbentuk sejak SMA. Angka IX merujuk pada angkatannya saat itu.
"Di SMA 1 Yogyakarta itu ada grup band official setiap angkatan. Memang dari kecil suka musik, saya pegang bass," kata Romy.
Yang menarik dari grup bandnya, selain sering mewakili sekolah untuk beberapa event, para anggota band betul-betul mencirikan kebhinekaan sesuai nama band yang diusung.
"Jadi di situ bukan hanya orang Islam tapi temanteman saya dari Katolik, Kristen. Ada yang kemudian dari etnis macam-macam juga dari Sulawesi, Jawa, macam-macam. Jadi ini yang sampai hari ini kebetulan teman-teman masih suka ngumpul," tuturnya.
Lantaran hobinya itu, Romy bahkan punya studio musik di rumahnya untuk tempat berlatih. Biasanya sebulan sekali mereka berkumpul untuk memainkan musik apa saja yang sedang diinginkan. Sementara soal manggung, hanya untuk acara internal saja.
"Kita bukan musisi profesional, jadi saya lebih banyak bermain untuk kepentingan internal PPP, ada acara SMA, mungkin ada acara keluarga salah satu di antara kita, acara teman, ya mungkin untuk kepentingan-kepentingan privat kita aja," pungkasnya.
