RS Murni Teguh Pejaten Edukasi Masyarakat soal Risiko Penyakit Jantung

RS Murni Teguh Pejaten Jakarta menggelar seminar awam bertema "Selamatkan Jantung Anda Bersama Cardiovasc 360" pada Jumat (2/10). Seminar tersebut membahas penyakit jantung, faktor risikonya, hingga pentingnya deteksi dan penanganan sejak dini.
Direktur RS Murni Teguh Pejaten Jakarta, Caroline Kawinda, mengatakan penyakit jantung perlu diwaspadai karena kini juga ditemukan pada kelompok usia produktif.
"Jadi kita dapat melihat bahwa sekitar 39 persen kasus penyakit jantung di Indonesia diidap oleh kelompok usia produktif di bawah 44 tahun," kata Caroline dalam sambutannya.
Caroline memaparkan, prevalensi penyakit jantung tercatat 0,8 persen pada kelompok usia 25-34 tahun, 1,3 persen pada usia 35-44 tahun, dan 2,4 persen pada usia 45-54 tahun.
Menurut dia, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap risiko penyakit jantung adalah gaya hidup.
"Nah, dari catatan tersebut kita dapat melihat bahwa penyakit jantung ini sudah didapatkan pada usia-usia muda. Mengapa? Oleh karena banyak hal-hal, faktor yang mendukung menjadikan penyakit jantung, antara lain lifestyle," jelasnya.
Dalam seminar itu, dokter spesialis penyakit dalam RS Murni Teguh Pejaten, Rodry Mikhael L. Tobing, turut menjelaskan hubungan diabetes dengan penyakit kardiovaskular.
Rodry mengatakan kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat memicu aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan pada dinding pembuluh.
"Jadi, diabetes ini meningkatkan risiko orang untuk mengalami penyakit kardiovaskular, baik penyakit jantung, stroke, gagal jantung," ujar Rodry.
Dia menyebut penyandang diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan orang yang tidak mengalami diabetes. Risiko tersebut dapat semakin meningkat jika diabetes disertai kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Karena itu, Rodry menekankan pentingnya mengendalikan faktor risiko sebelum berkembang menjadi komplikasi.
"Pola makan lebih sehat, karbohidrat yang diukur lagi, lemaknya, protein, konsumsi garamnya juga," kata dia.
Dia juga menyarankan masyarakat rutin beraktivitas fisik minimal 150 menit dalam sepekan, menjaga berat badan, berhenti merokok, serta melakukan pemeriksaan dan pengobatan secara teratur apabila memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, atau kolesterol tinggi.
Seminar tersebut menghadirkan empat narasumber dari sejumlah bidang medis, yakni Rodry dari spesialis penyakit dalam, Mei L. Harahap dari bidang jantung dan pembuluh darah, Maria Regina Rachmawati dari bidang kedokteran fisik dan rehabilitasi, serta Akmal Alfaritsi Hamonangan dari bidang bedah toraks kardiovaskular.
Caroline mengatakan edukasi mengenai penyakit jantung diperlukan agar masyarakat dapat mengenali kondisi tubuh dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
"Kontrol rutin ya, harus kita cek semua tubuh kita, kenali tubuh kita, sehingga kita bisa mengetahui apa yang ada di dalam tubuh kita," ujar dia.
Sejumlah fasilitas pemeriksaan juga tersedia di lokasi seminar. Peserta dapat mengikuti mini medical check-up (MCU) serta pemeriksaan menggunakan skin check analyzer secara gratis. Pemeriksaan tersebut dapat dimanfaatkan peserta untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh secara langsung selama mengikuti kegiatan.
