RS Rujukan COVID-19 di DIY Kekurangan Tenaga Kesehatan Akibat Lonjakan Kasus

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dua orang tenaga kesehatan beristirahat saat menunggu pasien di ruang isolasi COVID-19 Rumah Sakit Umum (RSU) Dadi Keluarga, Kabupetan Ciamis, Jawa Barat, Senin (14/6/2021). Foto: Adeng Bustomi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Dua orang tenaga kesehatan beristirahat saat menunggu pasien di ruang isolasi COVID-19 Rumah Sakit Umum (RSU) Dadi Keluarga, Kabupetan Ciamis, Jawa Barat, Senin (14/6/2021). Foto: Adeng Bustomi/ANTARA FOTO

Kasus aktif COVID-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta terus menanjak. Data per 20 Juni, terdapat 5.639 kasus aktif. Lonjakan kasus itu membuat semakin banyak pasien yang membutuhkan perawatan. Tenaga kesehatan pun mulai kekurangan.

Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie mengatakan, kekurangan nakes ini terjadi pada 27 rumah sakit rujukan pasien virus corona di DIY. Hanya saja dia tidak merinci jumlahnya.

"Kekurangannya banyak. 27 rumah sakit rujukan (butuhnya berapa) nanti dihitung dulu," kata Pembajun di Kepatihan Pemda DIY, Senin (21/6).

kumparan post embed

Meski DIY memiliki banyak perguruan tinggi, menurut Pembajun tidak semudah itu nakes lulusan baru diterjunkan. Terlebih, banyak dari mereka berasal dari luar daerah dan langsung membantu daerahnya begitu lulus.

"Ya lulusan yang baru ini sebenarnya itu yang sedang kita akan bicarakan sama institusi pendidikannya cuma kalau nakes yang baru ini ndang mulih (pulang) ke daerahnya," katanya.

embed from external kumparan

Pemda DIY beberapa waktu lalu sempat merekrut relawan nakes. Akan tetapi, jumlahnya masih terbatas 28 orang saja.

"Itu masih bertahan 28 orang belum ada tambahan," ujarnya.

Pembajun meminta masyarakat untuk taat protokol kesehatan meskipun sudah divaksin. Banyak masyarakat yang sudah vaksin justru abai prokes dan terpapar corona.

Dia menegaskan vaksin ini berguna untuk meringankan penderitaan jika terpapar corona. Bukan berarti dengan divaksin 100 persen aman dari paparan corona.

"Vaksin bukan segalanya, betul-betul walaupun sudah divaksin dua kali masih juga ada yang positif. Kekebalan tubuh kita tifak sama," katanya.