RSJ Jabar Rawat Jalan Belasan Anak yang Kecanduan Internet dan Game

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bermain game di TV lewat smartphone. Foto: Dok. XL Axiata
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain game di TV lewat smartphone. Foto: Dok. XL Axiata

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat yang terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, meluruskan informasi yang beredar adanya ratusan anak dirawat di rumah sakit itu karena kecanduan main game. Direktur Utama RSJ Cisarua Elly Marliyani mengatakan berdasarkan data di rumah sakitnya, per Januari-Februari hanya ada 5 anak usia 11-15 tahun yang mengalami gangguan kejiwaan karena adiksi atau kecanduan internet. Kelima orang itu pun hanya rawat jalan, tidak sampai rawat inap.

"Jadi rawat jalan pasien baru di tahun 2021 bulan Januari-Februari itu sudah ada 5 orang yang murni gangguan adiksi internet. Jadi sebetulnya adiksi internet besarnya. Kemudian ada di dalamnya di antaranya adiksi game. Lima pasien baru bulan Januari-Februari 2021, rawat jalan bukan rawat inap," ujar Elly, kepada wartawan di kantornya, Selasa (16/3). Lebih lanjut Elly mengatakan di tahun sebelumnya, yaitu 2020, sejak Januari-Desember, institusinya menerima pasien anak rawat jalan akibat adiksi game murni sebanyak 8 orang. Total ada 13 anak yang mengalami rawat jalan karena kecanduan internet dan game.

"Kalau tahun 2020 jumlahnya itu 8 orang yang baru hanya adiksi game. Jadi murni adiksi game. Namun sebelumnya di 2019 kita belum punya data, rumah sakit ini belum punya data adiksi murni game tidak ada, belum ada," ujar Elly. "Yang ada data itu adalah komorbid gangguan. Jadi mereka mengalami gangguan jiwa juga mengalami adiksi game atau adiksi game kemudian mengalami gangguan jiwa di 2019. Itu belum ada diagnosisnya juga," lanjut Elly.

Adiksi Efek Pandemi COVID-19 Senada dengan Elly, Sub Spesialis Psikiater Anak dan Remaja RSJ Cisarua, Lina Budiyanti, mengatakan kebanyakan mereka yang mengalami rawat jalan di bulan Januari-Februari 2021 itu efek dari pandemi COVID-19 yang melanda setahun belakangan. "Memang yang datang ke kami dari 5 orang dalam Januari-Februari 2021 ini diperberat dengan pandemi. Mereka tidak bisa ke mana-mana. Mereka dapat kuota (internet), jadi ketika kita tanya sudah berusaha dibatasi sebenarnya orang tua sudah berusaha mengurangi peluang mereka akses internet, tapi karena mereka punya sendiri kan, anaknya dapet jatah dari pemerintah juga menyulitkan orang tua membatasi pemakaian internet," ujar Lina. Lina juga mengimbau orang tua untuk selalu mengawasi anaknya dan berkomunikasi membatasi penggunaan internet anak-anak. Menurut Lina, gangguan kejiwaan yang biasanya dialami anak-anak yang sudah kecanduan internet dan game cenderung agresif.

Jadi alasan orang tua membawa mereka ke sini adalah sudah mengalami gangguan emosi. Jadi ketika dilarang atau orang tua berusaha untuk mengurangi, dia langsung ekspresi sangat tinggi, bisa melempar barang, merusak barang di rumah bahkan mengancam dengan senjata tajam kalau nggak diberi kuota.

--Lina Budiyanti