RSUP Sardjito Ungkap Kondisi Rheza Sendy, Mahasiswa Amikom yang Tewas saat Demo

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pemakaman mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama, di Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Minggu (31/8). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pemakaman mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama, di Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Minggu (31/8). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

RSUP Dr Sardjito mengungkapkan kondisi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama (21 tahun), saat pertama kali datang ke RSUP Dr Sardjito pada Minggu (31/8) pagi.

Rheza meninggal dunia dengan kondisi penuh luka saat ikut aksi demo di dekat Polda DIY.

"Pasien masuk di kami jam 06.30, masuk sudah dalam kondisi jelek," kata Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan di kantornya, Senin (1/9).

"Tidak sadar (kondisinya)," tambahnya.

Saat itu kata Banu masih ada tanda-tanda kehidupan pada diri Rheza, tim medis kemudian melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) secara maraton selama 30 menit.

"Namun demikian jam 07.06 WIB kami menyatakan beliau meninggal dunia," katanya.

Banu membenarkan Rheza diantar ke Sardjito oleh unit kesehatan Polda DIY. "Jadi kita dikirim dari unit kesehatan Polda," katanya.

Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Penyebab Kematian

Soal penyebab kematian Rheza, Banu mengatakan secara bahasa medis rumah sakit masih menegakkan diagnosis henti jantung. Sementara itu, pihak keluarga Rheza tak berkenan dilakukan visum.

"Penyebabnya kita tidak atau belum mengetahui kausalnya kenapa, tetapi kami dalam bahasa medis kita sebut dengan cardiac arrest atau henti jantung," kata Banu.

"Hasil pemeriksaan yang kita lakukan, sudah kita lakukan dan itu sesuai dengan mekanisme hukum acara dan lain sebagainya, kami belum bisa membuka kondisi fisik. Hasil pemeriksaan yang ada di kami, masih kami simpan, akan kami serahkan ke pihak yang berwajib," bebernya.

Kebetulan pula kemarin dari pihak keluarga juga tidak berkenan untuk dilakukan visum lebih lanjut.

"Sehingga diagnosa cardiac arrest ini masih kita tegakkan dengan cardiac arrest. Penyebab kematian ya cardiac arrest itu," tuturnya.

Kata Kapolda DIY

Kapolda DIY Irjen Pol. Anggoro Sukartono melayat ke rumah duka Rheza Sendy Pratama di Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Minggu (31/8).

Anggoro datang bersama sejumlah pejabat lain termasuk Bupati Sleman.

"Kedatangan kami semua sebagai bela sungkawa turut berduka cita atas meninggalnya almarhum saudara Rezha Sendy Pratama. Keluarga menerima kami ketika menyampaikan telah menerima dan ikhlas atas meninggalnya putra beliau," kata Anggoro.

Anggoro bilang keluarga Rheza menolak untuk dilakukan ekshumasi. Keluarga Rheza memberikan masukan kepada Polri dalam mengamankan Yogyakarta.

"Agar belajar, tidak lagi ada kesalahan. Ini yang menjadi masukan kepada kami kepolisian untuk memperbaiki diri," katanya.

Siap Selidiki Bila Keluarga Berubah Pikiran

Anggoro mengatakan, pihaknya siap menyelidiki kematian Rezha jika kemudian pihak keluarga berubah pikiran.

"Kalau nanti pihak keluarga di kemudian hari berubah pikiran dan ingin mempertanyakan proses hukum terhadap meninggalnya saudara Rheza kami siap untuk melakukan penyidikan," bebernya.

Selain itu, bila ada masyarakat yang bisa membantu sebagai saksi, Anggoro meminta tak segan menginformasikan ke pihak kepolisian.

"Sementara ini yang kami lihat hanya dari media kami coba lihat berita media-media sosial apakah benar korban yang diperlakukan seperti itu. Ini penting jadi kalau masyarakat memang menemukan kasih ke saya supaya saya mudah melakukan penyelidikan nantinya. Pada tingkatan apabila keluarga menghendaki dilakukan penyelidikan kami siap," tegasnya.

Keluarga Tolak Autopsi

Sabtu (30/8) malam, Rheza pamit ke ayahnya hendak ngopi bersama temannya di kawasan Tugu Yogya.

"Saya nyari yang ini (ngajak) tapi belum ketemu anaknya, semalem ngajak ngopi (Rheza) di dekat Tugu itu. Malamnya ngopi minta uang, teman SMK (yang ngajak)," kata ayah Rheza, Yoyon Surono di rumah duka di Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Pagi harinya, Yoyon mendapat kabar dari tetangga sembari menunjukkan KTP Rheza. Tetangga mengabarkan Rheza berada di RSUP Dr Sardjito karena terkena gas air mata.

"Saya ke sana anaknya sudah terbujur kayak gitu. Saya tanya yang ngantar siapa katanya cuma dari unit kesehatan polda dua orang," katanya.

Berdasarkan informasi yang Yoyon terima, peristiwa penganiayaan yang menimpa anaknya terjadi di Jalan Ring Road, depan Polda DIY tadi pagi.

"Keterangan dari si yang antar ada aksi demo yang di sana ini," katanya.

"(Kejadiannya) pagi di depan Polda kayaknya," tuturnya.

Yoyon yang memandikan Rheza mengatakan anaknya mengalami sejumlah luka seperti patah hingga kepala bocor.

"Tadi ikut mandiin, sini (leher) itu kayak patah apa gimana, terus sini (perut kanan) itu bekas pijakan kaki-kaki bekas PDL sepatu, terus sini (tubuh) ada sayatan-sayatan kayak bekas digebuk, terus kepala sini agak bocor, sini (wajah) kayak putih-putih kena gas air mata, sama kaki tangan lecet, punggung lecet," katanya.

Yoyon mengatakan tak ada keterangan lebih lanjut dari rumah sakit soal kekerasan yang dialami Rheza. Sementara keluarga juga menolak autopsi.

"Dari kepolisian minta autopsi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan cuma kita dari keluarga sudah pasrah, apa pun yang terjadi ini musibah gitu aja. Jadi kita enggak mau autopsi," jelasnya.