Rumah Detensi Imigrasi: 1.941 Pengungsi Rohingnya Berada di Pekanbaru

Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru mencatat ada 1.941 pengungsi dari Rohingnya yang berada di wilayah kerjanya.
Kepala Rudenim Pekanbaru Adrianus Tonny Budijaya mengatakan para pengungsi tersebut tersebar di tujuh akomodasi, satu makeshift camp, serta sejumlah pengungsi yang tinggal secara mandiri atau mengontrak.
"Nah, untuk di wilayah kerja kami, pengungsi itu saat ini selain di dalam tuh di luar kita ada pengungsi juga. Kita ada pengungsi itu cukup besar, jumlahnya 1.941 orang sampai hari ini," kata Tonny di Kantor Rudenim Pekanbaru, Riau, Selasa (15/9).
Menurut Tonny, para pengungsi tidak bisa dipulangkan secara paksa karena Indonesia belum meratifikasi perjanjian internasional mengenai pengungsi.
"Kenapa mereka ada ini mereka tidak bisa dipulangkan? Karena saya kembali dulu, Indonesia bukan negara pengungsi. Kita belum meratifikasi perjanjian tentang pengungsi, tetapi kita menghormati hak-hak hidup manusia dalam perjanjian HAM," ujarnya.
Tonny mengatakan para pengungsi yang berada di Indonesia telah mendapatkan kartu pengungsi dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) atau Badan Pengungsi PBB. Mereka umumnya meninggalkan negara asal karena konflik dan kemudian mengajukan perlindungan kepada UNHCR.
"1.941 orang pengungsi yang ada saat ini itu, mereka telah memiliki kartu pengungsi, kartu refugee yang dikeluarkan oleh UNHCR," jelas Tonny.
Dia menjelaskan pemulangan secara paksa tidak dapat dilakukan. Sementara itu, pengungsi yang ingin kembali ke negara asal dapat menggunakan mekanisme Assisted Voluntary Return (AVR) melalui IOM.
"Mereka bisa AVR, Assisted Voluntary Return. Mereka bisa kembali ke negaranya, tapi atas dasar permintaan pribadi. Kalau tidak bisa, tidak bisa kita paksakan," kata Tonny.
Khusus pengungsi Rohingya, Tonny menyebut pemulangan menjadi persoalan karena hingga kini tidak ada negara ketiga yang bersedia menerima mereka. Dia juga menyebut Myanmar sebagai negara asal Rohingya belum mengakui mereka.
"Tapi untuk suku Rohingya ini, negaranya saja belum mengakui mereka ada. Jadi mereka dipulangkan ke mana, kita juga tidak tahu, dan ini menjadikan beban bagi negara kita," ujarnya.
Tonny mengatakan kondisi tersebut membuat penanganan pengungsi Rohingya lebih banyak dilakukan dengan pendekatan kemanusiaan.
"Jadi untuk dipulangkan pun berat juga tidak bisa. Jadi saya di sini lebih kepada penanganannya pendekatan-pendekatan yang sifatnya kemanusiaan saja," jelas dia.
Menurut data Rudenim Pekanbaru, para pengungsi tersebut tidak hanya berada di Kota Pekanbaru. Wilayah kerja Rudenim Pekanbaru mencakup 13 Kantor Imigrasi di tiga provinsi, yakni Riau, Jambi, dan Sumatera Barat.
Sementara itu, dari penelusuran di salah satu lokasi pengungsi Rohingya di Pekanbaru, Muhammad, salah satu pengungsi, mengatakan mereka telah tinggal di lokasi tersebut selama sekitar tiga tahun.
"Sudah 3 tahun," kata Muhammad.
Abdullah, pengungsi lainnya, mengatakan terdapat sekitar 570 orang yang tinggal di kompleks tersebut dengan sekitar 130 rumah.
"Rumah 130. Kalau orangnya 570 orang," kata Abdullah.
Dia mengatakan alasan mereka memilih Indonesia karena mencari tempat yang aman.
"Kita cari keamanan, Pak. Sebelum di sini dipilih yang negara Islam. Dan juga Indonesia negaranya Islam. Kalau mau cari amanan di sini lebih bagus dari pada negara lain, tujuannya sini, Indonesia," ujar Abdullah.
