Rumah Sakit COVID-19 di Jakarta Sering Disebut Penuh? Gubernur Anies Menjawab

Jakarta kini sudah memiliki 106 rumah sakit rujukan COVID-19. Tapi, sejumlah keluhan muncul dari warga karena kerap menemukan kondisi penuh.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan tidak semua rumah sakit rujukan di Jakarta 100 persen melayani pasien COVID-19. Ada pula rumah sakit yang hanya sebagian dipakai untuk melayani pasien.
Bila ruangan untuk pelayanan pasien COVID-19 sudah penuh, maka rumah sakit akan mengumumkan penuh. Tapi bukan dalam artian semua ruangan penuh, melainkan hanya ruang pelayanan pasien COVID-19.
"Karena 1 rumah sakit itu ketika ikut dalam jaringan COVID-19 dia harus konversi. Misal 1 rumah sakit 200 tempat tidur. Kalau rumah sakitnya hanya konversi 20 persen atau 40 tempat tidur, bila 40 penuh akan diumumkan sebagai penuh. Jadi bukan rumah sakit penuh tapi jatah buat COVID-19 yang penuh," jelas Anies dalam webinar JMSI, Jakarta, Senin (8/2).
Anies mengatakan, saat ini dia meminta rumah sakit swasta mengonversi hingga 50 persen untuk melayani pasien COVID-19. Sedangkan, untuk RSUD sampai 63 persen dari total ruangan dipakai untuk penanganan pasien virus corona. Bahkan ada 13 RSUD yang 100 persen hanya melayani pasien COVID-19.
"Jadi perhatikan komitmen kita untuk selamatkan warga yang terpapar itu serius, benteng pertahanan disiapkan. Dan ketika 63 persen bukan tempat tidurnya saja. Kita tambah lebih dari 1.500 nakes dari seluruh Indonesia. Kalau ke rumah sakit kami pasti ketemu dokter-dokter dari daerah. Tujuannya supaya tenaga medis kita enggak kelelahan," tutur dia.
Anies mengatakan, saat ini okupansi rumah sakit rujukan COVID-19 sampai 80 persen. Tapi yang harus diperhatikan pula, 24 persen di antaranya merupakan warga luar Jakarta.
"Jadi kalau lihat ICU terpakai 80 persen sesungguhnya warga Jakarta 56 persen. Inilah sesungguhnya potret di Jakarta," imbuh dia.
Kesiapan rumah sakit ini tak hanya bicara pelayanan. Dampak lainnya sangat terasa terutama dari angka kematian yang terbilang rendah.
"Transformasi rumah sakit yang enggak sederhana ini kerjanya sunyi senyap dari panggung gempita di mana-mana. Efeknya tingkat kematian Jakarta 1,6 persen ini cara kita selamatkan siapa saja di DKI," ujar Anies.
Tak hanya itu, rumah sakit vertikal juga terus ditambah. Anies memang sempat mendorong pemerintah daerah lainnya juga meningkatkan kualitas dan kapasitas fasilitas kesehatan. Tapi itu bukan berarti Jakarta ingin lepas tangan karena pemerintah pusat pasti akan membantu.
"Sempat ramai Jakarta angkat tangan dan sebagainya, bukan. Jakarta pengin daerah tambah kapasitas, yang bisa bantu pemerintah pusat. Karena kami juga dibantu pusat. Kita dibantu BNPB buat pendanaan, kita siapkan konversinya," jelas Anies.
"Ketika ubah rumah sakit porsinya tinggi buat COVID-19 konsekuensinya jalurnya beda, liftnya, beda dan lain-lain. Ini kerja sunyi. Konsekuensinya insyaallah bisa selamatkan warga lebih banyak," ucap Anies.
