Rusia Tangkap 425 Warga yang Protes Mobilisasi Tentara Cadangan ke Ukraina
ยทwaktu baca 2 menit

Pihak berwenang telah menangkap 425 warga selama aksi unjuk rasa terhadap perintah mobilisasi parsial warga sipil dalam pasukan militer cadangan Rusia untuk berperang di Ukraina pada Rabu (21/9).
Organisasi HAM, OVD-Info, melaporkan bahwa protes meletus di 24 kota di seluruh Rusia. Mengenakan perlengkapan anti huru-hara, polisi terlihat menindak demonstran di jalan perbelanjaan tersibuk di ibu kota. Dikutip dari AFP, sedikitnya 50 orang ditahan di Moskow.
Sebelum menahan mereka satu per satu, petugas mengepung sekelompok pengunjuk rasa pula di Saint Petersburg. Para demonstran dilaporkan meneriakkan 'tidak ada mobilisasi!'.
"Saya berencana untuk mengikuti protes, tetapi sepertinya mereka sudah menangkap semua orang. Rezim ini telah mengutuk dirinya sendiri dan menghancurkan kaum mudanya," ujar seorang warga berusia 60 tahun, Alexei.
"Mengapa Anda melayani Putin, seorang pria yang telah berkuasa selama 20 tahun!" teriak seorang pengunjuk rasa lainnya kepada seorang polisi.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan mobilisasi parsial pertama Rusia sejak Perang Dunia II. Menilik ancaman nuklir Barat, dia memperingatkan akan menggunakan persenjataan nuklir pula.
Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu, menyinggung pengerahan 300.000 tentara cadangan ke Ukraina. Secara keseluruhan, 25 juta tentara berada dalam pasukan cadangan militer Rusia.
Mobilisasi tersebut dapat menarik pria dan wanita berusia 18 hingga 60 tahun. Namun, militer mengecualikan pria yang menjalani masa wamil 12 bulan. Pihaknya juga akan membebaskan warga berdasarkan keluhan terkait usia, kondisi medis, dan hukuman penjara.
Pengerahan tersebut akan memprioritaskan orang-orang dengan keterampilan khusus maupun pengalaman militer, seperti pengemudi tank, pencari ranjau, dan penembak jitu. Mereka akan menjalani pelatihan terlebih dahulu sebelum dikirim ke Ukraina.
Usai pengumuman itu disiarkan, warga segera mencari cara untuk melarikan diri. Penerbangan langsung menuju negara tetangga bekas Uni Soviet terdekat segera terjual habis untuk tanggal 21 September. Maskapai Turkish Airlines juga mendapati penerbangan menuju Istanbul telah habis dipesan pula hingga tanggal 24 September.
Ada pun penerbangan menuju Beograd untuk tanggal 26 September yang tersisa di situs maskapai AirSerbia. Sementara itu, sejumlah negara Barat mengindikasikan, pihaknya tidak akan memberikan suaka bagi orang yang melarikan diri dari Rusia. Finlandia dan Latvia telah mengumumkan rencana memperketat kebijakan visa.
"Saya datang untuk mengatakan bahwa saya menentang perang dan mobilisasi," jelas seorang mahasiswa, Oksana Sidorenko.
"Mengapa mereka memutuskan masa depan saya untuk saya? Saya khawatir dengan diri saya sendiri, dengan saudara laki-laki saya," tambah dia.
