Saat Duterte Akui Bahagia Bantai Pengedar Narkoba
ยทwaktu baca 3 menit

Eks Presiden Filipina Rodrigo Duterte (78) pernah mengungkap perasaannya mengenai perang narkoba yang merenggut puluhan ribu nyawa semasa dirinya memerintah. Kini Duterte ditangkap karena tuduhan pembantaian.
Penangkapan Duterte oleh aparat Filipina dilakukan setibanya di Manila pada Selasa (11/3). Pemerintah Filipina mengakui penangkapan berdasarkan perintah dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang mendakwa Duterte.
Duterte diminta pertanggungjawaban oleh ICC atas laporan lembaga HAM dan organisasi internasional semisal Amnesty International, Human Rights Watch sampai Uni Eropa. Mereka sama-sama mengkritisi pembantaian yang dilakukan selama perang narkoba berjalan.
Kepolisian menyebut jumlah warga yang tewas semasa perang narkoba sebanyak 2 ribu jiwa. Sejumlah laporan independen mengatakan, jumlahnya lebih besar bahkan mencapai 20 ribu jiwa.
Baik sebelum, saat atau sesudah menjabat sebagai Presiden Filipina, Duterte tak jemu menyampaikan dukungan untuk membantai pengedar narkoba. Di lapangan, perintah bunuh di tempat ternyata menargetkan pengedar sampai pengguna narkoba.
Sebelum terpilih menjadi presiden pada 2016, Duterte pernah berjanji akan memberantas narkoba. Dia berjanji akan membunuh sebanyak mungkin pengedar narkoba.
Beberapa jam setelah dilantik pada 30 Juni 2016, Duterte langsung menuju kawasan kumuh di Ibu Kota Manila. Duterte mendesak agar warga setempat membunuh pengedar narkoba yang ditemuinya.
"Kampanye tembak-menembak ini akan terus berlanjut sampai hari terakhir masa jabatan saya. Saya tidak peduli dengan hak asasi manusia, percayalah,โ ucap Duterte 2016 lalu seperti dikutip dari AFP.
Pada 6 Agustus 2016, Duterte mengeluarkan komentar kontroversial kala sebuah laporan menunjukkan seribu orang tewas karena kampanye antinarkoba.
Duterte menegaskan tidak menyesal atas terbunuhnya ribuan orang. Ia bersumpah perlawanan terhadap narkoba akan terus dilanjutkannya.
Saya akan dengan senang hati membantai mereka,โ kata Duterte.
Sesaat sebelum dirinya ditangkap, tepatnya kala menemui tenaga kerja Filipina di Hong Kong, Duterte menegaskan tidak akan meminta maaf atas perang narkoba yang sudah merampas banyak nyawa.
Perang Narkoba Turunkan Kriminalitas
Adapun perang narkoba yang dilancarkan Duterte dilatarbelakangi oleh tingginya peredaran dan penggunaan narkoba di kalangan masyarakat Filipina.
Duterte berulang kali mengatakan bahwa narkoba merusak masa depan anak-anak dan generasi muda Filipina. Ia menganggap pemberantasan narkoba sebagai bentuk perlindungan terhadap rakyat.
Duterte kemudian memenangi Pemilu 2016 dengan janji untuk memberantas narkoba dan kriminalitas. Ia berjanji akan menyelesaikan masalah ini dalam 3 hingga 6 bulan, meskipun pada akhirnya kebijakan ini berlanjut selama masa jabatannya.
Sebelum menjadi presiden, Duterte adalah Wali Kota Davao selama lebih dari 20 tahun.
Duterte menerapkan kebijakan keras terhadap kejahatan di Davao, yang disebut sukses menurunkan angka kriminalitas. Ia kemudian membawa pendekatan yang sama ke tingkat nasional.
Meskipun mendapat dukungan di dalam negeri, perang terhadap narkoba Duterte dikecam kelompok-kelompok HAM karena diduga melibatkan pembunuhan di luar proses hukum (extrajudicial killings) oleh polisi dan kelompok bersenjata misterius.
Bahkan ICC yang berbasis di Den Haag, Belanda, mengadakan penyelidikan dan mengeluarkan surat perintah penangkapan pada Duterte.
