Saat Flyover Pasar Rebo Jadi Tempat Pekerja Jakarta 'Istirahat' Sebelum Pulang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Langit sore Jakarta memudar keemasan. Di atas Flyover Pasar Rebo, satu per satu pengendara motor mulai menepi. Garis putih di tepi jalan layang menjadi batas bagi para pengendara memarkirkan motornya lalu duduk sejenak.

Dari atas motor, mereka duduk sejenak sambil memandang suasana jalan di bawah flyover.

Tak ada rambu larangan berhenti yang terpasang, tetapi tempat yang bisa membahayakan itu malah menjadi favorit pengendara untuk berhenti dan melepas penat.

Beberapa orang mengambil foto, lainnya berswafoto. Namun lebih banyak yang hanya berdiam diri, bersandar pada pagar besi flyover, menatap kosong ke kejauhan. Tak banyak percakapan terjadi. Selain karena bisingnya kendaraan, sebagian besar dari mereka memang datang untuk diam.

“Rehat aja, habis bawa motor,” kata Alban (22), pekerja outsourcing jasa parkir di kawasan Mangga Besar, Selasa (3/6)

Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Hari itu adalah hari terakhirnya bekerja. Ia memutuskan resign setelah berhasil mengumpulkan modal untuk membuka usaha rental PS di sekitar rumahnya di Pamijahan, kaki Gunung Salak.

“Ngelupain stresnya di sini aja, Bang. Sunset-nya bagus, kan,” ucap Alban sambil tersenyum kecil sambil duduk di atas aspal.

Bukan hanya anak muda. Di antara deret pemotor yang menepi, ada juga Anto (44). Setiap hari ia pulang dari Pulomas ke rumahnya di Cibubur, dan flyover ini menjadi titik perhentian wajib.

“Di Kalimalang udah macet. Nanti turun dari sini udah macet. Ya udah, berhenti aja dulu, ilangin jenuh, capek,” katanya sambil menatap kendaraan di bawah.

Sudah tujuh tahun ia melintasi jalan itu. Sunset bukan lagi daya tarik baginya. “Bosen,” ujarnya singkat. Namun untuk sekadar bengong, tempat ini masih cukup.

Flyover Pasar Rebo memang bukan sekadar jalur penghubung. Sejak diresmikan pada 2005, jalan layang ini menjelma jadi tempat persinggahan. Sebuah pit stop di tengah perjalanan panjang para pekerja dari pinggiran kota.

Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Ramai Pedagang

Seperti gula yang mengundang semut, titik ini menarik belasan pedagang datang sejak pukul setengah lima sore. Ada yang menjajakan batagor, minuman instan, hingga buah potong. Beberapa bahkan menyediakan bangku kecil bagi pelanggan yang enggan duduk di atas motor.

“Iya ini saya beli buah juga, biar segar lagi,” ujar Anto, masih mengenakan seragam dinasnya.

Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Menjelang malam, flyover berganti wajah. Dari tempat istirahat para pekerja, menjadi titik tongkrongan anak-anak muda. Lampu jalan menyala, tawa dan petikan gitar terdengar samar di antara deru kendaraan yang mulai mereda.

Namun tetap saja, ini bukan tempat yang benar-benar aman. Tak ada trotoar, dan kendaraan melaju kencang di dua jalur yang makin sempit oleh kehadiran motor dan pedagang.

Di atas flyover ini, mereka menarik napas sejenak—sebelum kembali pulang, dan esok kembali berjuang.