Saat Hakim Curiga Pembunuhan Yosua Sudah Direncanakan Sejak di Magelang
ยทwaktu baca 5 menit

Majelis hakim curiga, rencana pembunuhan Brigadir Yosua sudah dirancang sejak dari Magelang. Hal tersebut diungkapkan oleh hakim saat memeriksa sopir Ferdy Sambo, Kuat Ma'ruf, sebagai saksi untuk dua terdakwa yakni Ricky Rizal dan Richard Eliezer.
Yosua tewas dieksekusi oleh Eliezer atas perintah Sambo pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Kadiv Propam Polri di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Pembunuhan diduga dipicu kejadian di Magelang.
Beberapa hari sebelumnya, Putri Candrawathi, Kuat, asisten rumah tangga bernama Susi, Ricky Rizal, Yosua, dan Richard Eliezer memang berada di Magelang.
Saat itu keberadaan di Magelang untuk mengantar anak Sambo dan Putri masuk sekolah Taruna Nusantara di Magelang, sekaligus merayakan hari jadi pasangan suami istri tersebut yang ke-22. Namun, terjadi keributan pada 7 Juli yang diduga menjadi penyebab pembunuhan Yosua.
Keributan itu disebut terjadi antara Yosua dengan Kuat. Dalam dakwaan hanya disebutkan soal keributan saja, tanpa merinci peristiwa yang terjadi.
Sementara dalam eksepsi Sambo dan Putri, disebutkan bahwa Yosua melecehkan Putri. Kuat memergoki Yosua turun tangga mengendap-endap serta menemukan Putri dalam keadaan ketakutan di lantai 2.
Saat kejadian itu terjadi, Sambo sudah pulang terlebih dahulu ke Jakarta. Sementara rombongan Putri baru pulang pada 8 Juli 2022.
Putri dkk pulang ke Jakarta dalam dua mobil. Mobil pertama ialah Putri dan ART Susi dengan Richard Eliezer. Kuat Ma'ruf yang mengemudikan mobil. Sementara mobil kedua ialah Ricky Rizal dan Yosua.
Di hari yang sama, mereka tiba di Jakarta tepatnya di rumah yang beralamat di jalan Saguling, Jakarta Selatan.
Saat tiba, perencanaan pembunuhan diduga dilakukan Sambo di rumah Saguling, usai dia mendapat cerita kejadian Magelang.
Tak lama kemudian, Putri, Yosua, Ricky Rizal, Kuat, dan Eliezer naik mobil dan berangkat ke rumah di jalan Duren Tiga. Peristiwa saat menuju rumah Duren Tiga itu kemudian didalami oleh hakim kepada Kuat, selaku sopir keluarga Sambo yang juga ada di lokasi.
"Cerita saudara itu berbelit. Akhirnya Saudara duduk di belakang (mobil) sama siapa?" tanya hakim di PN Jakarta Selatan, Senin (5/12) kemarin.
"Sama Om Richard (Eliezer)," jawab Kuat yang hadir sebagai saksi untuk terdakwa Eliezer dan Ricky Rizal.
"Putri Candrawathi sudah masuk?" tanya hakim.
"Seingat saya sudah duduk," jawab Kuat.
"Siapa yang ajak Yosua?" tanya hakim.
"Saya tidak tahu," jawab Kuat.
"Kemarin ajudan bilang ketika bos berangkat, maka ajudan harus siap maka Yosua langsung datang? Ricky nyetir mobil, Richard duduk di belakang. Artinya perencana itu sudah ada," tanya hakim.
Perencanaan yang dimaksud yakni pembunuhan Yosua. Dia tewas dieksekusi di Rumah Duren Tiga.
"Kalau perencanaan saya gak tahu," jawab Kuat.
"Saya gak tahu kan? Gak apa-apa kamu gak perlu tahu, kamu gak perlu ngaku di sini?" tanya hakim.
"Saya ngomong apa adanya Yang Mulia," jawab Kuat.
Hal itu yang dinilai hakim janggal. Sebab, Kuat mengaku tak tahu soal adanya perencanaan pembunuhan. Tapi dia sigap untuk langsung naik mobil.
Hakim nampak tidak percaya dengan jawaban dari Kuat. Hakim menilai ada hal yang ditutupi oleh sopir Sambo tersebut.
"Tapi kan ada yang lucu, Saudara mencoba menutupi sesuatu yang sudah nampak. Cerita Eliezer kemarin itu sudah jelas, dia dipanggil disuruh menembak Yosua di 46. Saudara kenapa ikut, karena kamu sudah tahu sebelumnya," kata hakim.
"Richard dipanggil Pak Ferdy Sambo saya tidak tahu, Ricky dipanggil pun saya tidak tahu," jawab Kuat.
"Terus kenapa kamu kenapa ada di 46 (TKP)?" tanya hakim.
"Karena saya diajak," jawab Kuat.
Saat itulah, hakim curiga bahwa rencana pembunuhan Yosua sudah disusun sejak di Magelang. Sebab, sosok Kuat turut diajak saat berpindah dari rumah Saguling ke Duren Tiga.
"Bukan kamu diajak, karena kamu saksi yang menyaksikan bagaimana Yosua di Magelang kan begitu. Makanya saya bilang, Perencanaan ini sudah ada sejak di Magelang. Makanya Ketika Yos diisolir, dipisahkan sama Putri Candrawathi, itu sudah direncanakan memang," duga hakim.
"Kalau itu Saya tidak tahu," jawab Kuat.
"Terserah Saudara," kata hakim.
Hakim pun kembali mencecar Kuat. Termasuk soal busana yang dikenakan oleh para pihak saat itu, salah satunya Putri. Putri disebut saat datang ke Duren Tiga mengenakan sweater cokelat. Kuat saat itu mengantar Putri ke kamar karena dia yang membawakan tasnya.
"Ke mana Richard?" tanya hakim.
"Saya gak perhatiin, setelah itu saya tutup pintu (rumah)," jawab Kuat.
"Kenapa harus ditutup?" tanya hakim.
"Kan sudah sore Yang Mulia," jawab Kuat.
"Kan ada Kodir? (ART Sambo-Putri)," tanya hakim.
"Waktu itu saya tidak melihat Kodir dan kebiasaan saya waktu kerja. Itu saya tutup pintu karena kebiasaan saya di rumah," jawab Kuat.
"Saudara itu lucu, kemarin di CCTV kita lihat sama-sama kodir nampak. Saudara mengatakan di sini saya gak lihat kodir," ungkap hakim.
"Waktu itu saya tidak memperhatikan, waktu di CCTV saya baru ngeh ada Kodir," jawab Kuat.
"Pandai memang Saudara ini," kata hakim.
Kemudian hakim menanyakan soal posisi Sambo di rumah Duren Tiga. Saat itu, dia mengaku bertemu dengan Sambo di daerah dapur. Saat itu, Sambo menanyakan di mana Yosua. Dia pun meminta Kuat memanggil Yosua.
"Ricky sama Yos di mana?" tanya hakim.
"Saya tidak tahu. Saya turun kan langsung masuk ke dalam sama Ibu," jawab Kuat.
"Kenapa kamu keluar?" tanya hakim.
"Ya kalau di dalem gak keliatan," jawab Kuat lagi.
"Artinya sudah dibagi tugas memang si Ricky bagian jagain Yos, kan begitu. Kalian sudah merencanakan dari awal," ungkap hakim.
Setelahnya, peristiwa penembakan pun terjadi. Sambo sudah menunggu di lantai 1 rumah. Eliezer turun dari lantai 2 ke lantai 1 sudah dengan mempersiapkan senjata. Saat Kuat dan Ricky bersama Yosua masuk ke rumah, eksekusi pun dilakukan. Yosua tewas.
