Saat Hujan Es dan Petir Guncang Venue KTT G20 di Johannesburg

22 November 2025 23:20 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saat Hujan Es dan Petir Guncang Venue KTT G20 di Johannesburg
Pagi itu, Sabtu (22/11), Johannesburg memulai harinya dengan keanggunan yang sederhana. Matahari menyelimuti kawasan venue KTT G20 dengan cahaya keemasan.
kumparanNEWS
Suasana saat hujan es hantam venue KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana saat hujan es hantam venue KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
ADVERTISEMENT
Pagi itu, Sabtu (22/11), Johannesburg memulai harinya dengan keanggunan yang sederhana. Matahari menyelimuti kawasan venue KTT G20 dengan cahaya keemasan. Udara hangat pun mengalir pelan.
ADVERTISEMENT
Namun memasuki siang hari, tanda-tanda perubahan mulai muncul. Awan menggantung rendah, menciptakan warna kelabu yang menutupi cerahnya pagi. Angin yang tadinya ramah berubah menjadi hembusan kuat, menggoyangkan tenda-tenda dan peralatan liputan.
Menjelang sore, jawaban itu datang dengan cepat. Langit yang semula pudar berubah pekat, menjelma menjadi kubah gelap yang menutup seluruh atap kota.
Seorang pria berdiri di samping lapangan rumput yang tertutup es batu di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Esa Alexander/Reuters
Dalam hitungan menit, hujan rintik jatuh pelan, seperti mengetuk bumi sebagai peringatan pertama. Lalu intensitasnya meningkat, hingga akhirnya butiran es mulai berjatuhan, memantul di atas aspal dan kanopi venue.
Beberapa media yang sedang melakukan liputan di area luar tak butuh waktu lama untuk mengambil keputusan. Mereka segera mengemasi peralatan, bergeser masuk ke dalam venue, mencari perlindungan dari butiran es yang semakin rapat.
ADVERTISEMENT
Namun, beberapa fotografer yang masih berada di area luar tak melewatkan kesempatan itu. Mereka mengarahkan lensa ke langit dan ke butiran es yang memantul di tanah.
Denting-denting es yang menghantam tanah terdengar seperti ribuan jarum kecil menghantam kota secara bersamaan.
Di layar gawai, suhu menunjukkan angka 24 derajat Celsius. Meski tak terlalu dingin, angin dan hujan es membuat udara terasa jauh lebih menusuk dari yang tertera. Sementara itu, langit terus menumpahkan bebannya tanpa jeda.
Media yang sempat bertahan di halaman luar akhirnya ikut mengungsi. Tas kamera dijinjing, tripod dilipat tergesa. Mereka berlarian kecil ke dalam gedung, berusaha melindungi peralatan liputan yang rentan rusak. Aroma tanah basah bercampur angin dingin masuk bersama mereka ke dalam ruangan, membawa cerita dari luar.
Sejumlah peserta dan jurnalis memotret dan mengambil video saat hujan es batu pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Esa Alexander/Reuters
Di tengah keriuhan hujan es, suara petir menggema keras. Dentumannya membelah udara seperti palu raksasa menghantam langit. Getarannya begitu kuat hingga kamera para jurnalis yang masih menyala bergetar.
ADVERTISEMENT
Sore itu, Johannesburg memberikan kejutan yang tak tertulis dalam agenda KTT G20. Di antara diskusi global dan diplomasi tingkat tinggi, alam menunjukkan bahwa ia pun punya caranya sendiri untuk berbicara.