Saat Jalan Kampung Disulap Jadi Lapangan Bola Tempat Anak Menteng Mengejar Mimpi

Tak ada lapangan bukan berarti tak bisa bermain sepak bola. Di lingkungan padat penduduk RT 09 RW 08, Kelurahan Menteng Jaya, Jakarta Pusat, jalan yang biasanya dipenuhi lalu-lalang kendaraan disulap menjadi lapangan sepak bola sederhana bertuliskan "Liga Aspal".
Garis lapangan dari sapuan cat putih membentang di atas permukaan aspal, sementara dua gawang berdiri di kedua ujung jalan. Tak ada rumput hijau ataupun tribun.
Setiap sore akhir pekan, sorak-sorai warga memenuhi gang sempit, berselingan dengan suara kereta api yang melintas. Riuh semangat pertandingan terasa di tengah padatnya permukiman. Lorong-lorong permukiman pun berubah menjadi tribun dadakan.
Ruang itu lahir dari gotong royong warga untuk menghadirkan wadah bermain di tengah padatnya permukiman.
Ketua Karang Taruna RW 08 Kelurahan Menteng Jaya, Andhika Prasetia atau yang akrab disapa Odoy, mengatakan nama "Liga Aspal" lahir dari kondisi lingkungan mereka yang memang tidak memiliki lapangan.
"Kalau Liga Aspal sendiri kan ini karena kita mainnya di aspal ya, karena memang di Menteng Jaya ini ruang lapangannya itu terbatas banget bahkan nggak ada gitu di RW kita," kata Odoy saat ditemui di lokasi, Minggu (5/7).
Menurutnya, karena seluruh pertandingan dimainkan di atas jalan beraspal, nama Liga Aspal pun dipilih sebagai identitas kompetisi tersebut.
"Mungkin makanya kenapa akhirnya Liga Aspal karena memang kita mainnya di aspal gitu makanya timbullah nama Liga Aspal itu," ujarnya.
Berawal dari Keresahan Warga
Odoy bercerita, Liga Aspal berawal dari keresahan melihat anak-anak di lingkungan RW 08 yang hampir setiap sore bermain sepak bola di jalan karena tidak memiliki lapangan.
"Kalau munculnya Liga Aspal ini karena memang sebenernya keresahan anak-anak juga sih, keresahan anak-anak muda di sini juga,” katanya.
Menurutnya, pemandangan itu hampir selalu terlihat setiap hari.
"Kalau setiap hari di sini kayak gini nih sore hari gini tuh bahkan nggak cuma di hari Minggu, bahkan Senin sampai Minggu tuh ngelihat anak-anak main bola setiap sore,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Karang Taruna bersama pengurus RT akhirnya berinisiatif membuat wadah yang lebih terorganisasi.
"Jadi kenapa nggak kita wadahin aja gitu kan untuk bisa jadi ditingkatkan lagi lebih dibikin kompetisi lagi gitu” ucapnya.
Odoy mengatakan, Liga Aspal mulai digelar pada 20 Juni lalu. Sebelum kompetisi berlangsung, panitia melakukan berbagai persiapan selama kurang lebih dua pekan.
"Persiapannya tuh kayak semisal kayak kita cari tim, cari gawang, kesiapan juga kayak biaya-biaya yang kira-kira kebutuhannya tuh apa aja sih untuk di acara Liga Aspal ini,” paparnya.
Turnamen perdana tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang terbagi ke dalam lima tim. Seluruh peserta diprioritaskan berasal dari lingkungan RW 08 dan sekitarnya dengan batas usia maksimal 13 tahun lima bulan.
Antusiasme warga, kata Odoy, menjadi hal yang paling berkesan selama Liga Aspal berlangsung.
"Kalau ngomongin antusias ya sebenarnya udah nggak bisa ditolok ukur sih karena antusiasnya antusias banget gitu bahkan nggak cuma pemain yang bola bahkan warganya juga orang tuanya juga ikut antusias sih,” ucapnya.
Meski dimainkan di atas jalan beraspal, kata Odoy, panitia menerapkan aturan keselamatan yang cukup ketat.
"Walaupun main di aspal tapi secara aturan kita bener-bener ketat diwajibkan pake sepatu, diwajibkan kaos kaki panjang terus pake deker juga terus pake seragam juga. Semisal pun timnya nggak punya seragam kita pakein rompi,” katanya.
Selama pertandingan berlangsung, akses jalan juga diatur agar aktivitas warga tetap berjalan.
"Sebelum dimulainya pertandingan kita memang udah pengumuman ke warga bahwa setiap Sabtu Minggu akan ada kegiatan sepak bola. Jadi warga pun udah tahu jadwal itu, kalau misal naik motor ya mereka muter lewat gang lain,” tuturnya.
Ingin Manfaatkan Lahan Tidur KAI
Di balik meriahnya Liga Aspal, warga RW 08 masih menyimpan harapan memiliki lapangan sepak bola yang layak. Selama ini, jalan lingkungan menjadi satu-satunya ruang yang bisa dimanfaatkan untuk bermain.
Odoy mengatakan, Karang Taruna sebenarnya pernah mengajukan pemanfaatan lahan tidur milik PT KAI yang berada tak jauh dari permukiman. Bersama warga, mereka bahkan bergotong royong membersihkan lahan tersebut selama sekitar tiga bulan.
Namun, setelah lahan selesai dibersihkan, usulan itu justru mendapat penolakan.
"Pas kita masuk pertama itu nggak dibales sama sekali. Tapi ketika udah bersih, udah rata dengan tanah, surat KAI baru keluar. Isinya pasal-pasal, seolah-olah kita mau ambil lahannya,” katanya.
Odoy menjelaskan, pemanfaatan lahan itu ditujukan dengan harapan agar tersedia ruang publik yang bisa dimanfaatkan bersama.
"Harapannya sih agar KAI ini bisa pendekatannya secara emosional lah, pendekatannya secara lebih kita diskusi lah sebenernya kebutuhan yang ada di masyarakat di warga ini tuh seperti apa sih,” ujar Odoy.
Odoy mengatakan, keberadaan ruang terbuka juga diyakini dapat menjadi wadah aktivitas positif bagi warga, terutama anak-anak dan remaja. Apalagi, wilayah RW 08 berbatasan dengan kawasan yang dahulu dikenal rawan tawuran.
"Nah dulu tuh di situ sering banget tawuran kan. Nah mungkin kalau kita bisa manfaatkan lahan itu buat anak-anak main bola, ibu-ibu bisa main senam, terus juga bapak-bapaknya bisa kumpul-kumpul. Semoga itu jadi bermanfaat, anak-anak juga jadi punya kegiatan yang positif," ujarnya.
Ia menilai selama ini keterbatasan ruang membuat anak-anak kesulitan menyalurkan hobi dan berekspresi.
"Karena ruangnya terbatas, anak-anak susah main bola. Jadi mereka kurang punya ruang berekspresi,” katanya.
Menurutnya, lahan tidur itu dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari bermain sepak bola, senam, hingga ruang berkumpul warga.
"Kalau kita bisa manfaatkan lahan itu buat anak-anak main bola, ibu-ibu bisa main senam, terus juga bapak-bapaknya bisa kumpul-kumpul. Semoga itu jadi bermanfaat, anak-anak juga jadi punya kegiatan yang positif,” ujarnya.
Odoy berharap, PT KAI dapat membuka ruang dialog dengan warga agar lahan tidur tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
"Semisal pun emang akhirnya nggak boleh juga kita nggak maksa. Se-minimal dibersihin lah biar nggak jadi kotor banget dan jadi tanah berukar. Soalnya banyak hewan juga, ada ular lah ada apa lah,” ucapnya.
Bagi Odoy, Liga Aspal bukan sekadar turnamen sepak bola, melainkan awal dari mimpi menghadirkan ruang bermain yang layak bagi warga.
Ia berharap kompetisi tersebut terus berlanjut dan menjadi tempat lahirnya bibit-bibit pesepak bola dari gang-gang sempit Menteng Jaya.
"Harapan besarnya juga bisa mereka tuh apa yang mereka cita-citakan mungkin jadi pemain bola profesional bisa dimulai dari aspal tapi nanti juga bisa main di rumput, rumput Gelora Bung Karno,” tutupnya.
